
JAKARTA | ACEH HERALD – Tiba-tiba, Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menggelar commanders call atau rapat pimpinan khusus bersama para pimpinan DPD dan DPC partai. Commanders call itu bertujuan membahas isu terkini, salah satunya adalah isu adanya upaya yang mengarah pada ‘kudeta’ di Partai Demokrat.
Sementara ditempat terpisah, Moeldoko menjawab tudingan Partai Demokrat, meminta agar isu kudeta Partai Demokrat (PD) tidak dikaitkan dengan istana. Dia meminta agar Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak diganggu dalam isu ini. Moeldoko mengatakan Presiden Jokowi tidak tahu sama sekali dengan persoalan yang dihadapi Demokrat. Dia mengatakan urusan hanya sama Moeldoko.

Sebelum ke pokok persoalan, anak sulung Presiden RI ke-6 sekaligus mantan Ketum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini memperkenalkan para elite partai yang mendampinginya. Kemudian dia menyebut ada tiga hal yang dibahas dalam commanders call, yakni soal bencana yang terjadi di beberapa daerah di tanah air, pandemi COVID-19 dan terakhir soal upaya ‘kudeta’ di Partai Demokrat.
AHY menyebut, berdasarkan informasi yang dia terima, niat ‘kudeta’ di Partai Demokrat didukung menteri di Kabinet Indonesia maju dan sejumlah pejabat penting RI. Namun, dia mengaku tetap mengedepankan azas praduga tak bersalah.”Menurut kesaksian dan testimoni banyak pihak yang kami dapatkan, gerakan ini melibatkan pejabat penting pemerintahan, yang secara fungsional berada di dalam lingkar kekuasaan terdekat dengan Presiden Joko Widodo,” sambung dia.
“Karena itu, tadi pagi, saya telah mengirimkan surat secara resmi kepada Yang Terhormat Bapak Presiden Joko Widodo untuk mendapatkan konfirmasi dan klarifikasi dari beliau terkait kebenaran berita yang kami dapatkan ini,” ucap AHY.
“Sehubungan dengan hal itu, saya akan menyampaikan penjelasan tentang gerakan politik, yang bertujuan mengambil alih kekuasaan pimpinan Partai Demokrat secara inkonstitusional itu, sebagai pembelajaran bagi kita, karena hal ini bisa saja terjadi pada partai politik lainnya,” imbuh suami Anissa Pohan ini.
AHY mengungkapkan kabar ‘kudeta’ itu didengarnya dari pimpinan dan kader Partai Demokrat, baik di pusat maupun daerah. Kabar itu diterimanya 10 hari lalu.
“Tentang adanya gerakan dan manuver politik oleh segelintir kader dan mantan kader Demokrat, serta melibatkan pihak luar atau eksternal partai, yang dilakukan secara sistematis,” tutur AHY.
Sejurus dengan AHY, Wasekjen Demokrat Jansen Sitindaon di Twitter-nya bicara soal sosok jenderal. Dia juga menyinggung jasa-jasa SBY kepada sosok jenderal tersebut.
“Aku hanya ingin mengetukmu sebagai sesama orang yang di dalam diri kita ada jasa Pak SBY, kudoakan engkau baik-baik saja Jenderal, tidak kena karma atas lupanya engkau akan sejarah dirimu,” sebut Jansen.

Politis Demokrat Andi Arief ikut meramai isu ‘kudeta’ di Partai Demokrat dengan langsung ‘menunjuk hidung’ Kepala Kantor Staf Kepresiden (KSP) Moeldoko. Dia pun menjelaskan alasan AHY mengirim surat perihal isu ‘kudeta’ ini ke Presiden Jokowi karena konon operasi mengkudeta itu direstui Presiden Jokowi.
“Banyak yang bertanya siapa orang dekat Pak Jokowi yang mau mengambil alih kepemimpinan AHY di Demokrat, jawaban saya KSP Moeldoko. Kenapa AHY berkirim surat ke Pak Jokowi, karena saat mempersiapkan pengambilalihan menyatakan dapat restu Pak Jokowi,” kata Andi Arief di akun Twitter-nya yang dibagikan ke wartawan.



















