Minim Industri Pengolahan, Aceh Kehilangan Rp200 Juta/Hari dari Sektor Perikanan

BANDA ACEH | ACEHHERALD.Com – Potensi besar sektor perikanan di Aceh belum termanfaatkan maksimal. Dari total kekayaan laut yang dimiliki, pemanfaatan baru mencapai sekitar 42 persen. Kondisi ini berdampak pada hilangnya nilai tambah dan kerugian ekonomi yang tidak kecil.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Ikan Aceh (AIIA), Almer Hafis Sandy, mengungkapkan bahwa setiap hari Aceh kehilangan potensi finansial hingga Rp200 juta, atau setara Rp72 miliar per tahun. Kerugian tersebut terjadi karena ikan hasil tangkapan nelayan lebih banyak dikirim dalam kondisi mentah ke Medan, tanpa melalui proses pengolahan di Aceh.

“Seharusnya pengolahan bisa dilakukan di sini. Kalau itu dilakukan, tentu akan membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan nelayan, sekaligus memberi dampak ekonomi lebih luas bagi masyarakat Aceh,” kata Almer kepada wartawan di Banda Aceh, Kamis (11/9/2025).

Ia menjelaskan, nelayan dan pengusaha perikanan di Aceh masih terkendala akses pasar, teknologi, serta minimnya keberanian untuk mengembangkan industri perikanan berorientasi ekspor. Hal ini berdampak pada fluktuasi harga ikan, turunnya kualitas produk, serta berkurangnya penghasilan nelayan.

“Padahal Aceh memiliki garis pantai yang panjang dan laut yang kaya. Sayangnya, potensi ini belum tergarap optimal. Inilah salah satu faktor yang membuat Aceh masih menjadi provinsi termiskin kedua di Sumatera,” tegasnya.

Almer menambahkan, diperlukan langkah konkret dari pemerintah dan pelaku usaha untuk meningkatkan efisiensi industri perikanan di Aceh, termasuk pembangunan fasilitas pengolahan, dukungan teknologi, dan perluasan akses pasar internasional.

Laporan: Andika Ichsan

Baca Juga:  Dinas Pendidikan Lhokseumawe Adakan Simulasi Ujian ANBK