Janda Miskin Padang Kawa Abdya, Kerja Serabutan Antarkan Putrinya ke FH USK Via Jalur Prestasi

TAMPIL dengan pakaian sederhana menutup aurat,  jauh dari kesan mewah. Wanita paruh baya ini tampak ramah dengan siapa pun, meski kemampuan ekonomi terbatas, single parent ini mungkin menjadi inspirasi yang selalu mendukung anak-anak nya mengenyam pendidikan menggapai asa.

Kerasnya hidup mengais rezeki tak menyurutkan wanita mendekati paruh baya ini untuk hanya sekadar berpangku tangan menghidupi anak-anaknya, bahkan lengan baju disingsingkan dengan kerja apapun dilakoni asal sang buah hati bisa menikmati pendidikan hingga ke jenjang lebih tinggi.

Ya…Dia adalah Rismawati, statusnya janda, berumur lebih kurang 45 tahun, tercatat sebagai warga Dusun Sejahtera, Desa/Gampong Padang Kawa, Kecamatan Tangan-Tangan Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya). Raut wajah nya menggambarkan betapa berat beban hidup yang dijalaninya untuk membesarkan anak-anak sampai meraih prestasi.

Sebutlah, Gampong Padang Kawa yang berada di pesisir di Kecamatan Tangan-tangan, yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia, berjarak sekitar tiga kilometer dari akses jalan raya. Sebagian besar warga di sini mengandalkan mata pencaharian dari hasil petani dan nelayan.

Di sudut desa tersebut, ada sebuah rumah kecil yang menempel langsung pada salah satu sisi dinding rumah milik warga setempat yang digunakan sebagai tempat berteduh dari panas dan hujan.

Rumah ini memiliki dua kamar tidur, tanpa plafon dengan perabotan alakadarnya. Begitu juga ruang tamu yang tidak dilengkapi plafon dan tidak ada pula perabotan samasekali termasuk dapur dengan peralatan seadanya.

Kondisi fisik rumah dimakan usia sehingga dinding dari semen cor tampak terkelupas di beberapa bagian. Daun pintu depan tampak renggang dan permukaan lantai rumah masih berupa semen kasar yang mulai copot di sana-sini.

Lebih menyedihkan lagi ketika melihat kondisi dapur yang menyatu dengan sumur sebagai tempat mandi dan mencuci. Salah satu sisi dinding dapur hanya tertutup separuh dan bagian atas dibiarkan terbuka.

Atap seng bangunan dapur sudah berkarat di makan usia, bahkan bertabur lubang, sehingga ketika hujan mengguyur dipastikan permukaan lantai dapur tergenang air yang menembus atap seng yang berlubang.

Bangunan permanen yang layak pakai tampak di sudut ruang dapur rumah digunakan sebagai WC ukuran 2×2 meter yang dibangun menggunakan anggaran desa setempat.

“Rumah ini warisan dari ibu saya yang sudah almarhum. Kebetulan saya anak tunggal,” kata Rismawati ketika dikunjungi Acehherald.com, Sabtu (14/6/2025).

Rumah ini sudah ditempatinya selama puluhan tahun, termasuk sebagai tempat tinggal bersama suami, Muslim (58) yang kemudian pisah cerai. Sebelum berpisah, pasangan ini dikaruniai dua anak perempuan, Wildayani dan Nurhawati.

Setelah pisah, Muslim, mantan suami pindah ke Meulaboh, Aceh Barat, bekerja sebagai pedagang mainan tradisional anak-anak, kemudian meninggal dunia di sana.

Ketika sang ayah meninggal, sulung Wildayani  baru berumur sekitar 13 tahun dan duduk di kelas I SMP Negeri Tangan-Tangan, dan si bungsu, Nurhawati berumur sekitar 11 tahun duduk di kelas V SD Negeri 5 Tangan-tangan di Padang Kawa.

