Rumah ‘Keluarga Cemara’ yang Tenggelam di Pelukan Lembah Bukit Mendale

MENTARI baru saja menyembul setengah mengintip perut bumi dari ufuk timur.  Cahaya kuning emas memendar dari permukaan Danau Laut Tawar yang teduh, angin semilir yang dingin khas Kota Dingin Takengon, menyergap dari atas perbukitan. Jalimin (58) seorang praktisi media yang telah malang melintang bersama sebuah harian local terkemuka di Aceh, berjalan gontai menyusuri Dusun Mentari Gampong Mendale Kecamatan Kebayakan, Kota Takengon, Minggu (20/12/2025). Aroma danau begitu terasa, kala musim depik ikan khas Laut Tawar sedang memasuki fase puncak.

Langkah Jalimin yang mengenakan kemeja putih lusuh, yang oleh tetangganya lebih akrab disapa sebagai Aman Rina itu, terhenti di sebuah gundukan tanah longsoran Bukit Mendale. Yaa bukit yang runtuh tanggal 27 Desember 2025 bakda subuh dan meratakan seluruh bangunan di bawahnya. Salah satunya adalah rumah hunian Jalimin dan keluarga kecilnya. Tempat yang kini setiap pagi ia singgahi bersama anak dan isteri, untuk mengais barang barang tertimbun yang mungkin masih bisa mereka gunakan.

Bangunan rumah permanen artistic yang dibangun sejak tahun 2005 dan ditempati tahun 2007, ketika Jalimin mulai bertugas di Tanah Gayo sebagai seorang reporter, kini telah rata dengan tanah. Di rumah dengan ukuran 8 x 16 meter membelakangi Bukit Mendale dan menghadap Danau Laut Tawar itu, Jalimin lelaki kelahiran Tangan Tangan Abdya dan benar benar merasa sebagai etnik gayo dengan menabalkan nama ‘Jalimin Gayo’, membangun cinta, harapan dan masa depan.

Bersama sang isteri Mahyana Ulfa (47), serta tiga anaknya Reni Fahrina (25) kini seorang PNS guru di Bireuen, Queena Aurora Athifa (15) siswi SMA Negeri 1 Takengon dan si bungsu Rainier al-Ahza (12) murid SD Negeri 8 Lut Tawar, Kecamatan Lut Tawar, Takengon, Jalimin meniti hari hari damai dan bahagia di rumah artistik tersebut. Sesekali bersama sang anak, Jalimin bercanda di kolam belakang rumah dengan menaiki perahu bentuk bebek-bebek, sembari mengelilingi kolam dan memanen ikan mujahir.

Sebuah kehidupan yang benar benar menjadi Impian semua orang. Sebuah keluarga kecil yang bahagia yang dibangun dengan landasan cinta dan kasih sayang. Sebuah realita yang mengingatkan kita tentang sinetron Keluarga Cemara yang tayang tahun 1996 hingga tahun 2005. Ya….keluarga yang harmonis dan penuh kasih sayang, melambangkan keabadian, kekuatan dan kehijauan, layaknya pepohonan di sisi Danau Lut Tawar. Itulah potret utuh dari keluarga kecil Jalimin di bibir Danau Laut (lut) Tawar.

Baca Juga:  Zulkifli Adam: Saatnya Bersatu untuk Membangun Sabang

Semua berubah menjadi prahara berkepanjangan, ketika bencana itu datang tanggal 26 Nopember tahun 2025 jelang subuh. Kala air ditumpahkan dari langit dengan intensitas tinggi selama dua hari dua malam, bukit di belakang rumah Jalimin sudah berderak sedikit gemuruh. Sinyal jelas sudah diberikan kala air merembes dari belakang rumah. Ya….sebuah kode alam, tentang bukit Mendale yang sedang ‘sakit dan terhuyung’.

Puluhan Kepala Keluarga di Lembah bukit mulai melihat dan mencium aroma tanah merekah. Mereka serentak keluar dari rumah. Jalimin bersama istri dan dua anaknya serta Putri Nurul Rizki (30) adik dari sang isteri, memang telah siaga dengan membawa berkas penting keluarga serta mengeluarkan sepeda motor. Subuh itu menjelang azan, ia mendengar suara jeritan dari luar rumah tentang air mulai turun dari gunung. Aman rina….aman rinaaa….air…air sudah turun  demikian suara teriakan dari para tetangganya yang berlarian di sisi Lorong rumah.

