Saatnya Kopi Gayo Bangkit  

ANGIN segar sepertinya akan bertiup kembali dalam bisnis dan budidaya kopi gayo. Sempat dirundung rasa khawatir serta meruntuhkan spirit dagang dan budidaya di kalangan petani hingga pengumpul kopi gayo, sejenak bersiliwerannya isu seputar penolakan buyer kopi gayo di Negara Eropa, setelah klaim bahwa kopi gayo organic mengandung residu pestisida rumput atau herbisida jenis glyposhate, kini … Read more

Iklan Baris

Lensa Warga

Panen kopi gayo , foto Ist

ANGIN segar sepertinya akan bertiup kembali dalam bisnis dan budidaya kopi gayo. Sempat dirundung rasa khawatir serta meruntuhkan spirit dagang dan budidaya di kalangan petani hingga pengumpul kopi gayo, sejenak bersiliwerannya isu seputar penolakan buyer kopi gayo di Negara Eropa, setelah klaim bahwa kopi gayo organic mengandung residu pestisida rumput atau herbisida jenis glyposhate, kini isu itu mulai tertepis.

Spontan dunia perkopian gayo yang menjadi penyuplai 30 persen kopi nasional dengan luas lahan sekitar 100 ribu hektar atau sepertiga luas lahan kopi nasional, gonjang ganjing. Klaim negative buyer Eropa itu diungkapkan oleh Ketua Koperasi Ketiara, Rahmah, kepada media, medio dua pekan silam. Diakui atau tidak, inilah mimpi buruk yang sangat tak diharapkan bagi kopi arabika gayo yang selama ini menjadi primadona pasar dunia. Seperti diketahui, penghasil kopi terbesar dunia adalah Brazil, sementara Indonesia berada di posisi ke-4 di bawah Vietnam dan Kolombia.

Namun secra nasional, kopi gayo adalah penyumbang sekitar 30 persen kopi Indonesia. Selain itu, pamor kopi gayo mampu mengalahkan aroma kopi Amerika Latin  dan Vietnam sekalipun. Kopi arabika gayo mampu eksis di belantara pasar kopi Eropa.  Bahkan franchise kopi terdepan dunia starbuck disebut sebut memakai kopi arabika gayo sebagai bahan bakunya.

Di tengah rasa galau yang nyaris tiada ujung itu, akhirnya sebuah pernyataan melegakan diungkapkan oleh Atase Pertanian Indonesia (Atani) untuk Uni Eropa di Brussel. Ia telah memastikan tak ada penolakan kopi arabika gayo di Pasar Uni Eropa. Bantahan itu diungkapkan dalam seminar  Sosialisasi Kopi Arabika Organik yang berlangsung di Gedung Olah Seni (GOS), Takengon, Aceh Tengah, Sabtu (26/10).

Baca Juga:  Usai Pemilu, Selandia Baru Catat Kasus Baru Corona

Bantahan itu setidaknya menjadi sitawar sidingin untuk dunia kopi arabika Aceh. Karena secara langsung memutar kembali roda optimisme para petani kopi di Bener Meriah, Aceh Tengah dan Gao Lues. ‘Dendang’ didong pun seperti makin menghipnotis.

Dukungan juga datang dari Plt Gubernur Aceh Ir H Nova Iriansyah, MT dalam pidato pembukaan, yang dibacakan Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh A Hanan, MM. Pak Plt secara terbuka  sangat menyayangkan mencuatnya isu kopi gayo tercemar itu.

Secara langsung isu itu mendatangkan sentiment negative bagi dunia kopi gayo. Namun dengan adanya bantahan dari Atani, secara langsung mematahkan sinyalemen negative yang beredar.

Tanpa bermaksud melebihkan, bantahan itu bisa jadi membuktikan adanya mafia kopi yang berusaha mencari jalan pintas, dengan meruntuhkan moral petani.

Kita tak ingin drama horor usaha tani sawit menimpa kopi gayo. Karena itu sama dengan menghadirkan mimpi buruk untuk ratusan ribu petani di Negeri Antara atau Dataran Tinggi Gayo. Karena itu kita meminta semua pihak berempati menyelamatkan kopi gayo, termasuk melalui proses dagang sehat, dan tidak malah menakut nakuti petani dengan isu yan tak jelas.

 

Nurdinsyam

Pemimpin Redaksi

Berita Terkini

Haba Nanggroe