Shicheng: Atlantis Timur dari Negeri Naga

Banda Aceh, AcehHerald.com – Kota Shicheng adalah kota yang berdiri megah di dalam danau Qiandao, Provinsi Zhejiang, 400 km selatan kota Shangai. Berdiri sejak tahun 1368, menjadi salah satu bukti kemegahan arsitektur kota batu era imperium China, Dinasti Ming dan Qing. Kota ‘Singa Batu’ ini sengaja di tenggelamkan Pemerintah China untuk membangun Bendungan Xin’an dan … Read more

Iklan Baris

Lensa Warga

Banda Aceh, AcehHerald.com – Kota Shicheng adalah kota yang berdiri megah di dalam danau Qiandao, Provinsi Zhejiang, 400 km selatan kota Shangai. Berdiri sejak tahun 1368, menjadi salah satu bukti kemegahan arsitektur kota batu era imperium China, Dinasti Ming dan Qing.



Kota ‘Singa Batu’ ini sengaja di tenggelamkan Pemerintah China untuk membangun Bendungan Xin’an dan pembangkit listrik yang berdekatan dengannya pada tahun 1959. Saat itu, pemerintah memindahkan 300-an ribu jiwa penduduknya dan membiarkannya sebelum perlahan-lahan hilang ditelan air.

Setelah pembangunan selesai, kota ini terlupukan selama beberapa dekade. Sampai pada tahun 2001, Pemerintah China melakukan eskpedisi untuk melihat kondisi kota yang berada di kedalaman 26-40 meter itu.

Penjelajahan tersebut memancing rasa ingin tahu yang lebih besar bagi kalangan sejarawan dan masyarakat. Majalah National Geography juga menerbitkan beberapa foto dan ilustrasi yang belum pernah dilihat satu orang pun. Foto tersebut menampilkan kota kecil yang ukurannya sekitar setengah kilometer persegi. Di dalam gambar tersebut, Shinceng masih tampak seperti masa jayanya.

Lewat serangkaian ekspedisi dan foto-foto bawah danau terungkap bahwa kota Shicheng memiliki lima pintu masuk. Ada dua gerbang yang menghadap ke arah Barat, dan gerbang yang menghadap arah mata angin lainnya.

Kota Singa tersebut juga memiliki jalan-jalan lebar dengan 265 gapura yang dihiasi patung batu berbentuk singa, naga, burung naga, dan prasasti sejarah. Beberapa diantaranya berasal dari tahun 1777, arsitektur tembok kota diyakini berasal dari abad ke-16.

Walau berada jauh di dasar air, Shicheng tetap terjaga dengan baik. Air telah melindunginya dari angin, hujan, dan erosi matahari. Saat ini, para penyelam canggih bisa melihat dari dekat reruntuhan kuno tersebut.

Baca Juga:  FKISI Susoh Bersihkan Toilet dan Kamar Masjid

Mereka dapat melakukannya dengan operator selam seperti Big Blue dan Zi Ao Diving Club yang menyelenggarakan penyelaman rutin antara April dan November. Sampai sekarang, reruntuhan belum dapat dipetakan sehingga belum diperbolehkan bagi masyarakat umum untuk melakukan penyelaman. (dbs)



Berita Terkini

Haba Nanggroe