Keluarga kecil itu langsung keluar dan bergabung dengan warga lainnya mencari titik aman. Jalimin  sempat berjibaku dengan air yang mulai deras mengepung rumah mereka, saat lelaki itu men geluarkan mobil kijang innova dari pekarangan rumah. Akhirnya ia bersama keluarga kecilnya meninggalkan rumah. Terdengar suara gemuruh dari atas Bukit Mendale, yang semakin memberi sinyal kepada warga di bawahnya.

Alam sepertinya hanya tinggal menunggu perintah eksekusi. Jalimin dan isteri berfirasat, jika ini mungkin  yang terakhit ia bisa menatap rumah hunian tempat mereka membangun masa depan dan asa sepanjang hayat. Dari Lorong pelarian, Jalimin dan anak anaknya seperti tak lekat menatap rumah mereka, seakan tak ingin berpisah.

Benar saja, Kamis tanggal 27 Nopember 2025 pagi, kala air mulai surut turun melalui bibir danau Lut Tawar menjemput alur menuju muara, Jalimin kembali ke rumahnya untuk melihat perkembangan. Tatapan lelaki itu bagai nanar ketika mendapati rumah mereka telah hilang bagai ditelan bumi. Ya longsoran Bukit Mendale meratakan sekitar 40 rumah di kawasan itu termasuk rumah Jalimin. Sebagian besar kampung itu hilang berikut bangunan rumahnya. Jalimin dan anak isterinya tak sanggup menahan isak, kala mendapati rumah mereka hanya tampak ujung atap. Hunian tempat membangun cinta kasih mereka kini telah tertimbun longsor. Ya….dalam dekap diam Lembah Mendale.

Baca Juga:  Bupati Rocky: Bandeng Kini Bisa Dijadikan Bakso, Sate, dan Keripik

Sebuah bencana yang telah lama mereka takutkan, akibat perambahan hutan di atas bukit Mendale, yang justru dilakukan oleh beberapa warga sekitar, telah terbukti secara sahih. Dan justru juga ikut menimbun rumah yang ikut menebang hutan. Nasi telah menjadi bubur tak ada guna lagi pen yesalan. Alam keburu marah karena luka nanah yang ditimbulkan  oleh ulah anak manusia.

Kini Jalimin dan keluarga meniti hari hari pahit mereka di rumah koleganya, seorang dokter spesialis yang rela berbagi ruang dengan Jalimin dan keluarga di Simpang Empat tak jauh dari jantung Kota Takengon. Sebelumnya Jalimin menginap di pengungsian bersama warga atau tetangganya di Mendale. Nyaris setiap hari, Jalimin menjenguk pertapakan rumah mereka, tapi bukan untuk menangis atau meratapi nasib.

Jalimin dan keluarga mengais puing puing untuk sekadar mendapatkan barang barang rumah tangga yang tertimbun, seperti piring atau sekadar alat masak. Bahkan juga menarik pakaian dari lemari yang tertimbun sedalam dua meter. Bagi Jalimin, barang barang itu lebih berarti dari berlian sekalipun, karena itu adalah jembatan kenangan dengan masa lalu mereka yang penuh dengan canda dan keceriaan. Rumah itu kini telah menjadi situs sejarah Keluarga Cemara Jalimin.

Walau kadang  dengan derai air mata, Jalimin dan keluarga terus menatap masa depan, kembali membangun asa di tengah puing puing rumah yang kini telah tertimbun longsor Bukit Mendale. Minggu (20/12/2025) siang di sebuah coffee di jantung Kota Takengon, sambil menyeruput kopi gayo yang kesohor itu, Jalimin yang didampingi putra bungsunya Raineir, dengan mimik tegar bercerita kepada koleganya, Ridwan Jamil Ssos yang juga Kalak BPBD Aceh Besar tentang prahara yang menimpanya. Di tengah rasa galau dan ketidakmenentuan nasib, Jalimin masih bercerita tentang masa depan dan harapan keluarga kecilnya yang kini sedang terpuruk. Bagi Jalimin, sekecil apapun api pelita harapan, ia tetap berusaha untuk menghidupkan.