WAKTU menunjukkan pukul 22.17 WIB, Sabtu 20 Desember 2025, saat double kabin kami terkunci di lintas—yang kemudian saya tahu—namanya Tebing Gajah Desa Burni Pasee Kecamatan Permata, Kabupaten Bener Meriah. Saya membuka pintu mobil dan sedikit melompat keluar. Namun tubuh ini seperti terhenyak, saat disambut udara dingin 17 derajat celcius, karena tubuh ini hanya berbalut t-shirt lengan pendek.
Secepatnya saya menyambar jaket levis yang telah saya siapkan di ransel hitam Kalibre dan langsung mengenakannya hingga badan terasa sedikit hangat. “Daerah ini yang terdingin di tanah Gayo,” kata Bahtiar, seorang pemilik kedai, saat kami tiba untuk sekadar melepas lelah dan penat. Udara dingin menusuk membuat ‘kampung tengah’ menuntut untuk di isi. Lalu kami bersepakat melalap popmie untuk membunuh rasa dingin.
Sebelum sampai di Tebing Gajah, rombongan kami dari Pemkab Aceh Besar yang terdiri atas 16 mobil (12 double kabin 4 truk) terhuyung-huyung kala mulai memasuki kawasan Guchi. Jalan berlumpur dan sempit serta terjal membuat mobil berderak seperti hendak patah. Saya berpikir itu adalah akhir dari penderitaan kami. Ternyata puncak dari semua itu ada di Tebing Gajah, kawasan longsor yang sempat putus totalnya jalur KKA, Aceh Utara-Bener Meriah. namun akhirnya tetap bisa dilewati dengan risiko tinggi. Walau pun sebelumnya berkali kali diklaim telah putus kembali.
Malam makin larut, di jalan berlumpur dan terjal berbatu tampak puluhan kendaraan bermotor lalu Lalang, Umumnya telah dimodis untuk medan offroad. Ada sepeda motor bebek elevel Astrea lawas, scoopy hingga jenis trail. Sepmor yang selama ini hanya ‘bersembunyi’ di lintasan kebun dan rumah warga, dan umumnya sudah out af date dalam hal regulasi.
Di lintasan gulita nan berat itu terbukti jika merekalah petarung jalanan yang sebenarnya. Dengan modal kaki ayam serta pakaian seadanya, mereka melahap medan berat melebihi keahlian seorang jawara rider trail sekalipun. Tampak di punggung mereka keranjang besar serta keranjang rotan yang tersangkut di sadel belakang seperti mugee ikan. Dan mereka meliuk liuk di medan berat seakan tanpa beban, membelah malam yang makin dingin saat menuju ‘jam kecil’.
Umumnya para raider itu membawa hasil bumi dari Bener Meriah dan Aceh Tengah seperti cabai, kentang atau hasil hortikultura lainnya. Di ujung jalan arah Aceh Utara, tampak para pengepul telah menanti. Suasana di kawasan transit itu seperti pasar malam mini. Berdenyut tanpa henti, hingga fajar menyingsing.
Berjalan kaki belasan kilometer membawa hasil bumi. Foto Ridwan Jamil
Dari ujung jalan, mereka mengganti muatan saat kembali ke Bener Meriah dengan beras serta BBM dan gas elpiji 3 kg. Jangan heran jika terlihat bergelantungan tabung gas di belakang sepeda motor yang lalu lalang pada lintas KKA tersebut. Sebuah situasi yang mengingatkan kita dengan periode 70-an. Termasuk gaya jual beli jaman baheula dengan pola barter. Cabai dibarter dengan beras atau lainnya. Musibah dan prahara membuat semua kembali ke zaman kuda gigit besi.
