Prediksi Cuaca Sepekan: Tak Ada yang Lebih Tabah dari Hujan Bulan Juni

Potensi Hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang, termasuk di provinsi yang mulai dilanda kemarau bulan ini. Rinciannya, Aceh, Sumatra Utara.
Ilustrasi. Hujan diprediksi masih akan membasahi sebagian besar provinsi. (PublicDomainPictures/Pixabay)

Iklan Baris

Lensa Warga

JAKARTA | ACEHHERALD.COM — Beberapa daerah diprediksi masih akan hujan sedang hingga lebat meski di saat yang sama juga diprediksi sudah masuk musim kemarau. Simak faktor-faktor penyebabnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi beberapa wilayah memasuki musim kemarau pada Juni 2024. Yakni Jakarta, sebagian kecil Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, sebagian Jawa Timur, sebagian kecil Maluku, sebagian Papua, dan Papua Selatan.

Sementara, daerah lain yang sudah memasuki musim kemarau antara lain Bali, NTB, dan NTT.

Walau begitu, BMKG mengungkap hujan masih ‘tabah’ melanda di beberapa provinsi yang diprakirakan akan masuk musim kemarau itu.

Pada prospek cuaca mingguan Periode 18 hingga 24 Juni, BMKG mengungkap peringatan dini untuk berbagai wilayah.

Pertama, potensi Hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang, termasuk di provinsi yang mulai dilanda kemarau bulan ini.

Rinciannya, Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kep. Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatra Selatan, Kep. Bangka Belitung, Lampung, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara; Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua.

Kedua, potensi dampak dari bahaya hujan lebat. BMKG menyebut Kategori Siaga tidak terdapat di wilayah Indonesia.

Yang ada adalah Kategori Waspada, yakni di Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua.

Ketiga, potensi angin kencang. Ini ada di Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua Barat, Papua Barat Daya, dan Papua Selatan.

Baca Juga:  Tangis Pecah Tak Terbendung, Dahniar Akhirnya Tiba di Pemakaman Cek Gu Zaki

Sebelumnya, BMKG juga mendeteksi curah hujan tinggi atau hujan ekstrem (di atas 150 mm) di beberapa wilayah pada dasarian II Juni (tanggal 10-20).

Yakni, di Amahai (Maluku) 196,0 mm, di Timika (Papua Tengah) 158,8 mm.

Selain itu, ada hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat (curah hujan di atas 100 mm) yang terpantau pada 10 Juni di Samarinda (Kalimantan Timur) 106,4 mm; 15 Juni di Papua Barat 122 mm dan di Bandara Soekarno-Hatta 114 mm; 16 Juni di Sumatra Utara 143 mm.

Fenomena atmosfer

BMKG menuturkan sejumlah dinamika atmosfer yang berpengaruh signifikan terhadap pembentukan awan hujan (konvektif) itu.

Pertama, aktivitas gelombang atmosfer Rossby Ekuatorial. Ini diprakirakan aktif di wilayah Sumatra bagian utara dan tengah, Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, dan Papua Barat Daya.

Kedua, aktivitas gelombang atmosfer Kelvin yang terpantau di wilayah Sumatra, Jawa, Kalimantan, Bali dan Nusa Tenggara, serta sebagian Sulawesi bagian barat untuk sepekan ke depan.

Ketiga, sirkulasi siklonik yang terpantau di Samudera Pasifik Timur Filipina. Fenomena ini membentuk daerah perlambatan kecepatan angin (konvergensi) memanjang di Samudera Pasifik Tenggara Filipina.

Ada pula daerah pertemuan angin (konfluensi) memanjang di Samudera Pasifik sebelah utara Papua Barat Daya.

Daerah konvergensi lainnya memanjang dari Samudra Hindia Barat Sumatra Barat hingga Aceh, dari Laut Jawa hingga Selat Karimata, dari Samudra Hindia Selatan Jawa Timur hingga pesisir selatan Jawa Tengah;

Dari Selat Makassar hingga Kalimantan Timur, dari Laut Banda hingga Sulawesi Utara, dari Laut Banda hingga Maluku Utara, dari Papua Tengah hingga Papua Barat, dan di Laut Natuna.

Keempat, Labilitas Lokal Kuat yang mendukung proses konvektif pada skala lokal. Ini ada di sebagian besar Sumatra, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sebagian Kalimantan;

Baca Juga:  Ujicoba Terakhir di Sumut, PSSB Bireuen Menang Besar

Selain itu, di Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.

Kata Kunci (Tags):
cuaca ekstrem, hujan lebat, musim kemarau, bmkg, prakiraan cuaca, la nina, el nino, sapardi djoko damono,

Berita Terkini

Haba Nanggroe