Romansa Syukur Semalam Calang-Sinabang

Pengantar Redaksi; Sudah biasa jika dalam perjalanan dinas seorang Penjabat (Pj) Bupati Muhammad Iswanto selalu terdengar tentang suara berat seorang pilot yang memberitahukan posisi pesawat sedang terbang di ketinggian 35.000 kaki atau 10,668 kilometer daripermukaan laut. Kali ini, perjalanan terasa spesial langsung menyusuri hamparan laut lepas Samudera Hindia selama kurang lebih 14 jam. Inilah perjalanan dengan warna asli tataran kaum akar rumput, ada dengkur bersahutan di dek dan kadang ditingkahi suara musik dangdut koplo dari handphone penumpang yang makin mensahihkan tentang aura perjalanan kaum menengah ke bawah. Sambil menyeruput kopi sachet di dek belakang lantai 3, Iswanto menjadikan perjalanan itu sebagai sebuah kontemplasi tentang realita hidup yang sebenarnya, yang memang harus disyukuri sampai kapan pun. Berikut figur nomor 1 di Pemkab Aceh Besar itu mereportasekan perjalanan 14 jam bersama KMP Aceh Hebat 1 menyusuri Calang hingga Sinabang, dalam bahasa bertutur.
Pj Bupati Aceh Besar Muhammad Iswanto (kiri), Pj Bupati Pidie Wahyudi Adisiswanto (kanan) dan Pj Walikota Banda Aceh Amiruddin (tengah) berdiskusi ringan di kantin KMP Aceh Hebat 1 sejenak lepas dari Pelabuhan Calang. Foto Ali Raban.

Iklan Baris

Lensa Warga

JUMAT 24 hari bulan Nopember 2023, seperti hari hari biasa saya jalani dengan rutinitas yang padat. ADC sejak pagi mengingatkan jika hari ini, bakda ashar kami berangkat menuju Sinabang untuk menghadiri upacara pembukaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-36 Aceh. Perjalanan kali ini ada warna adventure, karena dijalani dengan Kapal Motor Penumpang (KMP) Aceh Hebat 1, petang hari.
Masih ada waktu untuk beraktifitas di wilayah tugas, Aceh Besar. Melakukan kunjungan takziah ke kediaman Almarhum Drs Ramli, mantan Camat Lhoknga/Ka Set MPU Aceh Besar, saya sendiri kala almarhum menjadi Camat Lhoknga, saya menjabat Sekcam Lhoknga. Kemudian menyerahkan kursi roda untuk guru yang sakit di Lubok Sukon dan Komplek Dayah Al Manar dalam memperingati hari guru hingga membuka kegiatan Diseminasi Rambutan Aceh Besar bersama jajaran fakultas pertanian USK di Gedung Dekranasda Gampong Gani.
Bersama isteri yang juga Pj Ketua TP PKK Aceh Besar, Cut Rezky Handayani SIP MM, saya dan rombongan kecil meninggalkan Aceh Besar menuju Calang. Hamparan laut sepanjang pesisir serta pemandangan eksotis di liukan Gunong Paro hingga Geureutee yang sering dijadikan iconic foto para pelancong, membuat suasana hati tersendiri. Tepat pukul 15.40 WIB, kami menjejakkan kaki di komplek Pelabuhan Calang dan langsung melaksanakan shalat ashar, sebuah kewajiban ummat terhadap Sang Khalik.
Situasi pelabuhan tampak hiruk pikuk, maklum hari itu adalah puncak keramaian penumpang kapal menuju Sinabang, karena pelaksanaan perhelatan MTQ yang hanya tinggal hitungan jam. Tampak penumpang memadati rampdoor untuk naik ke kapal. Alhamdulillah, sesuai skedul, pukul 17.00 WIB, kami telah duduk di dek,berbaur bersama penumpang lain. Tak ada yang diistimewakan, semua sama, sama rasa sama rata sama membayar tiket.

Suasana malam di KMP Aceh Hebat 1. Foto Ali Raban.

