USK Kembangkan Desa Wisata Nilam di Ranto Sabon

BANDA ACEH | ACEH HERALD – Untuk meningkatkan perekonomian masyarakat di pedalaman Aceh, Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh lewat lembaga Atsiri Research Centre (ARC) bekerjasama dengan Pemkab Aceh Jaya kini memulai pengembangan sektor usaha perkebunan nilam dan desa wisata di Desa Ranto Sabon Kecamatan Sampoiniet. Anggota tim pengembangan desa wisata nilam Desa Ranto Sabon, … Read more

Iklan Baris

Lensa Warga

Prof Dr Taufik Fuadi dan rombongan melakukan panen nilam di Ranto Sabon, Aceh Jaya. FOTO IST

BANDA ACEH | ACEH HERALD – Untuk meningkatkan perekonomian masyarakat di pedalaman Aceh, Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh lewat lembaga Atsiri Research Centre (ARC) bekerjasama dengan Pemkab Aceh Jaya kini memulai pengembangan sektor usaha perkebunan nilam dan desa wisata di Desa Ranto Sabon Kecamatan Sampoiniet.

Anggota tim pengembangan desa wisata nilam Desa Ranto Sabon, Muslim Amiren kepada AcehHerald.com, Sabtu (13/3/2021) mengatakan pihaknya sudah melakukan beberapa kali servey ke daerah itu secara mendalam.

Muslim Amiren, anggota tim pengembangan desa wisata nilam di Desa Ranto Sabon, Aceh Jaya. FOTO ACEHHERALD.COM/M NASIR YUSUF

Hasilnya, Universiats Syiah Kuala dan Pemkab Aceh Jaya akhirnya menandatangani kesepakatan untuk pengembangan sektor nilam dan sekaligus desa wisata, kata Muslim Amiren, yang juga tenaga pengajar di Fakultas MIPA USK.

Muslim mengutip Rektor USK Prof Syamsul Rizal, perguruan tinggi kini sudah saatnya turun ke desa-desa untuk membantu meningkatkan perekonomian masyarakat Aceh yang selama ini terpuruk akibat pandemi Covid-19.

“Universitas Syiah Kuala sudah memulainya dan alhamdulillah mendapat sambutan hangat dari masyarakat di pedalaman Aceh Jaya tersebut,” katanya.

Nilam salah satu bahan baku utama untuk minyak wangi dan harganya pun sangat tinggi sangat potensial untuk dikembangkan di Aceh Jaya.

“Alhamdulillah, keinginan Rektor USK itu disambut Ketua ARC USK Banda Aceh, Dr Syaifullah Muhammad MT yang sekaligus bisa mengolah minyak nilam untuk berbagai kebutuhan, termasuk hand sanitizer yang digunakan untuk menghindari penularan virus corona,” tambah Muslim Amiren.

Dikatakan, sebelum menetapkan Desa Ranto Sabon sebagai salah desa pengembangan nilam yang terkoneksi dengan pengembangan desa wisata, tim USK lebih dulu menggelar FGD untuk mengetahui keinginan masyarakat setempat.

“Kami memang melihat potensi yang luar biasa. Tapi, tim tak bisa memutuskan, kalau masyarakat setempat tidak membutuhkan. Karena itu, mereka menggelar FGD, dan hasilnya mereka sepakat mengembangkan Desa Ranto Sabon menjadi Desa Wisata Nilam,” ujar Muslim Amiren yang juga Wakil Ketua I DPD Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) Aceh.

Baca Juga:  Masjid Oman Bakal Dibuka Lagi

Dalam FGD yang digelar Tim Desa Wisata ARC, juga hadir Camat Sampoiniet, keuchik, Sekdes Gampong, Kepala Dinas Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga (Disparpora), dan Tim Pengelola Desa Wisata Gampong Ranto Sabon.

Wakil Ketua I ASPPI Aceh itu menilai selain potensi nilam, Desa Ranto Sabon juga memiliki keindahan alam yang layak dijual sebagai daerah destinasi wisata. Di sekitar lokasi pengembangan perkebunan nilam, juga terdapat area CRU Gajah sebagai salah satu pendukung pengembangan sektor pariwisata di Aceh Jaya.

Penulis M Nasir Yusuf

Berita Terkini

Haba Nanggroe