BANDA ACEH | ACEHHERALD.COM – Secara umum, perekonomian Sumatera pada triwulan II-2023 tumbuh sebesar 4,90% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan I-2023 yang tumbuh sebesar 4,78% (yoy). Secara spasial, pertumbuhan ekonomi terjadi hampir di seluruh provinsi di Sumatra kecuali Aceh, Kepulauan Riau, Jambi, dan Lampung.
Melemahnya kinerja ekonomi di Aceh dipengaruhi oleh melambatnya pertumbuhan di sektor perdagangan yang tumbuh sebesar 6,92% (yoy) pada triwulan II-2023 atau lebih rendah dibandingkan dengan triwulan I-2023 sebesar 10,72% (yoy).
Hal ini disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Aceh, Rony Widijarto P, saat Bincang-bincang Media Bulan Oktober di Gampong Nusa, Aceh Besar, Rabu (18/10/2023).
Tak hanya sektor perdagangan ujar Rony Widijarto, juga kinerja sektor Pertambangan yang menunjukan tren penurunan pada triwulan II-2023 yang terealisasi sebesar -8,74% (yoy), lebih rendah dari triwulan sebelumnya sebesar -6,26% (yoy).
Ia menyebutkan perkembangan impor provinsi Aceh berfluktuasi bergantung pada proyek-proyek yang ada di Provinsi Aceh. Secara umum, impor di Aceh didominasi oleh Barang Modal.
Lebih lanjut, ujarnya, perkembangan ekspor di Provinsi Aceh didominasi oleh ekspor batubara dengan capaian ekspor sebesar USD 474Juta. Adapun 3 negara tujuan ekspor tersebut yakni India, China, dan Thailand.
Rony Widijarto mengemukakan mengapa BBM bulan ini dilaksanakan di Gampong Nusa? Ini dikarenakan gampong setempat merupakan desa binaan yang sedang ditingatkan kualitas Desa Wisata di Aceh, dimana Bank Indonesia telah melakukan pengembangan desa wisata berbasis 3A+2P (Atraksi, Aksesibilitas, Amenitas, Pelaku, dan Promosi).
Pengembangan tersebut telah dilakukan di Desa Wisata Gampong Nusa melalui:
• Pembangunan gapura Gampong Nusa yang syarat akan makna dan nilai.
• Pengembangan kelompok tenun di tahun 2023 yang bertujuan untuk meningkatkan nilai atraksi. Pengembangan berupa pemberian PSBI berupa Alat Tenun Bukan Mesin dan pelatihan tenun kepada kelompok tenun.
• Pembangunan jembatan dengan motif Aceh dan penataan sempadan sungai yang bertujuan meningkatkan akses perpindahan wisatawan dan juga menjadi salah satu penambah daya tarik lanskap di sekitar sungai.
• Renovasi pedestrian dalam rangka meningkatkan aksesibilitas wisatawan dan juga warga setempat.
• Capacity building yang dilakukan terhadap aparatur desa wisata Gampong Nusa untuk meningkatkan pengelolaan homestay dan tour guide kepada aparatur desa dan masyarakat desa.
Selain itu, juga dilakukan peningkatan kapasitas dalam melakukan hospitality dan promosi untuk menarik wisatawan.
• Pembangunan sarana pendukung untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung juga dibangun seperti tempat duduk, lampu penerangan, dan gazebo.
Inflasi Aceh
Dari sisi perkembangan harga-harga, pada bulan September 2023, Kota Gabungan IHK di Provinsi Aceh mengalami inflasi sebesar 0,22% (mtm), Tekanan tsb lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami deflasi sebesar -0,15% (mtm).
Perkembangan tersebut searah dengan Nasional dan Sumatera yang juga mengalami peningkatan tekanan inflasimasing-masing menjadi 0,19% (mtm) dan 0,32% (mtm).
Lebih lanjut, secara tahunan IHK Provinsi Aceh pada tahun 2022 tercatat sebesar 5,89% (yoy) .
Ditambahkannya dilihat dari komoditas penyumbang inflasi bulanan (mtm) di Provinsi Aceh, 5 komoditas inflatoir pada bulan September 2023 yakni Beras (0,22%), Bensin (0,06%), Ikan Kembung(0,05%), Udang Basah (0,04%), danT-Shirt Anak (0,02).
“Secara tahunan, 5 komoditas utama berasal dari komoditas Beras (0,52%), Rokok Kretek Filter (0,32%), Emas Perhiasan (0,17%), Daging Ayam Ras (0,10%), dan Mobil (0,08%),” katanya lagi.
Digitalisasi Sistem Pembayaran
Bank Indonesia Provinsi Aceh secara proaktif mendorong digitalisasi sistem pembayaran melalui akselerasi QRIS.
Jumlah pengguna QRIS per-Agustus 2023 telah mencapai 434 ribu user, bertambah 153 ribu sepanjang tahun 2023 atau 67,64% dari target sebesar 226 ribu pengguna baru.
Kata KPwBI Aceh, dari sisi transaksi telah terdapat 5 Juta transaksi sepanjang Januari hingga Agustus 2023, atau 100% dari target 2023 sebesar 5 Juta transaksi. Nilai ini jauh meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya dimana terdapat 2,3 Juta transaksi sepanjang Januari hingga Desember 2022.
Pengembangan UMKM
Dalam rangka menjaga stabilitas nilai Rupiah yang didukung oleh Stabilitas Moneter, Stabilitas Sistem Keuangan, dan Stabilitas Sistem Pembayaran, Bank Indonesia bersama stakeholders secara kolaboratif mendorong pengembangan UMKM.
Akselerasi tersebut dilakukan
melalui pilar kebijakan korporatisasi kelembagaan UMKM, peningkatan kapasitas usaha, dan peningkatan akses pembiayaan diharapkan dapat mendorong UMKM memiliki daya saing yang mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Secara umum, arah pengembangan UMKM Bank Indonesia Provinsi Aceh yakni melakukan intervensi dari sisi Hulu hingga Hilir.
Dari sisi Hulu, <span;>ujarnya lagi, Bank Indonesia Provinsi Aceh telah melaksanakan program Integrated Farming. Dimana, Integrated Farming merupakan sistem pertanian dengan memanfaatkan keterkaitan antara tanaman perkebunan/pangan/hortikultura) serta ternak dan perikanan <span;>untuk mendapatkan agro ekosistem yang mendukung produksi pertanian, peningkatan ekonomi dan pelestarian sumberdaya alam.
Program tersebut didukung oleh lingkungan strategis Aceh yang memiliki potensi luas lahan (persawahan, perkebunan, dan pertanian) hingga 1.807.632 Ha serta potensi Kg 10 s.d 15 Kg kotoran hewan per-ekor (sapi, kambing, dan kerbau) yang dapat diolah menjadi pupuk.
Sementara dari sisi Hilir, Bank Indonesia memiliki program WUBI yang bertujuan untuk mendorong digitalisasi dan perluasan pasar UMKM.
Beberapa materi pengembangan pada program tersebut yakni manajemen, pencatatan keuangan, rebranding, digital marketing, dan networking.
Secara konsisten terselenggara selama lebih dari 3 tahun, Bank Indonesia telah memiliki 60 alumni WUBI yang telah terkurasi dari ratusan UMKM se-Aceh.





















