BANDA ACEH | ACEHHERALD.Com — Epidemiolog Dinas Kesehatan Aceh, Muhammad Jamil, SKM. M.Kes., mengungkapkan fakta mengejutkan tentang penyebaran HIV di Aceh, mulai bergeser ke kelompok usia muda.
Berdasarkan data Dinkes Aceh, 46 persen kasus HIV ditemukan pada usia 21–30 tahun, sementara 12 % sudah terjadi pada remaja 11–20 tahun hanya dalam rentang Januari–September 2025.
“Ini sinyal bahaya. Kaum muda Aceh kini mulai masuk dalam lingkaran risiko penularan HIV. Banyak yang tertular karena hubungan seksual tidak aman dan perilaku berisiko,” ujar Jamil dalam Sharing Diskusi Sahas Inisiatif bersama wartawan di Ivory Coffe, Senin (3/11/2025).
Sejak 2004 hingga September 2025, tercatat 81 % kasus HIV di Aceh dialami laki-laki, dan lebih dari separuh (53 persen) di antaranya merupakan kelompok LSL atau gay.
Ia menegaskan bahwa pola ini menunjukkan penularan HIV kini tidak lagi hanya terjadi di kelompok tertentu, tetapi sudah meluas ke masyarakat umum, terutama usia produktif.
“Tren perilaku seksual berisiko makin tinggi, bukan hanya di kelompok tertentu, tapi juga di kalangan remaja. Ini tidak bisa dianggap tabu lagi, karena datanya sudah jelas,” tegasnya.
Dari 80.146 orang yang menjalani skrining selama sembilan bulan terakhir, ditemukan 120 kasus positif HIV/AIDS dan 37 kasus sifilis. Bahkan dari 55.638 ibu hamil, sebanyak enam orang terkonfirmasi positif HIV, dan jumlah serupa juga ditemukan dari 9.372 calon pengantin yang menjalani pemeriksaan pra-nikah.
Jamil menilai fenomena ini berkaitan erat dengan perilaku seks pranikah di kalangan muda. Berdasarkan Survei BKKBN 2020, 8 persen remaja pria dan 2 persen remaja perempuan di Aceh berusia 15–24 tahun mengaku pernah berhubungan seks sebelum menikah. Lebih mengejutkan, 11 persen di antaranya mengalami kehamilan tidak diharapkan.
“Banyak remaja laki-laki mengaku melakukannya karena penasaran, sementara perempuan karena dipaksa oleh pasangan. Kedua motif ini berujung sama yang berisiko tertular penyakit menular seksual semakin tinggi,” kata Jamil.
Ia mendesak agar edukasi kesehatan reproduksi tidak lagi dianggap tabu di sekolah maupun lingkungan masyarakat.
Menurutnya, diam dan menutup mata justru membuat remaja semakin rentan.
“Kalau kita terus menganggap topik seksualitas itu memalukan untuk dibicarakan, maka angka HIV akan terus naik. Kita perlu bicara terbuka, berbasis data, bukan sekadar moral panik,” tutupnya.
Laporan: Andika Ichsan