MUSYAWARAH Daerah (Musda) XII atau ke-12 Dewan Pengurus Daerah (DPD) Golkar Aceh sejauh ini belum ada kepastian jadwal, disebut-sebut karena menyesuaikan dengan waktu Ketum Partai Golkar Bahlil Lahadia yang super padat. “Belum ada jadwal pasti, karena menyesuaikan dengan waktu Pak Ketum. Bahkan ada kemungkinan disamakan dengan Musda Golkar Sumatera Utara (Sumut). Misalnya pagi Pak Ketum membuka Musda Golkar Sumut dan malamnya membuka Musda Golkar Aceh,” ujar sebuah sumber di kepanitiaan Musda Golkar Aceh beberapa hari silam.
Terlepas dari jadwal yang belum ada ‘hilal’nya, sejak jauh hari layaknya Musda organisasi lainnya baik ormas maupun orpol, yang jauh lebih riuh rendah adalah gaung suksesinya. Termasuk dalam kancah Musda XII Golkar Aceh tentunya.
Berbeda dengan beberapa Parpol yang sangat sentralistik, Golkar tetap dengan pakem memberikan ruang kepada jajarannya untuk menentukan pilihan akhir melalui floor Musda. Bukan oleh keputusan Dewan Pengurus Pusat (DPP). Dengan demikian kondisinya jauh lebih dinamis dan terkesan lebih egaliter, mulai dari DPP sekalipun.
Namun tetap saja muncul sinyalemen ‘arahan’ dari ‘pusat’ menjadi kunci dari pilihan floor. Termasuk untuk figur yang notabene di luar ring. Ingat bagaimana Ketum Golkar saat ini yang juga Menteri ESDM Bahlil Lahadia didapuk sebagai Ketum Golkar menggantikan Airlangga Hartarto yang mengundurkan diri.
Bahlil terpilih melalui Munas Golkar ke-11 yang dilaksanakan 20-21 Agustus 2024 lalu. Seperti diakui Pimpinan Sidang Munas XI Partai Golkar Adies Kadir, seluruh pemilik suara di Munas tersebut, mulai dari DPD I, DPD II, organisasi pendiri, organisasi didirikan, hingga organisasi sayap, sepakat mendukung Bahlil untuk menjadi Ketum Partai Golkar periode 2024-2029.
Padahal saat itu, Bahlil telah sepuluh tahun tak lagi menjadi kader Partai Golkar, seperti diungkapkan oleh Wasekjen DPP Golkar kala itu, Samsul Hidayat. Bahlil yang mendapatkan karpet merah dari petinggi negara, akhirnya dipilih secara aklamasi oleh floor Munas. Walaupun sebelumnya kader internal sempat menolak dengan keras.
Sejarah membuktikan jika ‘katabelece’ dari Pusat itu memang ampuh dan membuat daerah bertekuk lutut. Musda ke-10 DPD Golkar Aceh kala kader daerah digadang gadang sekuat tenaga termasuk dengan perang urat syaraf, namun harus menyerah lewat floor Musda, saat kader dari DPP ‘diturunkan’. Kembali kepada Musda ke-12 Golkar Aceh kali ini, sedikitnya empat nama disebut-sebut telah mengerucut.
Keempatnya adalah Teuku Raja Keumangan (TRK). TRK Saat ini menjabat sebagai Bupati Nagan Raya dan dikenal sebagai salah satu tokoh senior di internal Golkar Aceh.
Kedua, Ali Basrah, yang saat ini menduduki posisi sebagai Wakil Ketua DPRA dan sekaligus Ketua Panitia Penyelenggara Musda ke-12 Partai Golkar Aceh.
Ketiga, Andi HS yang saat ini menjabat sebagai Ketua Bidang Kebijakan Kesejahteraan Rakyat DPP Golkar. Meski namanya masuk dalam bursa calon, Andi HS kepada media menyatakan dirinya belum berniat maju. Ia mengaku lebih memprioritaskan kader lain yang potensial untuk memimpin Golkar Aceh ke depan.
Nah ini sosok keempat, Bustami Hamzah yang pernah mencalonkan diri sebagai Gubernur Aceh, termasuk melalui dukungan Partai Golkar pada Pilkada 2024 lalu, namun akhirnya kalah unggul dari Mualem dan Dek Fad.
Sama dengan Bahlil, kehadiran Bustami telah memunculkan geliat dinamis di jajaran pengurus dan kader Partai Golkar Aceh. Beberapa statemen penolakan muncul di lintas media. Bahkan ada yang mengklaim Bustami telah mendapatkan ‘katabelece’ dari DPP, namun dia juga harus berjuang melalui floor Musda. Bukan melalui secarik SK dari DPP seperti partai lain.
Bercermin dari sejarah road to the throne (jalan menuju singgasana) ala Bahlil dan figure salah seorang Ketua DPD Golkar Aceh, rasanya Bustami punya peluang sama dengan kandidat lain, jika pun tak diungguilkan. Toh semasa bukan kader, Golkar telah berdiri tanpa reserve di kubunya saat kontestasi Pilgub Aceh.
Jangan-jangan Bustami mengikuti jejak Bahlil yang terinspirasi dari Julius Caesar dengan semboyan Veni, Vidi, Vici yang dalam bahasa latinnya Saya datang, saya melihat dan saya menaklukkan. Sebuah ucapan setelah kemenangan Julius Caesar dalam pertempuran singkat melawan Pharnaces II dari Pontus di Zela pada tahun 47 SM.
Bustami memang tak mendapatkan singgasana melalui secarik Keputusan dari DPP, namun floor yang tak terduga bisa saja mengarah kepada Om Bus, seperti yang dialami Bahlil. Ingat ini gawe Parnas, yang pejabat daerah tak mampu menjangkaunya hingga jauh ke dalam. Waktu jua yang akan menjawab semuanya.