Saatnya Rakyat Menanti Bukti, Bukan Sebatas Janji Investasi

SEBUAH harapan baru tentang denyut ekonomi kembali mengemuka dari Pantai Timur Aceh, tepatnya dari lepas pantai Lhokseumawe, kemarin. Selembar pers rilis yang dikirim oleh Plt Kepala Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) Azahari Idris kepada awak media mengungkap harapan baru itu. Orang nomor satu di BPMA tersebut merincikan, Pemerintah Republik Indonesia melalui Menteri Energi dan Sumber … Read more

lokasi rig migas

Iklan Baris

Lensa Warga

SEBUAH harapan baru tentang denyut ekonomi kembali mengemuka dari Pantai Timur Aceh, tepatnya dari lepas pantai Lhokseumawe, kemarin. Selembar pers rilis yang dikirim oleh Plt Kepala Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) Azahari Idris kepada awak media mengungkap harapan baru itu.

Orang nomor satu di BPMA tersebut merincikan, Pemerintah Republik Indonesia melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral telah menyetujui rencana pengembangan pertama (Plan of Development (POD) I) Lapangan Gas Peusangan B di lepas pantai Lhokseumawe yang dioperasikan oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Zaratex N.V.

Ini merupakan persetujuan pengembangan lapangan migas pertama setelah keluarnya PP 23 Tahun 2015 tentang Pengelolaan Bersama Sumber Daya Alam Minyak dan Gas Bumi di Aceh. Dan terbentuknya Badan Pengelola Minyak dan gas Aceh (BPMA). Lapangan Gas ini terletak pada sekitar 7 km lepas pantai Lhokseumawe dan ditargetkan akan memulai produksi pertama pada awal tahun 2023.

Sementara ini akan dilakukan serangkaian kegiatan persiapan termasuk penyelesaian kajian AMDAL dan persiapan engineering design dan persiapan lainnya untuk mendukung pembangunan anjungan lepas pantai dan pemasangan pipa gas bawah laut menuju Lhokseumawe  sepanjang 7 km dan pembangunan fasilitas separator gas di darat dilengkapi dengan CO2 Removal dan Gas Dryer.

Plt Kepala BPMA, Azhari Idris menjelaskan bahwa pengembangan lapangan gas ini akan berproduksi selama 13 tahun dengan kondisi cadangan gas sekarang pada lapangan Peusangan B. Namun KKKS Zaratex juga akan melakukan kegiatan eksplorasi lanjutan dengan melakukan pengeboran tambahan minimal dua sumur lagi, untuk memastikan usia produksi gas bisa lebih lama dan diharapkan volume produksi juga bisa bertambah.

Terlepas dari semua itu, kita berharap komitment semua pihak untuk merealisasikan harapan baru masyarakat Aceh tersebut. Karena siapapun tahu, pasca berakhirnya era keemasan gas Arun yang diikuti munculnya industri hilir berupa pupuk PIM dan Asean Aceh Fertilizer (AAF), hingga industry aromatic, kondisi ekonomi Aceh Utara, Lhokseumawe dan sekitarnya langsung mati suri.  Sepertinya kejayaan yang pernah ada itu tak berbekas sedikitpun. Terutama dari sisi pemberdayaan ekonomi masyarakat dan perbaikan infrastruktur. Semua bagai kabut yang hilang tersaput angin.

Baca Juga:  Farid Nyak Umar, Mengajak Warga Perangi Narkoba

Sebelumnya, harapan baru denyut ekonomi itu juga datang dari lepas pantai Meureudu, Pidie Jaya. Ketika pihak BPMA juga pernah merilis jika kawasan itu memiliki sumber daya alam migas. Bahkan disebut-sebut pihak Petronas Malaysia telah menyatakan kesediaannya untuk melakukan eksplorasi hingga eksploitasi migas lepas pantai Meureudu itu, jika memang layak.

Rakyat hanya mengingnkan bukti nyata dari komitment Pemerintah Aceh melalui BPMA untuk mewujudkan hal itu. Dengan kata lain, tak hanya sebatas menyetujui, namun juga aksi nyata untuk meralisasikannya. Rakyat terlalu lama menanti kehadiran denyut ekonomi baru yang masiv di Aceh, setelah hilangnya mimpi indah gas arun.

Dalam konteks itu, rakyat juga sudah lelah dengan hanya sebatas memorandum of understanding (MoU) yang mungkin sudah memenuhi lemari Pemerintah Aceh. Namun ibarat sebuah cerita, tak pernah mencapai batas penghujung. Kini, sudah saatnya rakyat menanti bukti bukan lagi sebatas janji investasi.

 

Nurdinsyam

Pemimpin Redaksi

Berita Terkini

Haba Nanggroe