BLANGPIDIE | ACEHHERALD.com – Biasanya meugang atau punggahan dilaksanakan satu hari, seperti menyambut Ramadhan, hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Kali ini, lain lagi meugang meyambut Idul Adha 1445 H/2024 M di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), berlangsung dua hari, Sabtu-Minggu (15-16/6/2024).
Mak meugang, identik atau ditandai dengan kegiatan penyembelihan hewan ternak kerbau dan sapi dalam jumlah besar di lokasi-lokasi tertentu untuk memenuhi permintaan daging yang meningkat.
Berdasarkan Surat Edaran Bupati Abdya Nomor: 450/740, tanggal 12 Juni 2024 M, bertepatan 05 Zulhijjah 1445 H, ditujukan kepada Para Camat se-Kabupaten setempat, menetapkan bahwa hari meugang menyambut Idul Adha 1445 H jatuh pada hari Sabtu, tanggal 15 Juni 2024.
Surat Edaran yang diteken Pj Bupati H Darmansah, S.Pd. MM., itu selain menetapkan hari meugang, juga mengatur titik lokasi penjualan daging meugang yang dianjurkan di tempat aman, bersih dan tidak mengganggu arus lalu lintas di lingkungan masing-masing.
Sedangkan penetapan 10 Zulhijjah 1445 H, berdasarkan Surat Edaran Bupati Abdya tersebut, tetap berpedoman kepada keputusan Pemerintah RI dalam hal ini Kementerian Agama RI.
Pantauan Aceh Herald.com bahwa pelaksanaan hari meugang Idul Adha tahun ini, memang dilaksanakan hari Sabtu (15/6/2024) yang ditandai kegiatan penyembelihan ternak kerbau dan sapi di tempat tertentu, kemudian dagingnya dijual di banyak titik lokasi yang strategis seperti bahu jalan.
Kenyataannya, kegiatan penyembelihan hewan ternak kerbau dan sapi berlanjut pada hari Minggu (16/6/2024). Lokasi penjualan daging tetap sama, yaitu di bahu jalan raya di kawasan Kota Blangpidie dan Kecamatan Susoh. “Ini berarti hari meugang Idul Adha tahun ini berlangsung dua hari (Sabtu dan Minggu),” kata Mulyadi, warga Blangpidie.
Kendati dua hari, harga daging meugang yang ditawarkan para pedagang bukannya turun atau stabil, tapi justru meningkat. Kalau meugang hari pertama, Sabtu, harga daging rata-rata ditawarkan Rp200.000 per kg, maka pada meugang hari kedua, Minggu, harga daging meningkat Rp20.000 per kg menjadi Rp 220.000 per kg, baik daging kerbau dan sapi.
Yulizar, warga yang sering menyembelih hewan ternak pada hari meugang untuk diperjualbelikan menjelaskan, penyembelihan hewan ternak berlangsung sampai dua hari berturut-turut karena masih ada permintaan daging oleh masyarakat.
“Jika masih ada permintaan daging, maka pedagang tetap menyembelih ternak lagi seperti yang terjadi pada meugang menyambut hari raya haji tahun ini,” katanya.
Soal harga daging yang melambung dikarenakan harga ternak, seperti kerbau di pasaran juga tinggi. Kerbau hidup dengan taksiran daging berjumlah sekitar 120 kg, dihargai Rp 24 juta sampai Rp 25 juta per ekor.
“Memang jika harga daging mencapai Rp220.000 per kg, maka pedagang akan menikmati keuntungan lebih dari perkiraan,” ungkap Yulizar terus terang.
Pantauan media ini bahwa baik meugang hari pertama dan kedua, para pedagang tetap menjadikan bahu jalan raya di sejumlah titik strategis kawasan Kota Blangpidie dan Susoh, sebagai lokasi lapak penjualan daging.
Walhasil bahu jalan berubah menjadi pasar daging meugang. Hal ini sempat dikeluhkan warga setempat. Soalnya, selain terganggunya arus lalu lintas juga sisa-sisa daging yang tertinggal bakalan menebar aroma tidak sedap sehingga menimbulkan kesan jorok.
Penulis: Zainun Yusuf (Aceh Barat Daya)



















