Dari Negeri Atas Awan ke Kota Apel, Dalam Satu Misi: Kolaborasi Pariwisata dan Pertanian yang Menginspirasi

Acehherald.com | Malang – Di tengah hiruk-pikuk perkembangan daerah, dua kabupaten yang berjarak ribuan kilometer ini sepakat menjalin sinergi: Aceh Tengah di ujung barat Indonesia dan Malang di Jawa Timur. Pertemuan yang digelar di Pendopo Bupati Malang, Selasa (22/4), menjadi saksi awal perjalanan kolaborasi strategis untuk memperkuat sektor pariwisata dan pertanian.

Aceh Tengah, dengan keindahan alam pegunungan Gayo dan hamparan kebun kopi Arabika yang mendunia, membawa cerita tentang pesona alam dan potensi pertanian yang belum tergarap maksimal.

Sementara Malang, dikenal sebagai “Kota Malang Makmur,” menawarkan pelajaran tentang pengelolaan wisata berbasis komunitas dan inovasi pengelolaan sampah terintegrasi.

Kopi Gayo Bertemu Gunung Bromo

Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, tampak antusias saat memaparkan potensi daerahnya. “Kami memiliki Danau Laut Tawar yang sering disebut sebagai Swiss-nya Indonesia, dan kopi Arabika Gayo yang sudah menembus pasar internasional,” ujarnya bangga.

“Kami memiliki Danau Laut Tawar yang sering disebut sebagai Swiss-nya Indonesia, dan kopi Arabika Gayo yang sudah menembus pasar internasional.”

Namun, Haili menyadari perlunya belajar dari kabupaten lain untuk memaksimalkan pengelolaan pariwisata dan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Di sisi lain, Bupati Malang, H. Husaini, berbagi pengalaman sukses daerahnya. Dengan luas lahan pertanian mencapai 43 ribu hektare dan hasil surplus komoditas seperti padi, tebu, hingga jeruk, Malang telah mencetak capaian besar. Bahkan, hasil perkebunan dan perikanan seperti ikan nila serta lele berhasil menembus pasar Eropa dan Amerika.

“Kami juga memanfaatkan sampah sebagai sumber energi terbarukan. Desa-desa kami sudah menikmati gas metana yang dihasilkan dari pengelolaan sampah, sehingga tidak lagi bergantung pada LPG,” jelas Husaini.

“Kami juga memanfaatkan sampah sebagai sumber energi terbarukan. Desa-desa kami sudah menikmati gas metana yang dihasilkan dari pengelolaan sampah, sehingga tidak lagi bergantung pada LPG.”

Pengelolaan seperti ini menarik perhatian Pemkab Aceh Tengah, yang selama ini bergulat dengan isu sampah di kawasan wisata mereka.

Baca Juga:  Selama Januari 2022, 53 Orang Meninggal Akibat Kecelakaan

Belajar dari Sampah Hingga Digitalisasi Wisata

Dialog kedua belah pihak mengalir lancar. Delegasi Aceh Tengah mencatat berbagai inovasi Malang, dari bank sampah hingga infopoint digital yang mempermudah wisatawan mengakses informasi. Tidak hanya itu, program desa wisata yang berbasis kearifan lokal juga menjadi inspirasi bagi Aceh Tengah.

“Kami ingin belajar bagaimana sistem digital dapat meningkatkan promosi wisata dan mencegah kebocoran PAD,” kata Haili.

Ia pun mengundang Pemkab Malang untuk mengunjungi Aceh Tengah dan merasakan langsung pesona alamnya. “Bapak Bupati akan melihat Swiss-nya Indonesia di Aceh Tengah nantinya,” tambahnya dengan senyum lebar.

“Bapak Bupati akan melihat Swiss-nya Indonesia di Aceh Tengah nantinya.”

Simbol Persahabatan dalam Cinderamata

Sebagai simbol komitmen, Haili Yoga menyerahkan plakat khas Aceh Tengah kepada Bupati Malang. Tidak ketinggalan, kopi Arabika Gayo menjadi buah tangan yang melambangkan keramahan dan potensi unggulan daerahnya. Sebaliknya, Pemkab Malang juga memberikan cinderamata sebagai tanda persahabatan antardaerah.

Pertemuan ini ditutup dengan harapan besar: sinergi antara Aceh Tengah dan Malang bukan hanya menghasilkan kolaborasi strategis, tetapi juga menjadi model kerja sama antardaerah yang menginspirasi. Di tengah percakapan hangat dan secangkir kopi, mimpi-mimpi besar untuk membangun Indonesia dari desa mulai dirajut.