Selamat Jalan Yah Ngah, Panglima Laot Penjaga Lingkungan

SENIN (20/10/2025) sebuah kabar duka menyelimuti kalangan adat, pegiat konservasi dan masyarakat pesisir Aceh. Panglima Laot Lhok Ie Meulee, Sabang, Saiful Bahri, yang akrab disapa Yah Ngah, berpulang ke Rahmatullah, setelah lama berjuang melawan sakit yang dideritanya.
Bagi banyak orang, almarhum dikenal sebagai penjaga adat laut yang konsisten, tegas dan bersahaja. Namun bagi saya pribadi, beliau lebih dari itu. Beliau adalah guru, sosok yang pertama kali memperkenalkan saya pada kebijaksanaan adat laut dan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam dalam sebuah tatanan ekosistem yang terjaga secara berkelanjutan.
Pertemuan kami bermula di tahun 2018 saat kunjungan tamu asing dari Wildlife Conservation Society (WCS). Yah Ngah, mengundang kami berdiskusi di Balai Pasi Ie Meulee yang juga difungsikan sebagai Pos Panglima Laot Lhok Ie Meulee. Dari lantai atas bangunan sederhana itu, Yah Ngah menunjuk ke arah laut lepas dan bercerita tentang bagaimana praktik penangkapan ikan yang merusak, dilarang secara adat. Bersama para tokoh adat lainnya, beliau berjuang keras memperkuat aturan tersebut, agar disepakati secara kolektif. Artuinya, tidak hanya oleh nelayan, tapi juga oleh warga dan pemerintah setempat.
Dalam percakapan kami waktu itu, Yah Ngah juga menyinggung tantangan yang muncul dari pesatnya industri pariwisata – hotel dan cottage yang kadang melanggar batas adat. Namun dengan kebijaksanaan, beliau dan rekan-rekan lebih memilih jalan dialog dan pendekatan persuasif.
Atas dedikasi dan kiprahnya itu, pada tahun 2019, Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Pante Jaya, yang beliau pimpin, berhasil meraih juara tingkat nasional. Sebuah pengakuan yang layak untuk perjuangan panjangnya menjaga adat laut dan ekosistem pesisir Aceh. Bahkan seharusnya beliau berhak atas penghargaan lebih dari itu.
Kini, sosok humble itu telah tiada, namun warisannya tetap hidup – dalam semangat para nelayan, dalam kesadaran masyarakat adat, dan dalam setiap upaya melindungi laut Aceh.
Selamat jalan, Yah Ngah.
Semoga segala amal dan baktimu diterima di sisi Allah SWT.
Semoga, kami yang tertinggal mampu terus berusaha melanjutkan warisanmu – menjaga adat dan laut Aceh yang kau cintai sepenuh hati.

Baca Juga:  Korem 011/LW  Bina 18 Ormas