Aceh Miliki Daya Tarik Unik dengan Keindahan Alamnya untuk Menarik Wisatawan

KEINDAHAN alam di Aceh, kerap dinilai atau dibandingkan bak indahnya alam di Negara Swiss atau sudut Eropa lainnnya. Bahkan influenzer terkadang menyebutkan lokasi wisata di Aceh, seperti Jeju di Korea Selatan atau layaknya sudah ke Jepang, padahal masih berdiri di tanah Aceh.

Tak hanya masyarakat Aceh yang memuji hal tersebut. Seperti akun medsos jejezhuang yang setahun terakhir ini, kerap memposting keindahan dan kuliner Aceh. Dalam postingannya suka menyentil bahwa Aceh itu, aman, makanya hampir seminggu sekali ke Aceh bersama keluarganya.

Tak hanya jejezhuang yang merupakan warga Medan, Sumatera Utara. Begitu juga masih banyak orang luar Aceh yang memposting di instagram, tik tok, facebook, atau akun medsos lainnya tentang bagaimana aman dan nyaman nya kalau berwisata ke Aceh.

Dari media sosial inilah, kita tahu bagaimana pendapat mereka yang pernah berkunjung ke Aceh, dimana umumnya memiliki pandangan positif tentang potensi investasi di daerah ini. Mereka melihat Aceh sebagai daerah yang kaya akan sumber daya alam dan memiliki potensi pariwisata yang besar. Beberapa dari mereka tertarik untuk berinvestasi di sektor pariwisata, seperti pembangunan hotel, resort, dan fasilitas wisata lainnya.

Contohnya, Freddie Santai Sumurtiga Sabang yang ownernya merupakan orang Italia asli. Sudah belasan tahun berinvestasi di sektor pariwisata di Sabang, Pulau Weh. Tak hanya Freddie, pemilik Sunset Beach Resort pun, mulai mengikuti jejak Freddie dengan membangun resort dan cafe di sisi sebelah timur Pulau Weh setempat.

Melihat kesuksesan kedua orang asing ini di Sabang, banyak pemerhati pariwisata mengemukakan pendapatnya bahwa Aceh memiliki potensi alam yang mendunia, hanya saja belum di asah.

Makanya, mereka juga menyadari bahwa ada beberapa tantangan yang perlu diatasi, seperti infrastruktur yang belum memadai, regulasi yang kompleks, dan masalah keamanan yang sudah semakin kondusif. Oleh karena itu, mereka berharap pemerintah daerah dapat menciptakan iklim investasi yang kondusif dan memberikan insentif yang menarik bagi investor.

Bicara soal pariwisata daerah ini, secara metaforis, daya tarik wisata di Aceh dapat diibaratkan seperti permata yang belum sepenuhnya terpoles; keindahan alaminya sudah memancar (seperti bawah laut Sabang yang alami atau Danau Laut Tawar yang indah), tetapi masih membutuhkan kerangka emas (infrastruktur dan regulasi yang baik) untuk memaksimalkannya dan menarik lebih banyak perhatian dari seluruh dunia.

Baca Juga:  KIP Serahkan Tahapan Pilwalkot ke Pimpinan DPRK Lhokseumawe

Keindahan Bawah Laut Sabang yang Mendunia

Banyak Wisatawan nusantara mengagumi keindahan alam Sabang yang eksotis dan suasana yang berbeda dari daerah lain di Indonesia. Mereka menikmati kuliner khas Aceh yang kaya rempah, seperti sate gurita atau mie gurita, bahkan mie kocok sedap yang selalu dirindukan untuk terus dicicipi jika ke Sabang.

Juga oleh-oleh kue bakpia Sabang yang telah menjadi idola khas daerah setempat.  Dan baru- baru ini, mulai berkembang Coklat Sabang yang dinamai Cokbang. Oleh-oleh ini merupakan produksi dari petani lokal yang pemasarannya mendunia.

Husna, wisatawan asal Negeri Jiran Malaysia, salah seorang yang memburu Coklat Sabang sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang ke negaranya.

