Potret Ekonomi Aceh Juli 2025, Inflasi Naik Ekspor Turun dan Petani Menguat

Sementara secara tahunan, inflasi Aceh mencapai 3,00 %, didorong lonjakan harga beras, emas perhiasan, rokok kretek mesin, serta komoditas ikan laut seperti dencis dan tongkol.
Pelaksana Tugas ( Plt) Kepala BPS Aceh, Tasdik Ilhamudin, di kegiatan bulanan bersama awak media, Jum’at (1/8/25). Foto: Ist

Iklan Baris

Lensa Warga

BANDA ACEH | ACEHHERALD.Com – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh, mengungkapkan ekonomi Aceh pada Juli 2025, mencakup inflasi, nilai tukar petani (NTP), serta ekspor-impor. Hasil pemantauan di lima daerah, yakni Aceh Tengah, Meulaboh, Aceh Tamiang, Banda Aceh, dan Lhokseumawe, mencatat inflasi bulanan (month-to-month) sebesar 0,68 persen.

Selain itu, ada beras, bawang merah, daging ayam ras, ikan bandeng, serta bensin menjadi kontributor utama terhadap kenaikan harga pada bulan ini. Sementara secara tahunan (year-on-year), inflasi Aceh mencapai 3,00 persen, didorong oleh lonjakan harga beras, emas perhiasan, rokok kretek mesin, serta komoditas ikan laut seperti dencis dan tongkol.

Menurut Pelaksana Tugas Kepala BPS Aceh, Tasdik Ilhamudin, inflasi tahunan tertinggi terjadi di Meulaboh sebesar 3,82 persen. Sebaliknya, Banda Aceh, inflasi tahunan terendah, yakni 1,97 persen.

Untuk inflasi bulanan, Aceh Tamiang menjadi daerah dengan angka tertinggi (1,00 persen), sedangkan Meulaboh menjadi yang terendah (0,39 persen), ungkapnya, Jumat (1/8/2025).

Di tengah tekanan harga kebutuhan pokok, BPS Aceh juga mencatat perkembangan positif dari sektor pertanian. Nilai Tukar Petani (NTP) Aceh naik 2,70 persen dari bulan sebelumnya, menjadi 126,52. Indeks harga yang diterima petani (It) mencapai 152,43 naik 2,95 %, didorong oleh peningkatan harga gabah, kopi, dan pinang di tingkat petani.

Namun di sisi lain, indeks harga yang dibayar petani (Ib) juga naik, meski tipis, sebesar 0,24 persen. Beberapa komoditas konsumsi yang ikut mendongkrak biaya hidup petani di antaranya adalah beras, bawang merah, dan rokok kretek.

Tasdik menyampaikan bahwa NTP menjadi indikator penting dalam menilai daya beli petani terhadap kebutuhan konsumsi maupun alat produksi. “Semakin tinggi NTP, semakin kuat pula daya beli petani,” ujarnya.

Baca Juga:  Pj Gubernur Ajak Lembaga Nasional di Aceh Perkuat Kolaborasi untuk Kelancaran Pembangunan

Dari sisi perdagangan luar negeri, Aceh mencatat nilai ekspor sebesar 48,71 juta USD pada Juni 2025. Angka ini turun 3,16 persen dibanding bulan sebelumnya. India masih menjadi pasar ekspor utama, dengan kontribusi terbesar berasal dari batubara (31,77 juta USD), disusul kopi, rempah-rempah, produk kimia, serta daging dan ikan olahan.

Sementara itu, nilai impor Aceh turun tajam sebesar 64,48 persen, hanya sebesar 21,17 juta USD. Seluruh impor bulan Juni berasal dari Amerika Serikat, berupa gas butana/propana.

Dengan ekspor yang jauh lebih besar dari impor, neraca perdagangan Aceh mencatat surplus sebesar 27,54 juta USD. Meskipun ini tampak sebagai kabar baik, ketergantungan yang tinggi terhadap komoditas batubara menjadi catatan penting. Apalagi, tren global menuju energi bersih bisa menjadi ancaman bagi ekspor Aceh di masa depan.

Pihak BPS Aceh menegaskan komitmennya untuk menyajikan data statistik yang berkualitas, akurat, dan tepat waktu. Data ini diharapkan menjadi acuan bagi pemerintah dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembangunan di Aceh.

Namun lebih dari itu, data ini juga menjadi cermin atas tantangan nyata di lapangan. Ketika harga kebutuhan pokok naik dan ekspor mulai tertekan, pemerintah perlu merespons dengan langkah strategis yang menyentuh akar persoalan.

Aceh butuh keberpihakan terhadap sektor produktif dan langkah konkrit memperkuat daya tahan ekonomi rumah tangga.

Laporan: Andika Ichsan

Kata Kunci (Tags):
badan pusat statistik, bps aceh, inflasi, potret ekonomi aceh, pertumbuhan ekonomi,

Berita Terkini

Haba Nanggroe