Terimakasih untuk Keadilan Nuraniah Bagi Mursyidah

LHOKSEUMAWE,ACEHHERALD.com – UCAPAN alhamdulillah langsung memungkasi keheningan sejenak Ruang Garuda PN Lhokseumawe, Selasa (5/11/2019) siang, sejenak Ketua Majelis Hakim Jamaluddin SH memungkasi bacaan vonis untuk Mursyidah.  Ya…wanita miskin itu didakwa merusak pangkalan gas 3 kg tak jauh dari rumahnya di Gampong Meunasah Masjid, Kecamatan Muara Dua Kota Lhokseumawe. Akhirnya ia divonis hukuman percobaan, tepatnya 3 … Read more

Iklan Baris

Lensa Warga

Muryidah menemui mahasiswa sejenak usai vonis. Terimakasih..terimakasih… Foto Ist/dok

LHOKSEUMAWE,ACEHHERALD.com – UCAPAN alhamdulillah langsung memungkasi keheningan sejenak Ruang Garuda PN Lhokseumawe, Selasa (5/11/2019) siang, sejenak Ketua Majelis Hakim Jamaluddin SH memungkasi bacaan vonis untuk Mursyidah.  Ya…wanita miskin itu didakwa merusak pangkalan gas 3 kg tak jauh dari rumahnya di Gampong Meunasah Masjid, Kecamatan Muara Dua Kota Lhokseumawe. Akhirnya ia divonis hukuman percobaan, tepatnya 3 bulan penjara dengan masa percobaan enam bulan.

Artinya, Mursyidah yang siang itu membawa ketiga anaknya ke ruang sidang– Fitriani (12), M Reza (10), dan M Mirza (4)—bisa bernapas lega. Wanita yang baru meninggal suami tersebut tak jadi berpisah dengan ketiga anaknya, seandainya ia jadi masuk jeruji besi.

Terasa istimewa memang, persidangan vonis itu dihadiri banyak orang, ada politisi, ada praktisi hukum, kelompok LSM hingga puluhan mahasiswa yang menggelar aksi selama proses persidangan. Semuanya memberi dukungan moril untuk janda miskin itu. Tak ayal, bukan hanya Mursyidah yang berlinang air mata, sebagian besar yang menghadiri persidangan itu, baik di dalam maupun luar ruangan, juga tak dapat menahan linangan air mata.

Terimakasih….terimakasih…kata Mursyidah terbata dengan air mata yang tak bisa ia bendung, saat ia menemui rombongan mahasiswa yang berorasi di luar pagar PN Lhokseumawe. Dengan sibungsu Mirza (4) di dalam gendongan, Mursyidah sempat mengundang para mahasiswa itu untuk hadir bagi Khanduri 30 hari meninggal suaminya. Dengan rasa haru pula, Mursyidah yang tampil dengan busana sederhana itu berlalu meninggalkan PN Lhokseumawe naik kendaraan pikap bersama para kerabat dan tetangganya.

Ketua PN Lhokseumawe, Teuku  Syarafi SH MH yang juga ikut menemui para mahasiswa mengatakan, vonis itu adalah suara kebenaran yang hakiki, tanpa terpengaruh dengan factor eksternal pengadilan. Tidak karena tekanan legislative, eksekutif atau elemen manapun. “Kami Lembaga yudikatif yang punya hirarki dengan Mahkamah Agung. Hanya itu,” tegas Teuku Syarafi yang kini sedang menjadi mahasiswa doctoral di FH Unsyiah.

Baca Juga:  Mayat Misterius di Bawah Jembatan Peureulak Ternyata Warga Langsa

Kasus Mursyidah sebenarnya mirip dengan kasus Nek Minah dari Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Banyumas, Jawa Tengah. Wanita itu harus duduk di kursi pesakitan hanya karena mencuri tiga buah coklat milik sebuah perusahaan perkebunan. Hakim sambil menangis memutuskan hukuman 1 bulan 15 hari dengan masa percobaan 3 bulan. Artinya Nek Minah bebas dari dinginnya bui. Sama dengan yang dialami Mursyidah, yang sebelumnya dituntut 10 bulan penjara atas nama penegakan hukum terhadap perbuatan wanita itu, seperti diakui JPU, M Doni Siddiq.

Seperti dikatakan Teuku Syarafi SH, netralitas pengadil tak terpengaruh dengan apapun factor eksternal pengadilan. Yang jelas, pedang hukum telah tegak dalam kasus Mursyidah. Dan semuanya menjadi lega, karena sanubari tak jadi terluka, seiring keharuan wanita miskin itu mendengar vonis, sambil menatap penuh arti tiga orang bocahnya. Nak kalian tak jadi ‘yatim piatu’, mungkin itu gumam Mursyidah

 

Nurdinsyam

Pemimpin Redaksi

Berita Terkini

Haba Nanggroe