Bahasa Gayo dan Kerawang: Suara Leluhur, Suara Kita

“Data dari UNESCO mencatat, lebih dari 40 persen bahasa di dunia berisiko punah dalam beberapa dekade mendatang—dan Bahasa Gayo termasuk dalam daftar yang perlu diawasi. Ketika bahasa punah, bukan hanya kata-kata yang hilang. Kita kehilangan cara pandang, filosofi, hingga cara hidup sebuah komunitas.”

TAKENGON | ACEHHERALD.com – Di tengah dinginnya kabut pagi yang menyelimuti dataran tinggi Gayo, ribuan siswa, guru, dan Aparatur Sipil Negara (ASN) berdiri tegak di lapangan Kantor Bupati Aceh Tengah.

Bukan sekadar untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2025, pagi itu mereka menerima pesan penting dari Bupati Haili Yoga—sebuah seruan untuk kembali menoleh ke akar, ke jati diri, ke bahasa dan budaya yang perlahan nyaris dilupakan: Gayo.

“Budaya bukan sekadar simbol. Ia harus hidup, menyatu dalam napas keseharian kita,” ujar Haili Yoga dengan suara lantang, menggetarkan barisan yang hadir.

Dalam amanatnya, Bupati Haili menyerukan agar seluruh sekolah, madrasah, dayah, serta lembaga pemerintahan di Aceh Tengah mengenakan baju Kerawang Gayo dan menggunakan Bahasa Gayo setiap hari Kamis.

Instruksi ini bukan hanya soal tampilan luar atau seremonial sesaat—ini tentang perlawanan terhadap kepunahan budaya yang terus mengintai dalam bayang-bayang modernitas.

Bahasa yang Terancam, Identitas yang Tergerus

Di Aceh Tengah, Bahasa Gayo bukan hanya alat komunikasi. Ia adalah cermin peradaban, kisah-kisah masa lampau yang diwariskan lewat lisan. Namun, seperti banyak bahasa daerah lainnya, Gayo kian tergeser.

Anak-anak lebih fasih berbahasa Indonesia, bahkan kadang lebih lancar berbicara dengan istilah gaul TikTok, ketimbang bahasa nenek moyangnya.

Data dari UNESCO mencatat, lebih dari 40 persen bahasa di dunia berisiko punah dalam beberapa dekade mendatang—dan Bahasa Gayo termasuk dalam daftar yang perlu diawasi. Ketika bahasa punah, bukan hanya kata-kata yang hilang. Kita kehilangan cara pandang, filosofi, hingga cara hidup sebuah komunitas.

Baca Juga:  Gampong Geulanggang Labu Disosor Puting Beliung, Kios Gampong Porak Poranda

Karena itulah, seruan Haili Yoga menjadi penting. Ia bukan hanya menginstruksikan, tetapi menghidupkan kembali kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga warisan. Melalui kebijakan hari Kamis berbahasa dan berpakaian Gayo, ia mencoba menanamkan nilai-nilai lokal sejak dini—mulai dari anak-anak sekolah hingga jajaran ASN.

Kerawang Gayo: Bukan Sekadar Pakaian

Kerawang Gayo, dengan motif khas yang sarat makna, bukan sekadar busana adat. Setiap sulam dan pola menyimpan filosofi hidup masyarakat Gayo—tentang kesabaran, keteguhan, dan kebersamaan. Ketika seseorang mengenakan Kerawang, ia sesungguhnya sedang membawa pesan nenek moyang dalam diam.

“Melalui baju dan bahasa, kita ingin menumbuhkan kebanggaan. Bukan hanya nostalgia, tetapi komitmen agar budaya Gayo tetap hidup di tengah derasnya arus globalisasi,” tegas Haili Yoga.

Melangkah Maju Tanpa Melupakan Akar

Pelestarian budaya sering kali dianggap tidak relevan dengan pembangunan. Namun bagi Haili Yoga, pendidikan dan pelestarian adat adalah dua sisi mata uang yang sama. Keduanya harus berjalan beriringan jika Aceh Tengah ingin melangkah maju tanpa kehilangan arah.

Instruksi mingguan ini mungkin terlihat kecil. Tapi jika dilaksanakan dengan tekun, ia bisa menjadi pondasi kuat untuk menjaga jati diri generasi muda Gayo.

Karena sejatinya, identitas bukan hanya ditulis dalam buku sejarah, tetapi dijaga dalam tindakan sehari-hari—dalam bahasa yang dituturkan, dalam kain yang dikenakan.

Dan di setiap Kamis mendatang, saat kata “Aman mu ceré” (apa kabarmu?) terdengar di sekolah dan kantor, masyarakat Gayo sesungguhnya sedang melawan kepunahan. Sedang menjaga agar warisan leluhur mereka tetap menyala—dengan tutur, dengan kain, dan dengan cinta.