SOSOK Gubernur Nova Iriansyah mengungkapkan perasaan sebenarnya, dalam sebuah ‘Pidato Perpisahan’ yang paling emosional, Minggu (03/07/2022) malam di Anjong Mon Mata, Banda Aceh. Nova seperti berjibaku untuk menahan guliran bening dari pelupuk matanya. Lalu iapun bercerita seakan meniti detik detik drama elegi selama 40 menit, di depan audiens yang justru berkaca kaca matanya. “Saya rasanya tak mampu menahan air mata, tapi marilah kita bercerita santai saja,” kata Nova dalam langkah tertatih dan raut wajah menahan tangis dalam sorotan lampu halogen di depan pentas utama Anjong Mon Mata.
Sorotan kamera yang dipantulkan pada tiga layar lebar, tak mampu menyemunyikan, betapa Nova sangat berhati hati melontarkan cerita singkat tentang perjalanannya selama empat tahun memimpin Aceh, meneruskan masa jabatan dengan Irwandi Yusuf. Kadang tampak jelas sosok nomor satu di Aceh yang akan mengakhiri jabatannya nanti malam itu, seperti terangguk menahan lelehan air mata.
“Menjadi pemimpin di Aceh butuh kesabaran tingkat dewa. Bukan hanya saat memulai tugas, sampai detik detik penghujung masa tugaspun kita dihujat dengan serangkaian opini miring. Tapi bagi saya, dihadapi saja dengan tenang, karena semua itu akan terjawab seiring waktu,” kata Nova, seakan menjawab tuntas tentang serangkaian hoaks dan tudingan sangat miring sekalipun, hingga bahkan kurang sepekan dari akhir masa jabatannya.
Nova sadar jika tudingan itu sarat dengan muatan politis, termasuk atas nama partai sekalipun. Karena saat bertemu secara personal, anggota parpol dimaksud malah mengucapkan permohon maaf seraya merangkul hangat Nova. Seakan menyiratkan jika tudingan itu bukan atas nama pribadi yang bersangkutan. Karena itu pula Nova menyikapi secara cool semua hujatan itu. Padahal sebagai sosok kepala daerah ia memiliki perangkat yang super cukup untuk membawa perkara it uke ranah hukum. Nova hanya tersenyum lepas!
Testimoni empat orang

Dibanding dengan dengan sosok Gubernur Aceh sebelumnya, Nova memang beda. Sebagai arsitek ia memiliki jiwa seni yang sangat kental, lazimnya masyarakat Dataran Tinggi Gayo. Saat announcer mempersilakan suami dari Dyah Erti Idawati itu yang disapa oleh Nova dengan Ibu Ida itu, naik ke podium untuk memberi kata sambutan sekaligus sekapur sirih atas peluncuran buku rekam jejak Lima Tahun Nova memimpin, dengan titel ‘Darah pun kami sumbangkan,” Nova tak langsung naik ke atas podium yang telah disiapkan, ia berjalan bak seorang announcer di depan audiens, perlahan dengan gestur seorang penampil yang mengingatkan pada sosok seniman Adhie M Massardi, Nova lalu membaca puisi ciptaannya, dengan titel Samarkilang.
Kata orang, ada negeri nun di sana
Orang bilang alamnya indah menawan
Banyak gumam ini negeri anugerah
Tentu hadiah dari Sang Tuhan
……………….Samarkilang aku datang
Gunung Salak, 20 September 2020
Nova membaca bait demi bait puisinya itu dengan intonasi dan gaya yang memang bak seorang WS Rendra, begitu menjiwai. Sebagai sosok yang ingin membebaskan Samarkilang dari status terisolir. Samarkilang….aku datang. Dan kini negeri dalam pelukan awan itu telah bisa diakses dengan aspal mulus, yang sebelumnya kadang bisa ditempuh 7 hari 7 malam dari Takengon.
Nova lalu mulai naik ke podium dan meluncurlah rangkaian kata perpisahannya dengan semua peserta yang hadir. Kadang ia berhenti sejenak untuk menahan guncang dada, menetralkan rasa menahan isak. Toh dengan segala daya ia berhasil menepis rasa cengeng di depan 500 an audiens di malam itu. Pria itu turun dengan segenap rasa yang membuncah, dan tergambar dari langkahnya yang seakan susah menggapai tempat duduk di barisan terdepan. Malam itu, Anjong Mon Mata menjadi saksi dari ketegaran seorang Nova meninggalkan hiruk pikuk pentas kekuasaan, dengan segala hujat yang kadan di luar batas kewajaran. Ya…..menjadi pemimpin di Aceh memang butuh kesabaran tingkat dewa.





















