KWPSI: Anak Muda Aceh Harus Jadikan Syariat sebagai Kompas Moral di Medsos

BANDA ACEH | ACEHHERALD.Com – Derasnya arus informasi di era digital menjadi tantangan baru bagi generasi muda Aceh dalam menjalankan kehidupan sosial yang berlandaskan Syariat Islam. Media sosial, yang tak terbendung dan melampaui batas geografis, kerap memunculkan benturan nilai antara budaya global dan kearifan lokal Islami.

Ketua Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI), Dosi Elfian, menilai media sosial bagaikan “dua mata pisau”. Di satu sisi membuka ruang dakwah, edukasi, dan kreativitas anak muda.

Namun di sisi lain, tanpa kendali yang kuat, bisa menjadi saluran masuknya budaya negatif yang mengikis nilai Syariat.

“Banyak anak muda Aceh yang produktif di media sosial. Mereka berdakwah, berbisnis, bahkan mengkampanyekan kearifan lokal. Tapi kita juga tak bisa menutup mata, ada sisi gelap seperti konten hiburan berlebihan, ujaran kebencian, hingga perilaku yang bertentangan dengan Syariat,” kata Dosi Elfian di Banda Aceh, Ahad (7/9/2025).

Menurutnya, tantangan utama generasi muda Aceh adalah bagaimana menjadikan media sosial sebagai ruang yang sehat, bukan jebakan yang menjerumuskan.

“Pemerintah tidak bisa hanya sibuk dengan regulasi offline. Era digital butuh strategi khusus, kolaborasi antara ulama, akademisi, komunitas, dan influencer muda agar nilai Syariat tetap hidup di dunia maya,” ujarnya.

Dosi juga menyoroti lemahnya literasi digital di kalangan remaja. Banyak di antara mereka mengakses konten global tanpa filter, sehingga mudah terpapar gaya hidup hedonis dan bebas.

“Padahal, Syariat Islam bukan hanya aturan di jalan atau ruang publik fisik, tapi juga harus hadir dalam perilaku di ruang digital,” tegasnya.

KWPSI, kata Dosi, mendorong lahirnya gerakan literasi digital Islami di Aceh. Tujuannya, agar anak muda tidak alergi pada Syariat, melainkan melihatnya sebagai pedoman hidup yang relevan dengan zaman.

Baca Juga:  Hari ke-1 PPKM Darurat Bali, Sejumlah Obyek Wisata Buka-Resto Layani Dine In

“Syariat harus dipresentasikan secara kreatif dan sesuai konteks generasi digital. Kalau hanya mengandalkan pendekatan formal, anak muda bisa semakin menjauh,” jelasnya.

Bagi Dosi, kuncinya ada pada keseimbangan. Anak muda Aceh boleh aktif, kreatif, dan melek teknologi, tapi harus tetap menjadikan Syariat Islam sebagai kompas moral.

“Kalau generasi muda mampu menjaga itu, maka Aceh tidak hanya kuat secara budaya lokal, tapi juga bisa tampil di dunia digital dengan identitas Islam yang membanggakan,” pungkasnya.

Kini, tantangan besar bagi Aceh bukan lagi sekadar menegakkan Syariat di ruang publik fisik, melainkan memastikan bahwa nilai-nilai Islami juga hadir, dijaga, dan dipraktikkan di dunia maya yang tak berbatas.

Laporan: Andika Ichsan