Walau Terus Menyusut, Tutupan Hutan Aceh Terbaik se-Sumatera

BANDA ACEH I ACEH HERALD – Walau terus menyusut karena dirambah secara manual dan tindakan illegal loging, kualitas tutupan hutan di Aceh tetap yang terbaik di Sumatera, walau secara luasan kawasan hutan, Aceh masih kalah dengan Sumatera Selatan. “Kawasan hutan belum tentu semuanya dalam bentuk hutan, namun juga bahkan termasuk padang ilalang, karena hutan sudah tak ada lagi,” kata Dr Mahyuddin SP MP, Kamis (22/09/2022) kemarin.

Menurut Kepala Balai Pengelola Hutan Lestari Aceh itu, pernyataan soal tutupan hutan paling berkualitas tersebut diungkapkan langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Prof Dr Siti Nurbaya. “Memang luasan kawasan hutan kita di Aceh tak seluas Sumsel dan bahkan Riau, namun dalam hal kelestarian tutupan hutan untuk area tangkapan air, kita Aceh masih unggul,” kata Mahyuddin.

Siti Nurbaya secara khusus juga berpesan kepada Wali Nanggroe Malek Mahmud agar hutan Aceh diselamatkan.

Pada sisi lain Mahyuddin secara implisit menyayangkan tentang masih adanya illegal loging di Aceh, sementara secara resmi operasional model itu telah dihentikan melalui keijakan moratorium logging sejak era kepemimpinan Irwandi Yusuf di Aceh. “Kita berlakukan kebijakan moratorium logging, sementara di sisi lain illegal loging berlangsung, ini jelas kontraproduktif, yang justru sangat merugikan negara dan keselamatan rakyat,” kata Mahyuddin.

Ditambahkan, hutan di Aceh bukan hanya sebagai penyangga ekosistem, namun juga memiliki sumberdaya ekonomi yang kuat, dan juga sumber protein nabati serta hal lain menyangkut kesehatan dan kecukupan pangan. “Hutan memiliki potensi yang kuat untuk penyelamatan stunting sekalipun, untuk itu kami akan berkoordinasi melalui forum Rakor dengan segenap pemangku kepentingan terkait di Aceh, dengan materi utama menyelamatkan hutan Aceh. Agar tetap terbaik dari sisi kualitas tutupan serta membenahi zonasi hutan secara proporsional dan sesuai dengan regulasi yang ada,” kata Mahyudin.

Baca Juga:  Nasir Djamil, Anggota Komisi 3, Kunker ke Mahkamah Syar’iyah Jantho
Foto Antara

Catatan yang ada mengungkapkan, selama 2018 luas tutupan hutan Aceh menyusut seuas 15.071 hektar sedangkan pada 2017 tutupan hutan yang hilang 17.820 hektar. Dengan demikian tutupan hutan Aceh saat ini tersisa 3.004.532 hektar. Alih fungsi hutan dan pembalakan liar menjadi pemicu utama kerusakan hutan di Aceh.

Kondisi hutan Aceh itu dipaparkan oleh Yayasan Hutan Alam Lingkungan Aceh (HAkA) dan Forum Konservasi Leuser (FKL) dalam konferensi pers, Rabu (23/1/2019) di Banda Aceh. Tim HAkA melakukan monitoring kondisi hutan melalui satelit sedang tim FKL melakukan pemantauan di lapangan.

Manager Geographic Information System HAkA Agung Dwinurcahya menuturkan, pemantauan kerusakan hutan menggunakan citra satelit Planet dan Sentinel. Untuk menginterpretasi gambar dari citra satelit digunakan perangkat dari global forest watch (GFW). Dari hasil analisis visual kemudian dilakukan pengecekan ke lapangan.

“Yang ditemukan di lapangan sama dengan pemotretan oleh satelit. Di lapangan tim FKL menemukan kayu-kayu yang telah ditebang,” kata Agung.

Dengan menggunakan satelit dengan resolusi visual satu meter, batang kayu yang ditebang terlihat dengan jelas. Pemantauan dilakukan secara berkala sehingga laju kerusakan selama setahun terekam.

Adapun tiga kabupaten dengan deforestasi terbesar adalah Kabupaten Aceh Tengah (1.924 hektar), disusul Aceh Utara (1.851 hektar), dan Gayo Lues (1.494 hektar).