“Renunganku” Kontemplasi Seorang Nova Terhadap Rangkaian Prahara

Plt Gubernur Nova Iriansyah dan istri Ny Dyah Erti Idawati dan rombongan saat sahur bersama di lokasi pengungsian banjir bandang Paya Tumpi, Takengon, Sabtu (16/05/2020). Foto Humas Aceh

PERJALANAN seorang Nova Iriansyah menuju kampung halamannya di Takengon kali ini terasa istimewa. Ia bukan pulang untuk merakit nostalgia bersama rekan rekan kecilnya saat meniti pendidikan di SDN 3 Takengon. Master Arsitektur jebolan ITB Bandung itu melakoni perjalanan galau, di tengah rangkaian prahara yang menimpa daerah Aceh. Mulai dari pesisir barat, timur hingga tengah.

Ya…rentetan musibah alam akibat guyuran hujan deras yang menimpa seluruh Aceh menyebabkan seribuan orang orang mengungsi, ada rumah yang porak poranda akibat angin putting beliung,  jalan negara yang putus diterjang longsor  pohon tumbang hingga banjir bandang yang menerjang beberapa kawasan.

Sosok Nova yang juga Plt Gubernur Aceh terpaksa melupakan sejenak kebijakan working from home (WFH) akibat pandemic covid-19. Dengan tetap mengikuti protokol kesehatan yang ketat, Nova bersama jajaran kabinetnya bersafari dari titik titik bencana yang ada di Aceh.

Belum habis sisa lelah akibat goyangan ombak saat meninjau Pulo Aceh, Jum’at (15/05/2020) menyambangi korban putting beliung, Nova dan istri Ny Dyah Erti Idawati langsung berangkat ke Takengon, untuk melibat dan berbagi dengan para korban banjir bandang di Paya Tumpi, Aceh Tengah dan Bener Meriah, Jumat (15/05/2020) malam.

Dalam perjalanan darat selama nyaris tujuh jam itu, Nova seakan berkontemplasi di tengah keheningan malam yang mengalir di antara gerimis hujan di luar sana. Putra dari politisi kawakan Nurdin Sufie itu sadar jika alam sedang menegur penghuni nya termasuk sosok dirinya sendiri, selaku ulil amri. Bisa jadi, pikiran nelangsa Pak Plt tertuju kepada sebait lagu ‘Berita Kepada Kawan’ karya solois Ebiet G Ade. Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa

Tapi lulusan Teknik Arsitekur ITS 10 Nopember Surabaya itu, tak mau bertanya kepada rumput yang bergoyang, seperti lantunan Ebiet. Ia sadar sesadarnya, jika Allah sedang menguji ummatNya, dan hanya kepada Allah jualah tempat bertanya dan meminta.

Baca Juga:  Pemerintah Aceh Siapkan Lab Pemeriksaan Spesimen Covid-19

Lalu mengalirkan inspirasi dalam bentuk karya puisi kala detik detik menjelang dinihari saat ban mobil menyentuh kawasan enang enang menuju Kota Dingin Takengon. Nova memberi titel puisi kontemplasi itu dengan……

RENUNGANKU

Alam menegur semesta menyapa,
Seakan azab di mana-mana, bagai siksa tiada tara. Memaksa manusia tafakkur, meminta kita merenung, menggali asa.

Saatnya kita menengadah muka. Membuka kedua telapak, lapangkan dada.

Tuhan tetap zat penyayang, meski kita tambah liar dan jalang. Tuhan adalah muara arah kita meminta, walau kita sombong arogan lagi lantang.

Hanya Dia yg bisa meno|ong. Mintalah hanya kepadaNya, walau harus dengan melolong.

Ampuni kami ya Tuhan, wahai sang pengasuh.

Takengon, 16/05/2020
*nova iriansyah*