Radikalisme, Kok Tiba Tiba Jadi Urusan Celana Cingkrang dan Cadar

ACEHHERALD.com – ISU isu yang terkait dengan istilah radikal tiba tiba kembali mencuat dan membuat gerah. Lebih membuat pusing lagi, ketika tiba tiba isu radikal itu sudah mengarah ke celana cingkrang dan cadar. Lalu dengan gagah berani seorang petinggi negara, menyatakan akan melarang penggunaan cadar dan celana cingkrang. He he he he, sepertinya lakon kok … Read more

Iklan Baris

Lensa Warga

ACEHHERALD.com – ISU isu yang terkait dengan istilah radikal tiba tiba kembali mencuat dan membuat gerah. Lebih membuat pusing lagi, ketika tiba tiba isu radikal itu sudah mengarah ke celana cingkrang dan cadar. Lalu dengan gagah berani seorang petinggi negara, menyatakan akan melarang penggunaan cadar dan celana cingkrang. He he he he, sepertinya lakon kok menjadi makin lucu, ketika istilah radikal tiba tiba menohok suatu kaum dan kelompok, yang notabene tak ada hubungannya.

Direktur Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Irfan Idris sendiri berharap agar masyarakat tidak mudah menjustifikasi suatu hal terkait radikalisme.

Irfan menyampaikan radikal berasal dari kata radiks yang artinya berpikir hingga ke akarnya. Ia menyebutkan, ada tiga ciri orang yang berfikir secara radikal. Yakni, berpikir komprehensif, berpikir sistematis, dan berfikir universal.

Orang yang berpikir subjektif, menurut Irfan, justru tidak berpikir secara radikal atau radiks, tidak berpikir hingga ke akar-akarnya. Sementara radiklisme ingin mengubah keadaan dengan radiks, tuntas hingga ke akarnya, secara  cepat.

Bahkan menurut Irfan, sebuah pemahaman itu harus radikal atau tuntas, bukan sepotong -potong.

Istilah radikal dan radikalisme berasal dari bahasa Latin “radix, radicis”. Menurut The Concise Oxford Dictionary (1987), berarti akar, sumber, atau asal mula. Kamus ilmiah popular karya M. Dahlan al Barry terbitan Arkola Surabaya menuliskan bahwa radikal sama dengan menyeluruh, besar-besaran, keras, kokoh, dan tajam.

Hampir sama dengan pengertian itu, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990), radikal diartikan sebagai “secara menyeluruh”, “habis-habisan”, “amat keras menuntut perubahan”, dan “maju dalam berpikir atau bertindak”.

Dalam pengertian lebih luas, radikal mengacu pada hal-hal mendasar, pokok, dan esensial. Berdasarkan konotasinya yang luas, kata itu mendapatkan makna teknis dalam berbagai ranah ilmu, politik, ilmu sosial, bahkan dalam ilmu kimia dikenal istilah radikal bebas.

Baca Juga:  Gatot Nurmantyo Sebut Partai Ummat Bentuk Evaluasi dari PAN

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, radikal diartikan paham atau aliran yang radikal dalam politik, paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis sikap ekstrem dalam aliran politik

Mengacu dengan semua pernyataan di atas, wajar jika Lembaga PBB pernah mengingatkan Indonesia untuk berhati hati menggunakan istilah terkait radikalisme, karena bisa merusak reputasi sejarah bangsa bangsa besar yang lahir karena terjadinya tindakan revolusioner, seperti Perancis. Ya…mereka melakukan perubahan secara radikal, untuk memperoleh kehidupn baru. Seperti yang didengungkan oleh Bapak Bangsa ini, Ir Soekarno yang mengimbau semua pihak untuk bertindak dan berpikir secara radikal, agar memunculkan perubahan sikap dalam membangun negeri ini. Lalu apa hubungannya radikal dengan agama? Atau malah lebih parah, radikal dengan celana cingkrang dan cadar? Lebih aneh lagi kok tiba tiba di tikungan terakhir muncul yang lebih seram, manipulator agama. Entahlah, bisa jadi itu mencakup manipulator agama Islam, agama Kristen, agama Hindu, atau agama Budha, karena namanya saja manipulator agama, jadi agama secara universal di negeri ini. Nah!!

 

Nurdinsyam

Pemimpin Redaksi.

Berita Terkini

Haba Nanggroe