Rismawati akhirnya menjadi orangtua tunggal membesarkan dan mendidik dua orang putri yang sudah yatim. Kemiskinan yang mendera, tidak membuat janda ini menyerah dengan keadaan. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan kelanjutan pendidikan kedua anak nya, janda yang hanya sempat mengenyam pendidikan sampai kelas V Sekolah Dasar (SD), bekerja serabutan.

Baca Juga:  Personel Reskrim Polres Abdya Berusaha Keras Ungkap Motif Tewas Nek Zalika dengan Usus Keluar

Ketika masuki musim turun ke sawah, misalnya, Rismawati bekerja mencabut bibit padi dari tempat pembenihan untuk ditanam di lahan sawah.

Pekerjaan yang sering dilakukan adalah menjemur ikan basah hasil tangkapan nelayan setempat, pekerjaan lain apa saja yang diminta warga sekitar juga rela dikerjakan untuk menyambung hidup.

Hasil pekerjaan tidak tetap ini, selain digunakan memenuhi makan sehari-hari, dan yang lebih panting lagi sebagai biaya pendidikan dua putri yang sangat dicintainya.

Di setiap kesempatan, Ibu dua anak ini,  senantiasa memberi semangat agar dua putrinya  belajar sungguh-sungguh menghadapi tantangan hidup ke depan yang semakin berat.

“Saya, SD pun tak tamat, anak-anak tak bisa seperti itu, harus bisa  sampai lulus pendidikan perguruan tinggi, meski saya orang tak punya,” katanya sambil menatap atap rumahnya.

Support penuh dari ibu yang sangat luar biasa ini  membuat dua putrinya tekun bejalar, meskipun dalam kondisi serba keterbatasan. Beruntung, kedua putrinya termasuk anak pintar. Hal ini terbukti dengan kemampuan keduanya meraih prestasi di semua jenjang sekolah yang di ikuti sehingga mereka mendapatkan beasiswa.

Putri sulung Wildayani, merupakan salah satu siswi berprestasi di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Inovasi Abdya di Blangpidie. Ia lulus di jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) tahun 2022 lalu di Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala (FH-USK) Banda Aceh.

“Tapi, Allah berkehendak lain, anak saya Wilda meninggal dunia karena sakit di semester II Fakultas Hukum. Ia dipanggil Allah dalam usia sekitar 20 tahun,” ungkap Rismawati dengan mata berkaca-kaca.

Tumpuan harapan hanya tersisa pada anak satu-satunya, Nurhawati. Semangat tidak menyerah terus dikobar dalam jiwa sang anak menempuh pendidikan.

Sementara janda miskin ini rela kerja keras asal  putri semata wayangnya itu bisa bersekolah sampai perguruan tinggi.

Dan seperti kakak yang sudah sudah almarhumah, Hawa –panggilan Nurhawati— juga salah seorang siswi berpretasi sejak jenjang  SD, SMP sampai SMA, sehingga lulus daftar sebagai penerima beasiswa dari KIP (Kartu Indonesia Pintar).

Bukan hanya itu, Hawa yang tercatat sebagai siswi SMA Negeri 1 Abdya di Blangpidie, juga berhasil lulus  jalur SNBP tahun 2025  ini di Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala (FH-USK) Banda Aceh, mengulang prestasi sang kakak.

Bukan saja lulus jenjang perguruan tinggi, anak yatim ini juga lulus sebagai penerima beasiswa KIP.

Atas prestasi yang diukir sang putri satu-satunya,  Ia pun sangat bersyukur kepada Allah SWT. Kendati tingkat kesehatannya mulai menurun akibat penyakit gula (DM) yang diderita selama beberapa tahun terakhir, namun janda miskin ini berjanji tetap bekerja sebisa mungkin sampai mengantarkan sang putri meraih sarjana hukum.

