
LANGSA I ACEHHERALD.com – Virus Corona atau Covid-19 yang sudah mengglobal bukan hanya merenggut nyawa manusia, namun juga ikut mengguncang sektor dunia usaha.
Salah satu usaha yang ikut terimbas virus ini adalah daur ulang sampah menjadi pupuk kompos milik Zarkasyi (48), warga Gampong Lengkong Kecamatan Langsa Baro, Kota Langsa.
Sebagai pengusaha kecil, Zarkasyi mengaku kian merana terlebih di saat pandemi Covid-19. “Karena ketiadaan modal, usaha saya kian terpuruk dari hari ke hari,” ujar Zarkasyi, Minggu (31/05/2020).

Ayah tiga anak ini membangun sebuah gudang ukuran 10×10 meter, disamping rumahnya sejak 2016 lalu. Awalnya, usaha itu berjalan lancar meski omsetnya tidak seberapa.
Namun sejak virus ini mewabah, produksi pupus kompos terjun bebas karena masyarakatpun kurang terpikir untuk membeli hasil olahan Zarkasyi.
Bukan tanpa alasan Zarkasyi membangun pabrik daur ulang sampah. Awalnya ia prihatin melihat sampah rumah tangga begitu banyak di Kota Langsa. Malah tiap hari terus meningkat hasil buangan limbah rumah tangga itu.
Zarkasyi tahu bahwa pembuangan sampah adalah tugas dinas kebersihan. Tapi ada saja penumpukan dimana-mana. Oleh karena itu, ia mulai berpikir bagaimana menjadikan sampah sebagai sumber finansial.
Salah satu cara adalah dengan mendaur ulang. Sejak itulah ia membuat gudang sebagai pabrik pengolahan sampah. Dengan bekal
Sebuah becak motor, ia mengelilingi Kota Langsa mengutip sampah, lalu dikumpulkan untuk selanjutnya diolah.
Sampah berbahan plastik dan benda keras dipisahkan. Sisanya seperti sisa makanan, sayuran serta buah buahan yang tidak layak konsumsi dimasukkan pada mesin penggiling (mesin komposter) yang digerakkan motor mesin sederhana.
Ada lima unit komposter dengan kemampuan olahan hingga empat ton sampah dalam sebulan. Hasilnya, 60 liter kompos cair dan 300 kilogram kompos padat.
Dikatakan Zarkasyi, sejak usahanya berputar empat tahun lalu, sudah ada petinggi Pemko Langsa datang melihat.
Pernah waktu itu Wakil Walikota Langsa Marzuki Hamid bersama pejabat terkait datang ke tempat usahanya. Waktu itu, pabrik daur ulang ini hendak dijadikan salah satu bahan penilaian. Namun sampai saat ini, jangankan bantuan, dinilai pun tidak jadi sama sekali, terang Zarkasyi polos.
Terkait hasil olahannya, Zarkasyi mengaku sudah banyak yang diperjual belikan di beberapa toko pertanian seputaran kota Langsa hingga Kota Kuala Simpang, Aceh Tamiang.
Namun karena keterbatasan modal, produksi hingga pemasaran hanya sebatas kemampuan kantong pribadi. “Sekarang, kalau ada yang berminat tanam modal silakan. Insya Allah saya akan berusaha lebih keras lagi agar produk pupuk kompos ini bisa berkembang dengan harga jual berbanding terbalik dengan pupuk sintetis,” tantang Zarkasyi penuh semangat.
Kini, adakah donatur atau pemodal yang ingin berinvestasi? Ataukah timbul perhatian Pemko Langsa untuk memodali usaha rakyatnya yang kini timbul tenggelam dalam badai corona? Wallahua’lam.
Penulis Ridwan Suud