Banda Aceh | Acehherald.com – Terputusnya jalur transportasi darat yang menghubungkan wilayah timur Aceh akibat hantaman badai Siklon Senyar menjadi sorotan khusus the Aceh Institute (AI). Hal tersebut diungkapkan oleh Lukman Age, Pj Direktur The Aceh Institute, dalam rilis yang diterima Acehherald, Minggu (30/11).

“Pemerintah Aceh sangat lemah dalam memaksimalkan jalur distribusi laut, sebab ini menjadi jalur strategis saat (transportasi) darat lumpuh. Minimnya armada, rute, dan infrastruktur pelabuhan dalam situasi bencana seperti ini, seharusnya tidak terjadi. Bagaimana jika situasi darurat berlanjut lebih lama,” sorot Lukman Age.
Ia juga menyebutkan, Aceh sudah berulangkali dihantam bencana besar. Dari krisis ketika konflik, dimana jalur darat tidak aman, hingga melewati krisis kemanusiaan terbesar dalam sejarah modern—tsunami 2004.
“Seharusnya pengalaman panjang ini mampu membentuk kesiapsiagaan yang kuat di semua tingkatan pemerintahan. Tetapi, di lapangan menunjukkan bahwa kemampuan kita mengubah pengalaman itu menjadi sistem mitigasi, respons cepat, dan kapasitas kelembagaan yang tangguh masih sangat terbatas,” paparnya lagi.
Untuk itu, ia menyerukan, agar pemerintah mengambil pelajaran serius dari beragam bencana tersebut. “Kami menyerukan kepada pemerintah dan seluruh institusi kebencanaan untuk mengambil pelajaran serius dari peristiwa ini, memperkuat tata kelola penanggulangan bencana, dan memastikan bahwa krisis seperti ini tidak lagi mengejutkan atau mematahkan kesiapan kita.”
AI sendiri mencatat peristiwa hidrothermologi yang terjadi pada 26 dan 27 November tersebut telah berdampak pada lebih 500.000 warga. “29 jembatan terputus, lebih 21 ribu jiwa penduduk mengungsi dan ratusan kilometer jalan rusak atau terendam banjir hingga tidak dapat dilewati.”
Untuk itu, AI menegaskan perlu adanya jalur alternative, dalam hal ini transportasi laut sebagai upaya pemercepatan penanganan dan distribusi bantuan dalam menghadapi masa tanggap darurat.




