Menjelang subuh, seorang pria mengetuk kaca mobil, ia mengatakan, jalur terkunci karena tak ada yang mau mengalah di jalur sempit, sementara petugas resmi juga tak ada. Jika tidak diurai maka tak akan lewat hingga kapanpun. Bersama Kalaksa BPBD Aceh Besar, Ridwan Jamil Ssos yang memimpin konvoi bantuan Aceh Besar menuju Bener Meriah dan Aceh Tengah, kami turun dari mobil menembus hawa dingin nan menggigil dan mulut seakan mengeluarkan asap saat berbicara, karena dinginnya udara.
Bersama beberapa orang pemuda setempat dan pemilik mobil yang tertahan dan mendadak jadi relawan, kami mengurai kemacetan sekitar lima kilometer dari dua arah. Akhirnya jalur itu kembali berdenyut, dengan sistem buka tutup 15 menitan, sumbatan berhasil dibuka. Kami lihat wajah wajah lelah pejalan kaki menembus jalur menuju Aceh Utara.
Rata-rata dengan bumbung di punggung yang mengingatkan saya dengan para pejalan kaki tahun 70-an yang menembus kawasan pesisir Barat Seklatan menuju Aceh Tengah untuk membarter ikan asin dan beras dengan tembakau Aceh Tengah yang sohor itu. Kali ini mereka menjual atau membarter hasil bumi dengan beras dan elpiji serta BBM. Semua terpaksa dilakukan untuk mempertahankan hidup, akibat jalur transportasi putus, dan hasil bumi harus dikeluarkan untuk terus meniti kehidupan.
Matahari mulai mengintip dari ufuk timur, di Tebing Gajah yang jalannya putus akibat longsor berat itu, juga terlihat keluarga kecil yang berjalan kaki meninggalkan Bener Meriah yang sedang dilanda prahara. Ibu ibu menggendong bayi mungil, sang ayah membawa atau menuntun buah hatinya dengan bumbung hasil bumi atau bungkusan kain di punggung. Wajah wajah mereka tampak pasrah dan lelah. Bisa jadi karena ladang kehidupan mereka telah tertimbun longsor atau diterjang banjir.
Saya teringat nasib yang sama yang menimpa Nek Latifah (70) seorang penyintas banjiir di Gampong Krueng Beukah Peusangan Selatan, Bireuen yang kami temui beberapa jam sebelumnya. “Saya habis segala nya, karena rumah tertimbun lumpur sedalam dua meter dan air yang mencapai lima meter. Kini kami berharap dari sumbangan untuk sekadar meniti hidup,” kata Nek Latifah sambil menawarkan rambutan di dalam ember hitam yang ia jual untuk pelintas yang menanti giliran naik ke jembatan Awe Geutah.
Sekitar pukul 08.00 WIB, kami baru lepas dari Tebing Gajah dan menyusuri jalan hotmix mulus hingga Redelong. Dari balik kabin mobil saya baru tahu betapa beberapa bagian dari kawasan itu hancur total dihantam material longor dan banjir bandang. Beberapa perkampungan tampak telah porak poranda, warga tampak dengan wajah kuyu menempati tenda pengungsian.
Spot spot kehancuran yang sama terlihat pada beberapa titik di perbukitan yang longsor menjelang Celala menuju Beutong Ateuh, serta juga ada di seputaran Krueng Beutong. Di Seberang jembatan darurat bailey Krueng Beutong kami menyaksikan warga yang mengungsi di tenda darurat ukuran mini. Sebuah pemandangan yang makin membuat miris, tentang bagaimana mereka berdesakan di tenda sempit, Bencana kali ini memang menerpa nyaris seluruh Aceh. Sebuah kesaksian perih di Tebing Gajah selama sepuluh jam sudah cukup untuk membuktikan jika prahara kali ini memang lebih berat dan pedih. Catat, semua itu akibat ulah dari keserakahan manusia. Karena Allah tak pernah melimpahkan bala bagi ummat nya, kecuali rahmat yang tak bertepi. Ulah manusialah yang mengu ah rahmat itu menjadi laknat dan bala bencana. Korbannya? Ya …….seribu bahkan jutaan Nek Latifah dan Aman Wen yang jelata.