MUSUH terbesar Aceh adalah membungkus kebodohan dan kemunafikan dengan budaya yang seakan-akan ia adalah agama, padahal semuanya hanya pola hegemoni “pseudoe religion”, atau malah “menjual agama”, agar dapat terus menguasai dan mendominasi kekuatan Politik. Tapi sayangnya; kemenangan dan kekuatan politik tanpa dibarengi akhlak politik telah menghancurkan sisi-sisi kehidupan.
Penggundulan hutan berpuluh-puluh tahun dibiarkan tanpa ada perlawanan berarti dari kekuatan politik lokal, demi kenyamanan kekuasaan politik lokal, melalui perselingkuhan dengan kekuasaan pusat. Aceh menjadi hancur dari segala sisi; sosialnya, alamnya, politiknya dan budaya2 luhurnya.
Sejak dekade ’80-’90-an, proses penghancuran hutan di Aceh sudah dimulai melalui rezim HPH. Walhi Aceh dan aktivis lingkungan sudah bicara lantang soal ini. Tapi semua tahu; uang HPH mengalir sampai jauh; kesemua jenis warna baju dan jabatan, bahkan meresap ke semua urat nadi sosial tanpa kecuali. Tidak banyak yang betul2 serius marah atas pembabatan hutan serampangan kecuali, harus saya sebut; aktivis lingkungan dan beberapa wartawan pemberani. Mohon maaf, kaum agamawan juga tidak.
Disisi lain, kehancuran sosial terjadi mulai dari atas hingga ke bawah: Budaya korupsi tumbuh kuat melalui tradisi “peureugam”, “peng rukok”, dan “peng kupie”. Masyarakat kita jadi materialistis, gampang dibeli saat pemilu, mudah lupa pada kebenaran, suka memuja yang sensasional dan lalai pada substansi.
Akibatnya para intelektual mulai tersingkir dari panggung-panggung keputusan politik; digantikan pelawak, penyanyi, avountourir politik, toke-toke (toke apa saja), dan mantan preman yang mengandalkan “boh soh”, teumenak dan suka pada kekerasan. Merekalah yang kemudian disebut “pemimpin”. Ruang politik kita kehilangan kecerdasan, kerendahan hati, kezuhudan dan intelektualitas, digantikan selebritisme, pemujaan pada harta, premanisme, dan materialisme.
Akibatnya perubahan sosial semakin menuju jurang demoralitas. Bukti terbaru, Angka Judi Online Aceh paling tinggi, muncul hedonisme baru, yaitu suka pesta-pesta dengan kamuflase kata “khanduri”. Lahir pula kecenderungan orang miskin memuja orang kaya dan orang berkuasa, meskipun semua tahu mereka cacat moral dan etika. Tidak peduli mereka toke narkoba sabu-sabu, toke kayu, atau koruptor (yang sudah jadi rahasia umum), selama mereka rajin menyumbang untuk kegiatan pemuda di kampung tetap disegani.
Perubahan sosial yang sangat menyedihkan terjadi pada beralihnya orientasi publik yang sebelumnya menghormati kezuhudan; para ustadz sederhana, pada guru dan dosen yang tawadhu’, kini lebih menyukai politisi yang glamour, kaya raya, artis dan selebriti yang heboh tanpa isi.
Bahkan dengan Tuhanpun kita berpolitik. Secara spiritual, misalnya; kita menyangkal bahwa bencana demi bencana yang menghantam kita tiada reda, sebenarnya adalah peringatan Tuhan. Tapi kita ngeyel, angkuh, tetap yakin bahwa kita adalah bangsa mulia, yang hidup di bumi aulia, tidak mungkin Tuhan menghazab kita. Sungguh itu adalah sebuah sikap yang sombong, dan justru karena itulah kita semua pantas dihukum.
Faktanya sesungguhnya: Karunia adalah karunia, dan bala tetaplah bala. Berkah tetaplah berkah dan azab Tuhan tetaplah azab. Tidak akan bercampur diantara keduanya. Bahwa pada suatu titik kita dihukum dan diberikan azab di dunia, meskipun disisi yang lain tentu Tuhan pun menghadiahkan keberkahan dan karunia kepada kita. Tapi janganlah angkuh dan sombong, seakan-akan kita adalah kaum yang paling mulia sehingga Tuhan tidak akan menghukum dan mengazab kita. Terimalah kenyataan; kita dihukum, kita diazab, karena itu marilah kita bertaubat, mungkin itu cara terbaik untuk jujur pada diri sendiri.
Tuhan menciptakan Air untuk membersihkan segala yang kotor. Dengan air kita ber wudhu’ membersihkan raga, agar pantas menghadap-Nya, dengan air kita membersihkan tubuh dari lumpur noda, dan dengan air Tuhan membersihkan Aceh dari dosa-dosa dan khianat kita. Air dari laut, air dari gunung, air dari segala penjuru, menyucikan semesta.
Langkah pertama Rekonstruksi dan Rehabilitasi Aceh sesungguhnya adalah; Mari bertaubat. Semoga bencana segera menjauhi kita. Amiin 🤲
Â
*) Praktisi Kampus, Seniman dan Wartawan