SUDAH jamik dan bukan rahasia lagi, jika uang atau fulus menjadi faktor penentu dalam sebuah kontestasi politik, termasuk Pilkada sekalipun. Dengan uang tak perlu ada pencitraan atau framing, juga oleh media sekalipun. Tak perlu ada kampanye yang hanya menghabiskan uang hingga miliaran rupiah. Cukup dengan ‘serangan fajar’ dalam hitungan jam menjelang pencoblosan. Bahkan ada yang dibayar setelah menampakkan video atau foto saat detik detik pencoblosan. Politik hanya untuk pemilik capital atau ‘mesin uang’.
Sekali lagi itu sudah jamik dimanapun di negeri ini. Namun ada hal yang lain kali ini dalam pesta demokrasi menuju Abdya 1 dan 2 atau Bupati/Wakil Bupati periode 2025-2030 di Abdya.
Sepertinya uang adalah urusan nomor sepuluh. Voter di Abdya pada Pilkada kali ini benar benar berubah. Tiba tiba mereka terlihat sangat rasional dan ogah dengan politik uang. Ada apa sebenarnya? Rakyat Abdya tiba tiba menyadari penuh jika mereka adalah pemilik sekaligus penguasa tahta demokrasi yang sebenarnya.
Sejarah mencatat, kali ini kontestasi politik di Abdya menghadirkan pasagan calon (Paslon) 01 Salman Alfarisi/Yusran, 02 Jufri Hasanuddin/Fakhruddin dan Paslon 03 Safaruddin/Zaman Akli.
Dari ketiga paslon itu, aura kontestasi yang paling keras adalah antara Paslon 01 dan 03. Sementara Paslon 02 hanya nyaris sebagai penggembira, walau posisi Jufri sebagai mantan Bupati Abdya. Jufri seakan ingin menapaktilasi sukses Akmal Ibrahim yang naik dua kali ke tahta Abdya setelah sempat berselang satu periode. Namun apa daya, denyut politiknya telah redup duluan sebelum kontestasi dimulai.
Perseteruan dalam kontestasi mencapai puncaknya ketika masa masa kampanye. Semua jurus dimanfaatkan secara maksimal, termasuk pembunuhan karakter sekalipun. Safar yang putra kelahiran Gampong Tengah Kecamatan Susoh itu dianggap belum layak menjemput takdirnya sebagai Bupati di Abdya, karena ia hanya anak seorang tukang jahit di Blangpidie. Pada sesi kampanye lain Safar tiba tiba diklaim tidak bersyukur dan terlalu ambisius, karena ia dinilai telah sukses dalam kontestasi Pileg DPR Aceh, namun masih mencari peruntungan untuk menjadi Bupati Abdya.
Lebih parah lagi tiba tiba di atas panggung kampanye muncul lagu Udin Sedunia dan Safarudin yang pemegang gelar doktor, magister serta sarjana ilmu politik itu ketiban julukan sebagai ‘pembohong’ serta sarakata keluarga yang tak jelas. Padahal kita sama tahu nama itu ditabalkan secara sakral melalui rangkaian proses kearifan lokal seperti peusijuek serta doa.
Banyak serangan verbal lainnya yang ditujukan untuk Safaruddin/Zaman Akli, dengan tujuan untuk menghempang laju Safar/Akli yang memang ingin mewujudkan Arah Baru Abdya Maju di Kabupaten eks Pemekaran Aceh Selatan yang seperti jalan di tempat selama ini.
Bagi seorang Safaruddin yang memang seorang pesepakbola dan pernah tercatat sebagai anggota ‘Timnas’ Universitas Sumatera Utara (USU) dan kini menjadi pemain sekaligus pengasuh klub sepakola Legend Sigupai, lakon pesaingnya disikapi dengan santai santai saja. Karena akan ‘habis batere’ jika ia merespon hal hal yang jauh dari kaedah kontestasi politik bermartabat serta elegant.
Safaruddin Dhien Kallon saat melakukann selebrasi usai mencetak gol dalam sebuah laga bersama Legend Sigupai FC. Foto Ist
Bisa jadi pria kelahiran 17 Maret 1983 yang punya nama lapangan hijau Dhien Kallon itu, beranggapan, hal tersebut sudah lumrah dilakukan lawan untuk menghempang laju seorang goalgetter atau target man di lapangan hijau. Semua cara dilakukan, mulai dari yang halal hingga ‘haram’ atau lazim disebut negatif football atau anti football. Dan Dhien Kallon sudah sering merasakan kala tampil di lapangan hijau, termasuk dalam kontestasi politik tentunya.
Sejarah kelam anti football menimpa mega star Maradona pada .24 September 1983, dalam laga La Liga di Camp Nou, antara Barcelona menghadapi Athletic Bilbao. Maradona tersungkur dan dtandu keluar lapangan karena mengalami patah engkel, akibat tekel brutal dari Goiko atau nama lengkapnya Andoni Goikoetxea Olaskoaga yang kemudian dikenal dengan tukang jagal dari Bilbao.
Tak sia sia Dhien Kallon menanggapi dingin gerakan anti football lawannya. Tiba tiba simpati luar biasa rakyat Abdya mengalir kepada anak tukang jahit yang juga mantan Wakil Ketua DPR Aceh itu. Bukan hanya simpati, rakyat berada di belakang Safaruddin, bahkan rakyat siap ‘meuripee’ untuk suksesnya safari kampanye Safar/Akli. Satu hal yang telah langka terjadi!!
Ibarat kereta api cepat bullet train China, laju Safar/Akli makin tak terbendung. Safar tiba tiba seperti ketiban bola rebound dari gerakan negatif football kubu lawannya, yang belakangan justru ditinggalkan sebagian tifosi di tengah pertandingan yang sedang berlangsung.
Hanya dengan sekali hentakan lewat ‘tendangan fisrt time’ di tanggal 27 Nopember 2024, Safar/Akli mengirimkan lawan lawannya keluar lapangan dengan wajah tertekuk. Safar/Akli ditetapkan sebagai peraih suara terbanyak setelah unggul di seluruh kecamatan di Abdya dengan perolehan 56.811 suara sah.
Memang tak sama dengan Maradona yang terpaksa ditandu keluar lapangan. Dhien Kallon Safar malah mendapat bola rebound yang benar benar tak diduga oleh seteru politiknya. Sebuah cannon ball membuat anak tukang jahit itupun dengan izin Allah menjemput takdirnya sebagai Bupati Abdya 2025-2030. Siapa bilang negative football tak membawa berkah??
*) – Pemred acehherald.com, Ketua Yayasan Bhakti Bina Susoh