Membangun Ekonomi Memutuskan Rantai Kemahalan

SEDERHANA visioner! Itu gambaran yang tepat untuk seorang Ismail Rasyid (54), CEO PT Trans Continent, ketika kami terlibat bincang hangat menjelang matahari terbenam di kantor Cabangnya di kawasan Gampong Beurandeh Kecamatan Mesjid Raya, Kabupetan Aceh Besar, medio pekan silam.
Pria berpostur atletis khas Aceh itu tampil santai dengan baju kaos warna maroon dipadu celana hitam dan memasuki area kantor dengan menunggangi Fortune FRZ. Ia bercerita seputar obsesinya dengan ekonomi Aceh, yang menurutnya masih sangat layak untuk dikembangkan, namun tentu saja tergantung goodwill semua stake holders dan rakyat Aceh sendiri. “Sudah saatnya kita Aceh melepas ketergantungan dengan pihak luar. Suatu saat kita bahkan bisa menjadi feeder untuk Singapura, karena letak geografis yang memang sangat menguntungkan,” kata Ismail Rasyid yang dalam kesempatan itu didampingi oleh Azhari (corporate public relation) dan Zulliwal (Corporate Manajer Area Aceh).
Kami berbincang dengan suami dari Erni Molisa dan ayah dari Jibril Gibran serta Syifa Aulia itu di ruang oprommnya yang nyaman pada lantai dua dari susunan boks container sebagai ciri khas seluruh gedung Trans Continent di luar Aceh dan bahkan hingga luar negeri. Bidang kaca yang luas membuat kami bisa menikmati sunset di bibir pantai perairan Krueng Raya. “Saya komit untuk hadir di Aceh, membangun ekonomi negeri termasuk menciptakan lapangan kerja, walau ini bukan hal mudah. Karena menyangkut merubah mindset serta menggugah kesadaran para pihak. Di luar sana mampu kita lakukan, mengapa di tanah leluhur sendiri kita tak bisa berbuat,” tandas Ismail Rasyid yang telah lama bergelut dengan bisnis manajemen logistic yang mengedepankan network and the trust (jaringan dan kepercayaan).
Tekad pria yang telah mengeluarkan sebuah buku otobiografi berbahasa Inggris setebal 124 halaman dengan titel Small steps in the right direction. Can turn out to the biggest step of your life (sebuah langkah kecil ke arah yang benar, dapat berubah menjadi langkah terbesar dalam hidup anda) itu memang tidak sekadar slogan apa lagi hangat hangat tahi ayam.
Sempat jatuh bangun kala berhome base di KIA Ladong yang milik Pemerintah Aceh, tanpa mau larut dalam rasa sesal, alumni Fekon Unsyiah itu langsung move on dan banting setir ke lokasi baru di Gampong Beurandeh, Krueng Raya, setelah berkoordinasi dengan Pemkab Aceh Besar. Ismail seperti mendapat karpet merah dari Bupati Mawardi Ali. Dan kini ia mulai mewujudkan mimpinya untuk Aceh dengan membangun area perkantoran di tanah se;uas 15 hektar.
Pada lokasi itu nantinya akan dijadikan lokasi pergudagan dengan kapasitas ratusan container. Ismail malah akan menggeser 100 kontainer dari 500 kontainer miliknya yang tersebar di beberapa kawasan luar Aceh itu, ke pergudangan Beurandeh. Selain itu juga sediakan kawasan berikat yang menampung barang baran eksport langsung dari luar negeri. “Dalam area berikat itu nantinya kita standby kan petugas custom yang mentaksasasi pajak barang impor, yang akan dikutip jika barang itu keluar dari Area Berikat. Intinya barang masuk dulu, pajak dibayar kemudian, sebagai bagian untuk mempermudah pemasok dan memperpendek rantai bisnis,” ujar pria yang dulu keluar merantau dari Aceh hanya dengan modal Rp 200 ribu menuju Batam dengan otobis ALS itu.

