SAAT ini warga Kampung Jamur Ujung Kecamatan Wih Pesam Kabupaten Bener Meriah di lintas Bireuen-Takengon, sedang menanti detik detik rampungnya jembatan bailey yang dibangun secara marathon oleh prajurit Zeni TNI AD. Sebuah titik terang tentang nasib jalur ekonomi segera mulai kembali menggeliat, setelah terpuruk ke titik nadir akibat bencana longsor dan terjangan banjir bandang.
Kampung Jamur Ujung yang sejak tahun 2021 telah berpacu dalam lomba Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) dalam katagori Desa Wisata Rintisan itu, terhitung tanggal 26 Nopem,ber 2025 porak poranda. Kampung yang pernah menjual kebun kopinya sebagai tujuan wisata agro itu, kini telah terpenggal. Bahkan belasan hektar kebun kopi yang tertata di tebing dengan pemandangan eksotis ala grand canyon itu, kini lenyap tak berbekas. Hanya tinggal tebing yang berdinding tanah kuning, yang setiap saat menebar horor kala hujan kembali melanda.
Tak jauh dari Jamur Ujung itu, juga terdapat sebuah warung kopi alam yang berdiri dan di disain langsung di kebun kopi. Siapa yang tak kenal Seladang Kopi, yang kini juga tertidur dalam senyap, karena jalur itu telah mati akibat banjir dan longsor yang menghantam sekaligus memenggal badan jalan.
Jamur Ujung yang sempat kondang dengan pemandangan eksotis, dalam sebulan terakhir terisolir. Berbeda jauh dengan statusnya yang selama ini bisa dengan mudah diakses oleh pelancong atau pelalu lintas Jalan Birueun-Takengon. Saat ini dengan runtuhnya jalur enang-enang, kawasan itu praktis terisolir karena, hanya bisa diakses melalui jalur tikus dari Simpang Teritit yang dicapai dengan jalur melingkar dari Wih Porang.
Seperti diceritakan Kepala Dusun Mekar Utama, Kampung Jamur Ujung, saat menerima bantuan KONI Aceh dan Jabar, bertepatan saat tahun baru, Kamis (01/01/2026) lalu, sedikitnya 45 rumah di kampung Jamur Ujung diterjang air bah dan ditenggelamkan oleh longsor. Selain itu selain itu belasan hektar kebun kopi arabika di tebing perbukitan sepanjang sisi jalan juga ikut dilindas longsoran dan hanya tersisa tanah kuning kemerahan.
Saat ini, warga yang terdampak tinggal di tenda atau rumah kerabat terdekat. Yang membuat miris, selama lima pekan terakhir, warga antar dusun di Jamur Ujung dipisahkan oleh lembah terjal dengan kedalaman nyaris 100 meter. Untuk keperluan harian, warga harus mengharungi lembah dengan kondisi sangat rawan kala hujan mengguyur. Tampak jembatan Jamur Ujung teronggok di tengah, karena kedua sisi abutmentnya terputus digerus banjir dan longsor.
Saat pekan pekan pertama, Jamur Ujung benar benar kritis, karena teronggok di tengah lintasan yang terputus. Kini logistic mereka di masa tanggap darurat telah memadai, karena Reje (keuchik) mengkoordinir agar warga yang terpisah itu, dapat menikmati bantuan dari luar.
Bersama beberapa warga Jamur Ujung, Misriadi menceritakan bagaimana horor kehancuran Jamur Ujung kala banjir dan longsor. Termasuk mengapa tak ada korban jiwa, kala 45 rumah ikut diterjang longsor. “Kami mulai merasakan getaran dan suara alam pergerakan tanah sejak Rabu (26/11/2025) dinihari. Kala hujan deras berketerusan nyaris dua hari dua malam. Air kuning mulai turun dari atas melewati rumah kami di punggung dan lembah bukit,” kata Misriadi.
Kala dinihari itu, intensitas turunnya air berasama tanah kuning makin deras. Bakda subuh para warga lalu mengungsi ke daerah yang mereka nilai aman, mengosongkan rumah mereka, yang seakan menunggu dieksekusi oleh alam. Suara derak dari atas seperti makin nyata. Ada hewan darat dan burung yang tiba tiba berseliweran, memberi tanda akan adanya amuk alam.
Detik detik kehancuran itupun tiba. Warga menyaksikan langsung prahara pahit itu terjadi. Kala waktu menunjukkan sekitar pukul 10 WIB jelang Rabu siang, tiba tiba terdengar suara gemuruh dan diikuti dengan turunnya air bah dari perbukitan menerjang ceruk lorong sungai serta jembatan. Tebing-tebing sekitar ceruk runtuh dan menyapu rumah rumah di kawasan punggung dan lembah perbukitan.
Jalan lintas Takengon tertimbun tanah serta air menerjang abutmen di kedua sisi jembatan hingga putus. Warga yang panik berlarian ke sana ke mari. Sebanyak 96 KK dari 250 KK di Kampung Jamur Ujung kehilangan tempat tinggal. Mereka termangu dan pasrah dalam diam. Bukan hanya rumah, lahan ekonomi andalan mereka juga amblas digulung longsor. Sementara mereka tak memiliki lahan persawahan.
Nyaris satu pekan kawasan itu terkurung dalam lapar dan diam, serta kemudian warga bergerak berjalan kaki mencari bantuan. Selama itu pula mereka tak bisa mengakses pasar, untuk sekadar menyambung hidup menjual kopi atau hasil kebun seperti durian. Praktis hingga nyaris pergantian tahun 2026, warga mengandalkan bantuan logistic dari luar untuk menyambung hidup. Bantuan yang secara bijak didistribusikan oleh petinggi kampung, kepada seluruh rakyat yang terdampak. “Alhamdulillah, kini sudah lumayan, logistic bantuan telah masuk, baik langsung atau distribusi dari Pemkab Bener Meriah,” kata Misriadi, Kamis pekan lalu.
Hari hari ini, ekonomi Jamur Ujung akan mulai berdenyut, karena jembatan bailey pengganti abutment yang rontok akan tuntas dibangun. Selain itu jalur Umah Besi juga telah tersambung dengan jembatan bailey. Praktis kawasan itu akan kembali dilalui oleh kendaraan yang melintas dari Bireuen-Takengon. Mimpi buruk itu secara perlahan mulai berlalu, seperti awan mendung cumulus nimbus yang tergeser oleh angin sepoi.