BPBD Aceh Barat Kerahkan Tim WRU dan Pawang Gajah Atasi Gangguan Gajah Liar di Sungai Mas

Acehherald.com | Meulaboh, Konflik antara manusia dan satwa liar kembali terjadi di Kecamatan Sungai Mas, Kabupaten Aceh Barat. Dua ekor gajah liar dilaporkan memasuki kawasan Desa Pungkie dan menyebabkan kerusakan pada kebun kelapa sawit milik warga setempat.

Menanggapi hal ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Barat segera mengambil tindakan dengan mengerahkan Tim Wildlife Response Unit (WRU) dan pawang gajah untuk menghalau satwa tersebut kembali ke habitat alaminya.

Pelaksana Tugas Kepala BPBD Aceh Barat, Teuku Ronal Nehdiansyah, menjelaskan bahwa tim WRU telah berada di lokasi untuk memastikan keselamatan masyarakat sekaligus meminimalkan kerusakan lebih lanjut.

“Pengiriman tim ini adalah langkah preventif untuk mencegah potensi konflik yang lebih besar. Kami juga melibatkan pawang gajah agar proses penghalauan berjalan lebih efektif,” ujar Teuku Ronal dalam keterangannya.

Hingga Minggu malam, kawanan gajah tersebut dilaporkan belum kembali ke desa, namun BPBD memastikan bahwa upaya penghalauan akan terus dilakukan hingga situasi sepenuhnya terkendali.

Dampak Ekonomi dan Psikologis Bagi Warga

Kehadiran gajah liar tidak hanya menyebabkan kerusakan fisik pada kebun kelapa sawit tetapi juga menimbulkan ketakutan di kalangan warga. Beberapa petani mengeluhkan kerugian akibat tanaman mereka yang rusak, sementara yang lain khawatir tentang keselamatan keluarga mereka, terutama anak-anak yang bermain di sekitar desa.

Desa Pungkie merupakan salah satu wilayah yang berbatasan langsung dengan habitat alami gajah di hutan sekitar Kecamatan Sungai Mas. Konflik seperti ini bukan hal baru, mengingat perambahan hutan untuk keperluan perkebunan telah mempersempit ruang gerak satwa liar.

Peran Penting Kolaborasi dengan Lembaga Konservasi

Selain BPBD, keterlibatan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh juga sangat diharapkan dalam penanganan kasus ini. BKSDA biasanya memberikan panduan teknis dan dukungan dalam penanganan konflik satwa liar melalui program-program seperti patroli terpadu dan pelatihan mitigasi konflik.

Baca Juga:  Bupati Serdang Bedagai Kagumi Budaya Aceh

Pemerintah daerah juga diimbau untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya konservasi hutan sebagai upaya jangka panjang untuk mengurangi konflik antara manusia dan satwa liar.

Solusi Jangka Panjang: Konservasi dan Edukasi

Konflik seperti ini menunjukkan perlunya pendekatan holistik dalam menangani hubungan manusia dengan lingkungan. Selain penghalauan langsung, penting untuk mengedukasi masyarakat tentang cara hidup berdampingan dengan satwa liar. Program konservasi seperti pengamanan koridor gajah dan penanaman kembali hutan harus menjadi prioritas pemerintah daerah.

Langkah ini tidak hanya akan melindungi satwa liar tetapi juga memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan bagi masyarakat setempat.