
BANDA ACEH | ACEH HERALD.com-
Para pengusaha pariwisata Aceh mengharapkan Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) yang terpaksa ditutup pada saat pandemi Covid-19 segera dibuka kembali. Harapan itu disuarakan sejumlah pengusaha pariwisata dan umrah dalam pertemuan dengan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Syech Fadhil Rahmi.
Menyahuti harapan para pelaku pariwisata tersebut, anggota DPD RI Syech Fadhil Rahmi mengatakan pihaknya siap berjuang ke Pemerintah Pusat untuk segera membuka kembali bandar udara intersional Sultan Iskandar Muda sebagai jalur penerbangan internasional yang menghubungan Aceh dengan dunia luar. Bandara SIM jangan hanya dibuka untuk imbarkasi dan debarkasi haji saja.
Syech Fadhil saat bersilaturahmi dengan sejumlah pengusaha pariwisata Aceh di Cut Ayah Kopi, Banda Aceh, Senin (6/6/2022) malam mengatakan pihaknya melihat tidak ada lagi alasan pemerintah untuk tidak membuka Bandara Sultan Iskandar Muda untuk melayani penerbangan internasional, sebab penutupan bandara dengan alasan Covid-19, kini Alhamdulillah, Aceh sudah aman dari Covid,” ujarnya.
Sementara itu Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, per 3 Juni 2022, juga sudah menyurati pusat untuk segera membuka bandara internasional Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang tersebut.
Sejumlah pengusaha Aceh yang selama ini bergelut di bisnis pariwisata, termasuk umrah dan haji juga menyampaikan sejumlah unek-uneknya selama bandara SIM masih ditutup untuk penerbangan internasional.
Seorang pengusaha yang bergerak di bidang bus pariwisata, Riza Faisal dalam pertemuan dengan syech Fadhil mengaku pihaknya selama pandemi terpaksa melego satu unit bus wisatanya untuk menormalkan usahanya. “Ini memang sangat menyakitkan. Tapi, lebih sakit lagi hingga kini kami belum bisa berusaha, karena tamu luar negeri, terutama dari negeri jiran Malaysia belum bisa masuk ke Aceh,” ujar Riza Faisal.
Dikatakan, karena belum adanya kepastian jadwal dibuka kembali penerbangan internasional ke dan dari Sultan Iskandar Muda, pengusaha transportasi wisata itu, bukan hanya terpaksa melego unitnya. Tapi, juga sudah tiga kali ganti baterai bus, tapi hingga kini mereka belum bisa bergerak dan bernafas,” ujar Riza Faisal dengan nada kecewa.

Menurut Faisal tiga kali ganti beterai bus, setiap kali ganti dua biji seharga Rp 6 juta, mereka sudah menghabiskan Rp 18 juta hanya untuk ganti baterai saja. “Ini belum lagi biaya perawatan lainnya,” tambah Riza Faisal.
Pengusaha pariwisata Aceh itu, mengaku sebenarnya pihaknya sudah sekitar 160 tamu asal Malaysia yang siap berwisata di Aceh. Bahkan, selama ini mereka selalu menanyakan kondisi Aceh dan kapan dibuka kembali penerbangan internasional ke Aceh?
Karena itu, kami sangat berharap Syech Fadhil Rahmi yang duduk di Komisi III DPD RI yang antara lain membidangi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif agar ikut memperjuangkan nasip kami di Aceh.
Dalam pertemuan yang berlangsung penuh keakraban tersebut, selain Riza Faisal juga hadir Adun Syarizal, Erizal, Husaini, Zulkiram, Maimun, Saiful Akmal, Zulfikar, dan Irwandi.
Pada intinya, para pelaku pariwisata itu sangat mengharapkan penerbangan internasional segera dibuka kembali. Selama ini, akibat tidak tersedianya penerbangan ke luar negeri secara langsung, para pengusaha pariwisata di Aceh terpaksa harus mengeluarkan cost ekstra.
Untuk paket umrah, misalnya, pengusaha travel harus membeli tiket Banda Aceh – Jakarta dulu dengan harga tiket nyaris tidak terjangkau, lalu menginap di Jakarta dan baru kemudian diterbangkan ke Jeddah, Arab Saudi.
Padahal, katanya, kalau kita terbang dari Banda Aceh-Jeddah hanya butuh waktu 6 jam terbang. Namun, lewat Jakarta, penerbangan Banda Aceh-Jakarta saja sudah tiga jam, dan Jakarta-Jeddah jadi 9 Jam. Ini angat tidak efektif.
Penulis M Nasir Yusuf





















