Atase Pertanian Indonesia Bantah Penolakan Kopi Gayo

TAKENGON, ACEHHERALD.com – Atase Pertanian Indonesia (Atani) untuk Uni Eropa di Brusel secara tegas membantah isu adanya penolakan kopi arabika gayo, khususnya arabika gayo organic. Karena sejauh ini justru kopi gayo yang masuk ke pasaran Uni Eropa adalah kopi gayo an organik, sedangkan kopi gayo organic belum dipasarkan di kawasan itu. Bantahan itu terungkap dalam … Read more

Iklan Baris

Lensa Warga

TAKENGON, ACEHHERALD.com – Atase Pertanian Indonesia (Atani) untuk Uni Eropa di Brusel secara tegas membantah isu adanya penolakan kopi arabika gayo, khususnya arabika gayo organic.  Karena sejauh ini justru kopi gayo yang masuk ke pasaran Uni Eropa adalah kopi gayo an organik, sedangkan kopi gayo organic belum dipasarkan di kawasan itu.

Bantahan itu terungkap dalam seminar Sosialisasi Kopi Arabika Organik yang berlangsung di Gedung Olah Seni (GOS), Takengon, Aceh Tengah, Sabtu (26/10). Senada Atani, Plt Gubernur Aceh Ir Nova Iriansyah, MT dalam pidato pembukaan, yang dibacakan Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh A Hanan, MM, mengajak semua pihak untuk menjaga citra kopi gayo. Karena kopi itu kini telah masuk pasar lima benua.

Secara terbuka, Plt Gubernur Aceh itu sangat meyayangkan mencuatnya khabar seakan-akan ada kopi gayo yang di pasarkan ke Uni Eropa (UE), yang tercemar residu herbisida jenis glyphosat.

Menurut Nova, bila isu tersebut terus berkembang dikhawatirkan akan mempengaruhi citra Kopi Arabika Gayo dan menimbulkan sintimen negatif di pasar dunia. Kopi Arabika, kata Nova, merupakan salah satu komuditi kopi yang paling terkenal dari Tanah Gayo dan sudah berhasil menembus pasar kopi dunia.

Tak kurang dari 60% dari produksi kopi di Aceh Tengah dan sekitarnya telah berhasil dipasarkan di pelbagai negara Eropa, Amerika Serikat, dan Asia. Citra kopi gayo ini harus terjaga agar pasarnya tidak tergangu, tutur Nova.

Bantah penolakan.

Sementara itu, salah satu pemateri sosialisasi kopi arabika organik dari Direktorat Perlindungan Perkebunan Kementerian Pertanian RI, Ebi Rulianti, SP, M.Sc juga memastikan jika kan tidak ada penolakan kopi organik arabika Gayo oleh buyer (pembeli) di UE. Pihaknya telah berkomunikasi langsung dengan Atase Pertanian Indonesia untuk Jerman, dan mendapat informasi tidak pernah ada penolakan terhadap kopi gayo organik, karena belum pernah ada pengiriman/ekspor kopi organik gayo ke UE, katanya.

Baca Juga:  Agak Redup di Liverpool, Roberto Firmino Berjaya di Timnas Brazil

Ebi mengingatkan, Pasar UE menekankan pentingnya precision farming, post harvest handling, dan juga soal food safety sebagai persyaratan mutlak. Kopi yang diterima harus memenuhi standar dan diuji secara ketat. Karena itu, bila branding-nya kopi non organik jangan diklaim kopi organik. Kepercayaan buyer (pembeli) dan pasar terhadap kopi arabika Gayo harus kita jaga, katanya. “Jangan mengklaim kopi arabika organik untuk kopi non organik, meski terhadap sampel kopi yang dikirim ke UE,” tandas Ebi mencerdaskan eksportir kopi Gayo.

Menyahuti keinginan UE terhadap pasokan kopi organik arabika Gayo, Kadistanbun Aceh A Hanan, MM mengatakan, luas kebun kopi dataran Gayo di Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Gayo Lues, mencapai 100 ribu hektar. Artinya, lebih dari 33% kebun kopi Indonesia, yakni sekitar 300 ribu hektar, terdapat di dataran tinggi Gayo.

Karena itu, lanjut Hanan, pihaknya bersama kementerian terkait terus membantu petani kopi melakukan rehabilitasi tanaman kopi yang luasnya sekitar 1.350 hektar dan tersebar di Benar Meriah (500 Ha), Aceh Tengah (500 Ha0, dan di Gayo Lues (350 Ha), melalui sekolah lapangan, teknologi terintegrasi kopi dengan ternak, dan bimbingan teknis petani kopi milenial untuk peremajaan kopi arabika.(**)

 

Penulis/editor : Nurdinsyam

Berita Terkini

Haba Nanggroe