Di Sabang, sebuah kisah tentang dedaunan dan warna alami seolah terukir. Ada cerita dibalik setiap helai kainnya yang merupakan hasil karya kreatifitas ibu-ibu warga Sabang, Pulau Weh.
Keharmonisan antara alam melalui dedaunan dan bunga-bungaan sebagai bahan baku pembuatan ecoprint yang bernilai seni tinggi tercipta dari tangan kreatif para ibu-ibu yang kemudian menghasilkan seni tekstil yang semakin diminati wisatawan mancanegara.
Bagaimana tidak dilirik wisatawan luar negeri. Keunikan motif dari sehelai kain ecoprint ini, bukan hanya bikin decak kagum yang melihatnya, namun keunikan lainnya bahwa ecoprint Sabang ini, ramah lingkungan dikarenakan bahan baku produk ecoprint ini berasal dari lingkungan sekitar tempat tinggal ibu-ibu yang membuat produk fashion tersebit.
Sebenarnya, awal mula ibu-ibu membuat ecoprint Sabang ini, sejak tahun 2023. UMKM Ecoprint Sabang hadir, diketuai oleh Mariani dan dibina Erna dari Ipumi. Di tempat itu, ada 20 ibu kreatif berkumpul, masing-masing membawa mereknya sendiri, menciptakan karya seni yang ramah lingkungan.
Lalu, Bank Indonesia Provinsi Aceh, melirik UMKM ini, dan setelahnya membantu dengan membina mulai dari hulu hingga hilir. Dan akhirnya, UMKM ecoprint tersebut, semakin menggeliat dari hari ke hari notabene membantu perekonomian keluarga dan juga meningkatkan pemdapatan asli daerah pemerintah daerah setempat.
Diakuinya, pemasaran dari produk ecoprint masih seputaran wisatawan mancanegara dan nusantara yang berkunjung ke Sabang. Meski begitu, pembina UMKM ecoprint ini, mengaku membuat market tersendiri melalui media sosial akun UMKM Ecoprint ini dan juga melalui akun pribadi.
“Wisatawan dari Malaysia yang paling jauh. Kemudian wannus dari Jakarta. Setelahnya hanya pembeli dari kota-kota yang ada negeri ini,” ujarnya lagi.
Seperti diketahui, ecoprint ini merupakan tekhnik mencetak pola langsung pada kain menggunakan bahan-bahan alami, seperti daun dan bunga, juga ranting yang jatuh.
Tekhnik transfer warna dan bentuk alami dari tumbuhan ke kain melalui kontak langsung, dengan cara di tempel ke kain, kemudian di kukus (steaming) atau di pukul (pounding).
Disebutkan Mariani, kain yang sudah ditata kemudian digulung rapat, diikat, dan dikukus selama dua jam. Uap panas akan membantu memindahkan pigmen ke kain.
Usai di kukus, lalu proses fiksasi (mengunci warna dengan larutan seperti tawas atau cuka), dan pengeringan untuk menciptakan motif yang diinginkan.
Mariani mengatakan bahwa ecoprint Sabang bukan sekadar produk, melainkan cerminan keindahan alam yang diabadikan dalam setiap helai kain.
Bahkan ada cerita balik setiap helai kainnya yang merupakan perpaduan kreatif tangan-tangan ibu-ibu dengan pewarna alami dari daun-daun yang jatuh, bunga-bunga yang merekah, semuanya memberikan jejaknya, menciptakan motif unik yang tak mungkin sama. Prosesnya pun alami, tanpa bahan kimia berbahaya, sehingga aman bagi lingkungan dan kulit.
Kini, produk Ecoprint Sabang semakin diminati, menjadi oleh-oleh khas yang dicari wisatawan dari berbagai penjuru. Menurutnya, Sabang telah memiliki oleh-oleh baru, selain kue bakpia Sabang, salak pondoh Sabang, juga yang lainnya, yakni bakal baju atau fashion yang unik ecoprint.
Setiap kain yang dibawa pulang adalah sepotong cerita tentang Sabang, tentang keindahan alamnya, dan tentang tangan-tangan kreatif yang menjaganya. Ecoprint Sabang adalah bukti bahwa keindahan dan keberlanjutan bisa berjalan beriringan.
Juga terbantunya perekonomian keluarga para ibu-ibu ini. Dimana, sebutnya, dalam sepekan ibu-ibu bisa mengumpulkan pundi-pundi cuan hingga ratusan ribu rupiah.