Seperti di penerbangan udara, usai sirene terakhir keberangkatan, suara berat nakhoda muncul lewat pengeras suara, memberikan sambutan selamat datang serta menjelaskan detail singkat perjalanan yang akan kami tempuh.
KMP Aceh Hebat 1 yang berukuran 1300 GT dengan panjang 70 meter dan lebar 15 meter yang mampu mengangkut penumpang 300 orang lebih serta 33 unit kendaraan campuran itu, tampak disesaki penumpang. Kami berangkat bersama Kafilah Pijay, Banda Aceh dan Aceh Utara. Juga tampak rombongan Dewan Hakim MTQ XXXVI. Bersama kami juga tampak rombongan Pj Bupati Aceh Barat, Pj Walikota Banda Aceh, dan Pj Bupati Pidie.
Benar benar serasa seperti di dalam ‘Kampung Besar’ dalam lambung KMP Aceh Hebat 1. Kami bercengkrama dengan akrab di cafetaria kecil Dek Belakang Lantai 3, sambil melepas pandang ke laut lepas. Matahari sedang turun ke pelukan bumi, sunset yang begitu indah menyemburat merah di batas harizon ufuk barat.
Kami lalu melaksanakan jamaah shalat magrib di dalam kapal, sebuah sensasi luar biasa, mendengar gema azan di laut yang seakan tak bertepi, di antara deru mesin kapal serta angin semilir laut nan teduh. Hempasan temaram semburat cahaya langit, menciptakan kemilau hamparan laut bak cahaya permata. Allah memang Maha Pencipta Maha Kaya.
Bakda isya beberapa orang dari kami sesama leader daerah melanjutkan cengkrama ringan di cafetaria kecil itu lagi. Tak ada bar, bistro atau resto selevel hotel berbintang, semua apa adanya. Tak ada juga makan malam ala dinner penginapan papan atas, semua lebur dalam kesederhanaan perjalanan adventure ala backpaker. Kami hanya menyantap mie seduh serta kopi sachet, yang sensasi rasanya begitu luar biasa, sebagai pengganjal perut. Tak ada balutan protokoler serta perbedaan perlakuan, semua biasa biasa saja.
Kapal terus melaju membelah malam yangmakin pekat, dikelilingi laut lepas yang gelap tanpa batas. Dari jauh kadang terlihat titik titik noktah putih, boat nelayan. Sesekali terdengar dengkur penumpang yang tidur memeluk lutut. Dari kejauhan terdengar suara musik dangdut koplo, yang mengentalkan suasana rakyat kebanyakan. Tiba tiba saya teringat dengan suasana saat nun dahulu diberi izin berlibur kala dalam pendidikan di kawah chandradimuka STPDN Jatinangor. Menikmati suasana kerakyatan di sela sela ketatnya jadwal dan disiplin keras almamatar Jatinangor.
Malam itu juga, kami sempat bersilaturrahmi dengan para penumpang lain, termasuk dengan para mantan qari dan qariah yang dulu menjadi kafilah Aceh Besar di MTQ sebelumnya, namun kini memperkuat daerah lain. Kami larut dalam kebersamaan yang tanpa pretensi dan tendensi, sambil kadang tertawa lepas menyaingi deru mesin kapal. Bahkan juga ada pertemuan kangen kangenan dengan sesama alumni kepamongprajaan dari daerah lain, baik senior maupun junior. Sambil bercerita tentang kesan kesan unik selama menempuh pendidikan di Tanah Parahyangan itu.

Baca Juga:  Terkait Penonaktifan Direksi Bank Aceh, Pj Bupati Aceh Besar Dukung Langkah Pj Gubernur Bustami
Disambut oleh Plt Sekda Sineulu, Asluddin di Pelabuhan Feri Kolok, Sinabang. Foto Prokopim Aceh Besar.

Tanpa terasa waktu merangkak hingga pukul 01.00 WIB, dan bersama isteri saya mencoba rehat di salah satu kamar sederhana yang telah disediakan. Badan terasa lebih fresh saat terbangun sekitar pukul 05.00 WIB. Usai shalat subuh bersama isteri, kembali keluar kamar. Tampak ratusan penumpang masih lelap dibuai mimpi di setiap lapisan dek. KMP Aceh Hebat masih tampak perkasa menyongsong semburat merah saga yang keluar dari ufuk timur kala waktu melintas fajar. Saya lalu kembali ke kantin kecil dek 3 itu sambil menikmati kopi bakda subuh. Beberapa penumpang masih tertidur di lantai kantin.
Usai perjalanan panjang selama 14 jam, sekira pukul 08.00, dari mike kapal, announcer mengumumkan jika kapal telah tiba di mulut dermaga Kolok Sinabang, tempat KMP Aceh Hebat berlabuh dan lego jangkar. Ketibaan rombongan kafilah MTQ ke-36 itu disambut oleh Plt Sekda Simuelue Asluddin SE MKes serta staf panitia lokal.
Dari Pelabuhan Feri Kolok, saya dan rombongan langsung ke pemondokan kafilah Aceh Besar, untuk memastikan kondisi mereka. Termasuk memotivasi mereka untuk memberikan yang terbaik bagi rakyat Aceh Besar. Karena persaingan kali ini makin sengit, sebab para qari dan qariah itu bersaing dengan mantan mantan Aceh Besar yang kini berada di kafilah daerah lain.
Pertemuan itu diakhiri dengan pemberian kado alakadarnya untuk anggota kafilah berikut sedikit suntikan jajan, dengan harapan agar anak anak tampil tanpa terbebani dan siap memberikan yang terbaik. Perjalanan Calang-Sinabang menjadikan diri ini makin mensyukuri atas nikmat Allah selama ini. Sebuah Romansa perjalanan yang takkan terlupakan sepanjang hayat di kandung badan.

Kata Kunci (Tags):
mtq aceh, sinabang, muhammad iswanto, aceh hebat 1, kafilah aceh besar

Berita Terkini

Haba Nanggroe