Muhammad Nasir Jamil: Saya Realistis Saja!

[divider style=”solid” top=”20″ bottom=”20″] BANDA ACEH | ACEH HERALD PAGI Selasa pekan silam, telepon genggam saya berdering tanda adanya panggilan masuk. Sebuah suara yang ramah namun terukur terdengar dari seberang sana. “Dimana kita bertemu Bang, biar saya saja menuju ke situ,” tutur pria di balik saluran telekomunikasi tersebut. Itulah gaya seorang Muhammad Nasir Jamil, politisi … Read more

Iklan Baris

Lensa Warga

Muhammad Nasir Jamil

[divider style=”solid” top=”20″ bottom=”20″]

BANDA ACEH | ACEH HERALD

PAGI Selasa pekan silam, telepon genggam saya berdering tanda adanya panggilan masuk. Sebuah suara yang ramah namun terukur terdengar dari seberang sana. “Dimana kita bertemu Bang, biar saya saja menuju ke situ,” tutur pria di balik saluran telekomunikasi tersebut.

Itulah gaya seorang Muhammad Nasir Jamil, politisi kawakan PKS yang telah memasuki tahun ke- 17 di Senayan. Ya…kini pria yang bertampang latin ala Oscar de La Hoya itu tercatat sebagai anggota Komisi 2 DPR RI yang menggawangi Pemerintahan Dalam Negeri, setelah sebelumnya tergabung di Komisi 3 Bidang Polkam dalam rentang waktu yang panjang. Nasir Jamil tetap seperti dulu, sepertinya tak ada yang berubah dari politisi yang kerap tampil di layar kaca lewat acara paling fenomenal Indonesian Lawyer Club (ILC) asuhan Karni Ilyas itu, saat kami berbincang santai di sebuah Warkop tradisional ala gampong.

Ia masih seperti ketika kami sama menjadi prajurit lapangan atau reporter di sebuah korporasi media lokal di era akhir dekade sembilan puluhan. Gestur nya tak berubah, tetap menghormati lawan bicara, namun tetap elegant dalam bersikap. Sebuah ciri kental politisi yang punya daya komunican yang kuat. Tak heran jika pria ini mampu bertahan di kursi legislative memasuki paruh ke lima saat ini.

Nasir Jamil menghabiskan satu periode di kursi DPR Aceh, tepatnya periode 1999-2004, setelah ia memutuskan masuk ke jalur politik meninggalkan kiprahnya di dunia jurnalistik. Seorang Nasir Jamil senantiasa istiqamah dengan pilihannya. Sejak merengkuh panggung politik ia terus bersama PKS, di tengah pasang surut partai yang diklaim ‘hijau’ itu. Walhasil ia sukses menapak ke Senayan sejak tahun 2004, tanpa jeda hingga saat ini.

Baca Juga:  Nasir Jamil Minta Kapolri Tutup Pos Lantas Gebang, Sumut

Bahkan ketika ia dipindah dapil dari Dapil 1 ke Dapil 2 sekalipun, Nasir tetap eksis menuju Gedung Senayan. Karena itupula nama Nasir sering dikaitkan dengan suksesi Aceh sejak lima tahun silam. Bahkan untuk suksesi Aceh ke depan, nama Nasir Jamil makin banyak jadi buah bibir. Ia seakan menjadi kartu truf untuk dipasangkan dengan beberapa figur. Lalu apa kata mantan wartawan itu?  “Saya realistis saja. Saya tahu dan sadar dengan kekuatan dan potensi politik yang saya miliki. Jadi mengapa terlalu berekspektasi berlebihan. Saya wellcome untuk berkolaborasi dengan siapapun, sejauh diberi kepercayaan oleh rakyat, tanpa mesti menjadi chief atau vice ……semuanya sama saja untuk memberi dan berbuat terbaik untuk rakyat,” tandasnya.

Seorang Nasir menyadari penuh jika untuk Aceh saat ini, ia harus realisitis, konon lagi dikaitkan dengan posisi kursi PKS di lembaga DPRA. Namun tetap saja, semua orang tahu dan mahfum potensi lapangan yang dimiliki seorang Nasir Jamil, di blantika politik.

Sambil menyeruput kopi yang dimasak pakai kayu plus singkong dan kacang rebus, kami terlibat pembicaraan ngalor ngidul di warkop yang tertutup dengan rimbun pohon di sisi jalan H Ali Hasymy kawasan Gampong Pango itu. Nasir menambahkan, setiap orang harus punya konsep yang jelas, matang dan terukur untuk Aceh ke depan. “Aceh kini butuh sosok pemimpin yang bisa mempersatukan, hingga tak ada lagi pengkotakan Barsela, Lauser Antara atau lainnya, karena pemimpin yang hadir benar benar mewakili hasrat politik dan cultural semua pihak,” tutur Nasir Jamil.

Ketika ditanya Aceh Herald tentang potensi pelaksanaan Pilkada di Aceh, pria kelahiran 22 Januari tahun 1971 yang memang membawagi police Pemerintahan Dalam Negeri itu, enggan memberikan komentar lebih jauh. Namun ia mengingatkan jika Pilkada tak masuk ranah 25 kekhususan Aceh. Karena itu terkait dengan policy nasional. “Makanya saya katakan, semua kemungkinan bisa saja terjadi. Bisa tahun 2022 seperti regulasi lima tahunan yang ada di Aceh, atau bisa juga tahun 2024 jika mengikuti regulasi nasional. Toh semua ini juga sedang dalam pembahasan di Komisi 2 DPR RI,” pungkas Nasir Jamil.

Baca Juga:  FORBES - Pj Gubernur Bertemu di Jakarta, Sepakat Selesaikan Masalah Aceh

Kami memutuskan bincang santai itu, sejenak beberapa telepon masuk ke jaringan seluler politisi muda Nasir Jamil yang pagi itu tampil sangat casual, sepatu kets dipadu jins, kaos hitam lengkap dengan tetap topi softbol hitam. Benar benar menyiratkan aroma latinos yang macho lewat jambang tipis yang tercukur rapi.(*)

 

PENULIS     :     NURDINSYAM

Berita Terkini

Haba Nanggroe