Lelaki kelahiran 3 Juli 1968 di Matangkuli, Aceh Utara tersebut seperti membangun kawasan industri di Gampong Beurandeh. Nantinya ia bukan hanya menyiapkan lokasi container yang hampir rampung, namun juga ada kawasan untuk industri kecil menengah (IKM). “Kita siapkan infrastruktur yang mumpuni, teman teman IKM silakan berinvestasi di sini, tentu saja dengan ketentuan yang sesuai kesepakatan.
Obsesi buah hati dari pasangan Muhammad Rasyid Syahpari (alm) dan Salamah Ben itu adalah membangun suplay chain atau rantai suplai di Aceh, dengan tidak lagi bergantung pada Medan atau daerah lain di Sumatera. Karena dengan cara itu akan memangkas biaya suplai dan di sisi lain juga membuka peluang kerja. (Konsep saya adalah Aceh Peut Sagoe, Banda Aceh-Sabang-Calang-Sinabang. Kita bangun suplai chain yang mampu mengcover daerah di sekitarnya, hingga akan mengurangi ketergantungan dengan Medan misalnya,” tutur Ismail Rasyid yang kini memiliki bisnis logistic di Sulawesi, Kalimantan, Pulau Jawa, Sumatera hingga Australia.
Menurutnya potensi eksport dari Aceh luar biasa,baik itu dalam bentuk komodoty pertanian, perikanan atau sumber daya alam. Kini yang dibutuhkan adalah komitmen untuk memenuhi permintaan pasokan, Misalnya dengan membangun industri pertanian dari hulu ke hilir yang potensi rekrutmen tenaga kerjanya luar biasa. “Kita buat UMR sampai Rp 3 juta, tapi pekerjaan tak ada.Sementara ada daerah yang UMRnya RP1,8juta seperti di Jepara, tapi peluang kerjanya luar biasa. Ini sebuah ironi,” kata lelaki yang dulu berangkat masuk kuliah di FE Unsyiah itu, terpaksa ortunya menjual sehektar kebun Rp 600.000,namun kini telah memiliki jaringan usaha hingga Cina, Eropa, Amerika dan Australia itu.
Bagi Ismail Rasyid, tak ada yang tak mungkin, namun semua itu harus komit dan full respect. Di tengah jepitan keprihatinan situasional di Aceh,misalnya soal tenaga kerja dipelabuhan, ia tetap punya rasa optimis,jika ekonomi Aceh akan berdaya. Karena itulah, Ismail telah memiliki rencana besar di Aceh, termasuk jika memungkinkan suatu saat ia akan menjadikan Aceh sebagai main home base kerajaan bisnisnya.
Potensi eksport juga mencakup material bangunan, namun prosedur standar serta feasibility studi sejauh ini tak ada, hingga tetap terkendala. “Ada peluang untuk itu, kita prepare lah fasilitas itu. Pemerintah harus berani jamin keamanan, kan ini juga peluang pemasukan untuk daerah. Namun seperti diabaikan, padahal ini menyangkut kemasalahatan rakyat,” tandas Ismail.
Sebagai bukti keseriusan hadir di Aceh, kini Trans Continen telah mendatangkan dua crane ukuran besar untuk melengkapi dukungan terhadap keberadaan gudang container di lokasi Trans Continnt di Aceh. Selain itu juga disiapkan kapal landing yang juga untuk mendukung industri perikanan di Aceh. “Saya hanya butuh regulasi yang jelas dan tegas sebagai dkungan, tanpa itu akan sulit di lapangan. Dan kita terus terjerat dengan rantai kemahalan. Adalah hal sangat mirism ketika pelabuhan Sibolga di Sumut mengelola ikan yang justru hampir semuanya dari Aceh. Bukankah itu satu hal yang meprihatinkan, sementara rakyat butuh pekerjaan. Ini sebuah ironi,” tegas Ismail Rasyid.
Aceh memiliki banyak sekali komodity unggulan, namun belum ada yang berani memenej potensi itu menjadi triggger untuk ekonomi bangkit. Jangan pernah beralasan karena Jakarta kurang perhatian.
“Justru kitalah yang menyia nyiakan kesempatan,” tutur Ismail yang menutup pertemuan itu dengan jamuan makan malam.