BANDA ACEH | ACEHHERALD.Com – Lenny Novita, Asisten Direktur di Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Aceh, Bidang Promosi dan Kerja Sama Pengembangan Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), menyarankan agar ibu-ibu membeli secara bijak, juga bijak memilih, kemudian bijak dalam mengonsumsi, dan bijak bertransaksi.
Saran yang disampaikan Asisten Deputi di Perwakilan BI Aceh, ini beralasan. Pasalnya dari ibu-ibu di dapur juga bisa mengendalikan inflasi. Kendali itu ya, melalui 4 poin saran tadi.
“Cabai merah, termasuk salah satu indikator pemicu inflasi dan jika ibu-ibu bijak berbelanja dan mengonsumsinya, maka dipastikan ibu-ibu telah berhasil mengendalikan inflasi tersebut,” kata Lenny Novita dihadapan puluhan ibu-ibu dari berbagai lembaga wanita yang mengikuti Cooking Class, Dapur Cerdas Inflasi di Kuala Village, Syiah Kuala, Kota Banda Aceh, Jum’at (10/10/2025).
Ia menyebutkan dengan kemampuan kaum ibu mengendalikan inflasi berarti telah menjaga kestabilan harga pangan, karena bagaimana pun bahan bumbu dapur dan kebutuhan pokok itu mempengaruhi atau memicu inflasi.
Selain saran yang disebutkan tadi, Lenny Novita juga memberikan empat sasaran mengantisipasi inflasi, yakni:
1. Ketersediaan pasokan atau stok cukup;
2. Keterjangkauan harga;
3. Distribusi lancar; dan
4. Komunikasi efektif.
Ia mencontohkan bahwa di Gampong Lamjabat, Kota Banda Aceh, ada desa binaan BI tahun 2022, melalui urban farming (dibagikan bibit cabai ke ibu rumah tangga). Dan gerakan tanam cabai nya masih berlanjut hingga sekarang. Padahal, kegiatan empat tahun itu, bertemapan dengan mahalnya harga cabai.
“Kita gak nyangka aja, kalau ibu-ibu di desa itu masih konsisten menanam cabai. Dan wow…perminggu satu ibu rumah tangga ini, menghasilkan Rp700.000,” ujarnya.
Senada itu, Ketua TP PKK Kota Banda Aceh, Desi Maulida mengatakan jika terjadi kenaikan harga-harga bumbu dapur atau bahan pokok, ibu-ibu tak perlu panik, namun bisa menyikapi nya dengan cerdas.
Salah satunya, dengan bijak membeli bumbu dapur atau kebutuhan pokok seperlunya saja atau menggunakan bumbu dapur dari bahan turunan alias hasil olahan.
Ia mengibaratkan inflasi itu seperti api di dapur, jika apinya kecil bisa dikendalikan, namun jika besar jadinya berpengaruh terhadap dapur notabene isi dompet. Makanya, ibu-ibu harus bisa mengendalikan inflasi itu mulai dari dapur.
Selain itu, Ketua PKK Kota Banda Aceh, ini menyarankan agar ibu-ibu cermat dan terencana belanjanya, gunakan bahan lokal, olah sendiri seperti cabai diolah bubuk pasta atau sambal basah disimpan di kulkas, bisa juga tanam bumbu dapur di pekarangan rumah.
Amatan awak media Acehherald.com di lokasi saat chef Muhammad Idris mendemokan masak kare ikan, makanan khas Aceh menggunakan bumbu kering hasil olahan UMKM lokal, antusias ibu-ibu yang hadir cukup tinggi.
Semua ibu-ibu fokus perhatiannya pada demo masak chef di acara cooking class nya BI dengan tema dapur cerdas inflasi.
Beberapa dari mereka, mengaku akan mengolah gulai ikan kare seperti yang didemokan chef Muhammad Idris.
Terakhir, setelah selasai masak gulai karenya, ibu-ibu beramai-ramai mencicipi masakan khas Aceh tersebut dengan bumbu rempah lokal yang primadonanya adalah daun kare atau di Aceh disebut on tumurui.




