BANDA ACEH I ACEHHERALD.com – Ulama muda yang juga salah seorang da’I terdepan di Aceh, Ustadz Masrul Aidi Lc, kembali mengusulkan, khusus selama pelaksanaan Bulan Ramadhan, azan isya dikumandangkan pada pukul 21.00 WIB atau jam 9.00 malam, terutama dari masjid masjid utama di Aceh. Kebiasaan itu sejak lama telah diberlakukan di Masjidil Haram Mekkah, dimana selama Ramadhan, azan isya dikumandangkan pukul 21.00 WAS. “Kami di dayah dayah di Aceh telah lama menerapkan pola itu, karena agak terburu buru jika shalat isya dilakukan pada saat masuk waktu. Tidak ada larangan jika azan isya dilakukan pukul 21.00 WIB, bahkan lebih muslahat,” ujar Ustadz Masrul.
Menurut alumnus Al Azhar Kairo itu, dengan waktu normal, ada kesan pelaksanaan shalat isya dan tarawih terburu buru, karena berdekatan dengan waktu berbuka puasa dan shalat magrib. Akibatnya, bisa bisa jamaah tidak khusyuk dalam menjalankan ibadah, akibat waktu jeda yang sempit. “Kita ingin agar persiapan jamaah tak terburu buru, sehingga bisa melaksanakan ibadah shalat isya dan tarawih dengan lebih khsyuk. Apalagi jika dikaitkan dengan ‘karakteristik’ shalat tarawih yang harus santai dan tidak boleh terburu-buru,” tutur Ustadz Masrul.
Di sisi lain disebutkan, pemberian waktu yang luang kepada jamaah itu, termasuk memberikan kesempatan untuk ngopi di warung sekalipun. Setelah ngopi langsung ke jamaah isya. Esensinya adalah, jamaah tak lagi ngopi setelah shalat tarawih yang kadang sampai dinihari. Akibatnya, spirit untuk bekerja dan berusaha di bulan Ramadhan malah anjlok, karena tak tidur malam. “Jangan sampai puasa dijadikan alasan untuk terus tidur tiduran sepanjang siang, dengan asalan ibadah. Padahal karena malam begadang di warung kopi atau tempat sejenis,” tutur Pimpinan Dayah Babul Maghfirah Cot Keueung Kutabaro, Aceh Besar itu.
Pada sisi lain, Ustadz Masrul mengaspresiasi organisasi Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) yang konsisten melaksanakan meugang bersama anak yatim dan dhuafa. “Kita berharap, perhatian itu dilakukan secara berkelanjutan dan bila perlu ada qanun untuk perlindungan anak yatim secara permanen, sehingga mereka tidak hanya mendapat perhatian secara sporadis. Terimakasih jika KWPSI konsisten dalam memberikan perhatian, setidaknya setiap meugang yang dihelat oleh KWPSI,” kata Masul Aidi.
Sementara itu, Ketua KWPSI Dosi Elfian SHI dalam kesempatan itu melaporkan, meugang menjelang Ramadhan itu adalah rutinitas KWPSI sejak organisasi itu terbentuk satu dekade lalu. Seperti tahun tahun sebelumnya, meugang tersebut selain dari donasi (ripee) anggota KWPSI, juga ada bantuan tak mengikat dari donatur. “Tahun ini kita kembali mendapat dukungan dari Bank Aceh dan Bank BSI. Alhamdulillah kita akhirnya bisa melaksanakan rutinitas meugang hingga kini secara berkelanjutan,” kata Dosi Elfian.
Ditambahkan, tahun ini daging meugang itu juga disisihkan untuk anak yatim, yatim piatu dari kalangan keluarga wartawan, dan warga sekitar lokasi penyembelihan. Karena itu adalah tradisi dari meugang KWPSI, seperti diakui oleh Munawardi (bendahara KWPSI) serta Cek Midi, selah seorang tetua KWPSI.
Tampak hadir dalam acara meugang yang dirangkai dengan khanduri kuah beulangong itu, Ketua DPRK Banda Aceh Farid Nyak Umar, Ketua PWI Aceh M Nasir Nurdin, serta mantan Dirut Bank Aceh Haizir Sulaiman, dan juga puluhan anggota KWPSI yang terdiri atas kalangan wartawan dan praktsi kampus.