TAPAKTUAN|ACEHHERALD.com-Kondisi Rumah Sakit Umum Daerah-dr H. Yuliddin Away (RSUD-YA) Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan, salah satu rumah sakit Regional dan rujukan di wilayah Barat-Selatan Aceh kini memprihatinkan, upaya finishing fasiltas itu dihentikan sementara oleh Pemerintah Aceh, karena waktu pelaksanaan lapangan sangat kritis.
Pantauan media, tangga listrik (lift) sebagai sarana naik turun pengunjung dan evakuasi pasien rawat Inap di Gedung C berlantai 5 dalam keadaan rusak. Setiap hari harus dioperasikan secara manual oleh penjaga piket.
Kemudian, terdapat atap bocor di ruang istirahat pendamping pasien di lantai lima, terlihat air menggenangi lantai ketika hujan, serta plafon robek.
Selain itu, ruas jalan di kawasan Gedung C dan B juga mengalami kerusakan, berlubang dan tergenang air. Belum lagi berbagai fasilitas yang harus dibenahi. “Sering kami menunggu lama untuk naik ke lantai lima, karena penting dan perlu cepat terpaksa menggunakan tangga. Capeknya bukan main, bahkan lutut ikut gementar. Ini kendala serius yang harus segera diperbaiki,” kata salah seorang keluarga pasien mengaku dari Kota Subulussalam, Selasa (23/09/2025).
Sumber mengakui, jika pelayanan dan kelengkapan alat kesehatan serta dukungan tenaga medis sudah sangat baik dan maksimal. Namun sebagai rumah sakit rujukan perlu dibenahi dan ditingkatkan fasilitasnya, seperti lift dan ruas jalan serta kondisi Gedung. “Terkait layanan dan dukungan medis serta peralatan kesehatan, kita akui sudah baik, namun kondisi bangunan dan fasilitas lain harus ditingkatkan, masak rumah sakit selevel regional lift saja amburadul,” timpal Hendri salah seorang keluarga pasien lain.
Dikonfirmasi kepada salah seorang karyawan, pihaknya mengaku kalau lift sering macet. Bahkan pernah terjadi pasien dievakuasi melalui tangga akibat lift tidak berfungsi. “Pernah bang, kami terpaksa menandu (mengangkat) pasien untuk naik ke lantai lima melalui tangga. Habis mau bagaimana lagi, pasien harus masuk ruang rawat inap, ini berat, sulit dan berisiko, tetapi harus dilaksanakan” beber petugas yang namanya diminta dirahasiakan.
Diketahui, di RSUD-YA Tapaktuan terdapat lima unit tangga listrik (Lift), di Gedung Rawat Inap A berjumlah dua Lift, Gedung B satu, Gedung C satu, kemudian di Blok A sebagai fasilitas menuju ruang Laboratorium Kateterisasi (Cath Lab) satu. “Kalau lift di Gedung C memang sudah sejak lama rusak, sampai saat ini belum diperbaiki. Di tengah-tengah aspirasi masyarakat meminta pelayanan dan kelengkapan ditingkatkan, tender lanjutan Pembangunan justru dibatalkan,” imbuh sumber lagi.
Sebagaimana diketahui, Layanan Pengadaan secara Elektronik (LPSE) tentang tender lanjutan Pembangunan Rumah Sakit Rujukan regional dr. H Yuliddin Away Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan senilai Rp.15.914.142.000, sumber APBD Tahun 2025 Dinas Kesehatan Aceh dibatalkan.
Pasca pembatalan tender, aksi protes bermunculan di berbagai media dari masyarakat, LSM hingga anggota legislatif (DPRA).
Seperti diberitakan sebelumnya, karena sisa waktu yang terhitung kritis dan tak mungkin diselesaikan sesuai tahun anggaran 2025, proyek pengerjaan finishing Rumah Sakit Regional dr Yulidin Away (RRYA) di Tapaktuan dipending sementara oleh Pemerintah Aceh melalui Dinas Kesehatan Aceh. Sebelumnya proyek itu sempat dua kali masa sanggah, hingga limit waktu pengerjaan menjadi jauh molor.
Menurut Plh Kadis Kesehatan Aceh, Ferdiyus SKM MKes,Jumat (19/09/2025) malam, kelanjutan proyek finishing RRYA itu tetap menjadi prioritas Pemerintah Aceh. “Insha Allah Januari tahun 2026 kita segera luncurkan kembali proyek itu, sesuai dengan petunjuk dari atasan serta hasil koordinasi lintas pemangku kepentingan,” kata Ferdiyus.
Plh Kadinkes Aceh itu juga secara terbuka menanggapi tentang adanya sinyalemen seakan pihaknya sengaja menunda dan bahkan tidak melanjutkan Pembangunan rumah sakit regional milik Pemerintah Aceh yang terdiri atas lima lantai itu. “Tidak ada niat kami untuk menunda apalagi untuk tidak melanjutkan penyelesaian Pembangunan RS Rujukan Regional dr. Yulidin Away Tapaktuan pada tahun anggaran 2025. Kondisi ini semata-mata oleh sebab ketersediaan waktu yang cukup singkat dan di sisi lain jugas didasarkan pada komitmen Pemerintah Aceh untuk mewujudkan kemanfaatan maksimal atas hasil pekerjaan,” tandas Ferdiyus.