
TAKENGON | ACEHHERALD.com –
BUPATI Aceh Tengah, Shabela Abubakar melepas keberangkatan pengiriman perdana tembakau gayo (bakong gayo) ke Medan Sumatera Utara.
Pengiriman perdana tembakau sebanyak 2,5 Ton ini dilepas oleh Bupati Aceh Tengah, Drs. Shabela Abubakar didampingi sejumlah pimpinan OPD terkait antara lain Kepala Dinas Pertanian Nasrun Liwanza dan Kepala Perdagangan Koperasi dan UKM Joharsyah, bertempat di Kantor APTI Aceh Tengah di kawasan Kemili, kemarin, Minggu (27/09).
Hal ini disampaikan oleh Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Aceh Tengah, Sukurdi Iska kepada Aceh Herald, Senin, (28/09/20).
Menurut Sukurdi, kawasan Dataran Tinggi Gayo, utamanya Kabupaten Aceh Tengah sangat cocok untuk dilakukan pengembangan berbagai varietas tanaman, baik buah-buahan maupun hortikultura.
Namun, kata Sukurdi, pihaknya kini tengah melakukan riset terhadap varietas terbaru yang nantinya sangat layak untuk dikembangkan di kawasan berhawa sejuk dengan ketinggian sekitar 1800 Mdpl ini. Varietas baru tersebut adalah komoditas tembakau varietas White Barley. Pengembangannya saat ini dilakukan oleh para petani tembakau di bawah binaan Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Aceh Tengah.

Sukurdi, yang juga merupakan anggota DPRK Aceh Tengah dan juga Ketua Koperasi Gayo Mitra Jaya, menyatakan, pihaknya kini sedang mengembangkan tembakau jenis White Barley pada lahan yang tersebar di beberapa kecamatan di Aceh Tengah. “Ini adalah pengiriman daun tembakau perdana, sebanyak 2,5 ton ke PT. Mitra Tata Usaha Bersama, sebuah perusahaan rokok putih di Sumatera Utara” kata Sukurdi.
Lebih lanjut, Sukurdi mengatakan, daun tembakau yang dikirim tersebut masih merupakan hasil percobaan dan ditanam petani perorangan. “Saat ini tahap penanaman kedua sedang kita lakukan di lahan seluas 250 hektar di Aceh Tengah dan 80 hektar di Bener Meriah, dengan perkiraan panen pada Februari atau Maret tahun depan” lanjutnya.
Perusahaan di Medan itu, kata Sukurdi telah mendesak pihaknya untuk mengirim daun tembakau sebab berdasarkan hasil tes laboratorium, grade sampel tembakau memperoleh nilai 2,9. “Mereka antusias terhadap tembakau kita, padahal awalnya sangat susah karena petani masih menggunakan metode masih tradisional, setelah gagal baru beralih sistem lebih modern, tembakau kita sangat bagus kualitasnya dan dapat mencapai 3 meter tingginya” ujarnya.
Dulu, cerita Sukurdi, pengembangan tembakau ini awalnya digagas bersama Bupati Shabela dengan berkunjung ke Karo, kemudian dilanjutkan dengan kesepakatan dengan perusahaan, jika grade tembakau mencapai nilai 3 maka tidak perlu dicampur lagi dengan tembakau Amerika. “Ternyata di Aceh Tengah sangat cocok untuk dikembangkan” tutupnya.
Sementara itu, Bupati Aceh Tengah, Drs. Shabela Abubakar menyatakan sangat bangga bahwa komoditas pertanian di Kabupaten yang dipimpinnya sejak akhir Tahun 2017 kembali mampu menerobos pasar tingkat nasional dan bahkan internasional. “Kami yakin, tembakau dari Gayo akan kembali bangkit seperti era tahun 80 an, dimana saat itu toke tembakau sangat terkenal melebihi toke kopi” kata Shabela optimis.
Mewabahnya virus corona saat ini, Shabela menyatakan menanam tembakau adalah salah satu alternatif bagi masyarakat sebab harga kopi dan hortikultura yang terpuruk karena permintaan kurang.
“Apalagi saat ini kita sudah menjalin kerjasama dengan perusahaan rokok, walaupun yang diminta adalah daun tembakau, tapi tembakau rajang maupun tembakau hijau tetap ramai peminatnya” jelasnya.
Sebagai salah satu sentra pemasok tembakau, Shabela meminta agar dilakukan pengemasan dan branding tembakau dari Gayo dengan baik sehingga tidak diklaim oleh daerah dan pihak lain. “Beberapa masyarakat kita juga sudah memproduksi cerutu Gayo, kita minta untuk memakai cukai tembakau dan dan diurus izinnya agar mudah dipasarkan” harapnya.
Terakhir Shabela meminta perjanjian atau MoU dengan perusahaan yang akan berakhir bulan November tahun ini untuk dilanjutkan kembali.
PENULIS : ROBBY (ACEH TENGAH/BENER MERIAH)