Baca Juga:  Nova : Peningkatan Jalan 28,47 KM, Perkuat Ekonomi Gayo Lues – Abdya

“Ia (Nurhawati) bercita-cita menjadi seorang hakim. “Doa Ibu, semoga Allah kabulkan,” ungkapnya pelan.

Empati Pengusaha Kelapa Sawit

Buah kesabaran dan kegigihan dari pahit getir kehidupan yang dijalani Rismawati bersama anaknya, kemudian mendapat empati dari seorang pengusaha kelapa sawit di Kabupaten Abdya.

Salah seorang pengusaha kelapa sawit tersentuh setelah membaca kisah hidup Nurhawati, lulusan SMA Negeri 1 Abdya di Blangpidie yang lulus SNBP tahun 2025  ini di Fakultas Hukum USK Banda Aceh.

Pengusaha ini menyatakan bakal membantu  membiayai kuliah anak yatim yang hidup dengan segala keterbatasan ini sampai selesai mengikuti pendidikan di FH USK Banda Aceh.

Kesediaan membantu Nurhawati sampai selesai menempuh pendidikan perguruan tinggi disampaikan pengusaha sawit tersebut melalui utusannya H. Syamsidik Ibrahim yang secara khusus menemui keluarga Nurhawati di Gampong Padang Kawa, Tangan-Tangan, beberapa waktu lalu.

Kedatangan H. Syamsidik Ibrahim yang juga menjabat Wakil Ketua KADIN Aceh, itu didampingi Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMA Negeri 1 Abdya, Irfan Muliadi, S.Pd,  bersama tiga orang guru lainnya.

Sedangkan Rismawati dan Nurhawati, saat itu didampingi Kepala Desa/Keuchik Padang Kawa, Tarmizi. “Beliau (pengusaha sawit tersebut) sudah melafazkan tentang kesiapan untuk membantu Rp 1,5 juta per bulan sebagai biaya hidup Nurhawati sampai selesai mengikuti pendidikan di kampus. Bantuan itu akan ditransfer langsung tiap bulan ke rekening Nurhawati,” katanya.

Lalu, siapa pengusaha yang memiliki kepekaan sosial begitu tinggi tersebut? Ia tak mau namanya diekspose karena dikhawatirkan akan menjadi ria. “Kalau saya tak salah, ada 10 orang mahasiswa lainnya dari keluarga miskin yang di bantu, tapi nama nya tak mau disebut,” kata Sekretaris ICMI Abdya, itu kepada Acehherald.com.

Bukan hanya membantu biaya hidup yatim Nurhawati, pengusaha kelapa sawit di Abdya juga menyerahkan bantuan berupa atap seng beserta paku untuk memperbaiki penutup dapur rumah milik Rismawati yang bocor parah.

Bantuan tersebut juga diantar H. Syamsidik Ibrahim ke lokasi, kemudian diserahkan kepada yang bersangkutan, disaksikan Keuchik Gampong Padang Kawa, Tarmizi, didampingi Ketua Tuha Peut setempat.

Kegetiran hidup dikarenakan perekonomian yang sangat minim tak menyurutkan tekad ibu satu anak ini berjuang dengan segala upaya sehingga mengantarkan putrinya mengenyam pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi dari dirinya.

Begitu pula kegigihan sang anak yang giat belajar dan menerima hidup dengan apa adanya dari kemampuan sang ibu menorehkan empati sang pengusaha,  sehingga kedepannya tidak perlu pusing mikirin biaya hidup dan kuliah hingga tamat.

Ibu dan anak pun bertekad memegang amanah dari sang pengusaha untuk mewujudkan mimpi menjadi hakim notabene nantinya bisa mengangkat derajat perekonomian mereka sekaligus status sosial berubah dari tak berpunya hingga ke sosial berpenghasilan.

Semoga impian putri dari seorang ibu yang tampil sederhana dengan keras nya berusaha mengarungi hidup ini, bisa terwujud seperti doa Rismawati. (*)

Penulis: Zainun Yusuf (Aceh Barat Daya)