Ia mengaku Aceh sangat aman. Jadi warga Negara Malaysia banyak yang menjadikan Banda Aceh dan Sabang sebagai kota tujuan wisata. Khususnya melihat dari dekat pemandangan bawah laut di Pulau Rubiah.

“Tak ada biaya ini itu untuk memasuki tempat wisata, kalau pun ada, hanya parkir saja. Dan makanan pun termasuk murah,” aku Husna, gadis berusia 27 tahun ini.

Selain kuliner, wisatawan juga  mengunjungi tempat-tempat bersejarah seperti Benteng Jepang di Anoi Itam dan Mercusuar Iboih. Juga bangunan asrama haji di Pulau Rubiah, saksi bisu sejarah yang mulai dilupakan.

Keindahan dan pesona destinasi di Sabang, juga tak kalah menariknya, yakni keindahan alam di Takengon  atau Aceh Tengah. Pelancong luar Aceh, begitu terpesona dengan keindahan Danau Lut Tawar yang dikelilingi oleh pegunungan yang hijau. Mereka menikmati suasana yang sejuk dan tenang, serta menyeruput kopi Gayo yang terkenal.

Beberapa wisatawan juga tertarik dengan budaya Gayo yang unik dan mengunjungi desa-desa tradisional. Bahkan, pada bulan-bulan tertentu, wisatawan nusantara dan mancanegara sengaja datang ke Takengon untuk menyaksikan pacuan kuda yang tanpa pelana. Yang unik lainnya di pacuan kuda ini, tak ada nomor aduan, sebagai penanda sang jokinya hanya mengenakan baju berwarna hijau, merah, kuning, dan warna cerah lainnya.

Baca Juga:  Tgk Amran Lakukan Panen Perdana Musim Gadu di Aceh Selatan

Tak hanya itu, destinasi arung jeram pun di Sungai Krueng Peusangan yang hulunya di Danau Lut Tawar menjanjikan sensasi adrenalin pengunjung.

Potensi Wisata Halal

Seperti diketahui, Aceh memiliki potensi pariwisata yang luar biasa, meliputi wisata bahari, alam, budaya, religi, hingga kuliner. Terdapat lebih dari 840 destinasi wisata yang tersebar di seluruh penjuru Aceh, serta lebih dari 1.000 situs cagar budaya yang menjadi potensi besar untuk pengembangan wisata sejarah.

Seperti di Banda Aceh dan Aceh Besar, sebagai pusat sejarah, kuliner, dan religi, ibukota Provinsi Aceh, inj menawarkan kombinasi menarik antara wisata sejarah, religi, bahari, dan kuliner khas Aceh. Wisatawan dapat menjelajahi Masjid Raya Baiturrahman yang ikonik dan merasakan atmosfer peringatan tsunami di Museum Tsunami Aceh .

Sedangkan Aceh Besar, menawarkan pengalaman wisata yang memacu adrenalin sekaligus menenangkan mata dengan destinasi populer seperti Air Terjun Suhom, Teluk Jantang, Bukit Lamreh, dan Pantai Lampuuk .

Sementara itu, Aceh Singkil menyimpan keindahan yang masih alami, terutama di kawasan Kepulauan Banyak. Wisata religi juga menjadi bagian penting dari daya tarik Aceh Singkil, dengan Makam Ulama Syekh Abdurrauf As Singkili yang ramai dikunjungi peziarah.

Untuk diketahui bahwa Aceh memiliki potensi wisata halal yang kental dan terjaga sejak lama, yang terlihat dari berbagai tradisi dan kebiasaan masyarakatnya yang berlandaskan syariat Islam. Masjid-masjid bersejarah dengan arsitektur yang unik, seperti Masjid Raya Baiturrahman dan Masjid Baitussalam, menjadi saksi bisu sejarah Islam di Aceh.

Dengan potensi yang beragam ini, Aceh terus berbenah diri untuk menyediakan berbagai fasilitas dan layanan wisata yang lengkap, termasuk hotel dan restoran yang menyediakan menu makanan halal dengan bahan-bahan segar dan berkualitas.