Muslim Eropa Fasilitasi Siaga Bencana Disabilitas

BANDA ACEH I ACEHHERALD.com – Komunitas muslim Eropa melalui Forum Komunikasi Masyarakat Berkebutuhan Khusus Aceh  (FKMBKA), menggelar worshop sekaligus training Evakuasi Mandiri Pengurangan Risiko Bencana Inklusi bagi penyandang disabilitas. Acara yang berlangsung sejak pgi, Rabu (25/12/2019) itu berlangsung di Aula Kampus Iskanda Muda, Surin, Kota Banda Aceh. Dalam kesempatan itu juga dilakukan simulasi evakuasi mandiri … Read more

Iklan Baris

Lensa Warga

Simulasi evakuasi penyandangan disabilitas saat terjadi bencana. Foto Ibrahin Sihombin

BANDA ACEH I ACEHHERALD.com – Komunitas muslim Eropa melalui Forum Komunikasi Masyarakat Berkebutuhan Khusus Aceh  (FKMBKA), menggelar worshop sekaligus training Evakuasi Mandiri Pengurangan Risiko Bencana Inklusi bagi penyandang disabilitas. Acara yang berlangsung sejak pgi, Rabu (25/12/2019) itu berlangsung di Aula Kampus Iskanda Muda, Surin, Kota Banda Aceh.

foto Ibrahim Sihombing

Dalam kesempatan itu juga dilakukan simulasi evakuasi mandiri bagi penyandang disabilutas, saat terjadi bencana.

Menurut Syarifuddin, ketua FKMBKA, kegiatan itu jug bagian refleksi 15 tahun tsunami. Sebuah megabencana yang melanda Aceh tanggal 26 Desember tahun 2004 yang lalu. Ia juga mengingatkan pemerintah untuk peduli terhadap penyandang disabilitas. “Pemerintah jangan hanya bisa bilang mlawan lupa membangun siaga bencana, namun tak berbuat apa apa untuk penyandang disabilitas. Terutama dalam kaitan penyelamatan atau evakuasi terhadap penyandang disabilitas saat terjadinya bencana,” tutur Syarifuddin.

Ditambahkan, komitment untuk disabilitas itu sudah tertuang secara jelas pada UU nomor 24 tahun 2007 PP Nonomor 21 tahun 2008, tentang penanggulangan bencana. Di situ dituliskan, bahwasanya kelompok disabilitas, ibu hamil, anak anak dan lansia adalah kelompok rentan. “Selama ini terkesan pemerintah memandang sebelah mata kepada disabilitas. Jangan mereka nanti mati konyol dalam setiap terjadinya bencana,” kata Syarifuddin, seraya menambahkan jika acara yang mereka selenggarakan nihil bantuan dari pemerintah.

Salah seorang penderita Disabilitas, Elyna Marlinda mengatakan, seharusnya simulasi itu juga lebih menekankan pada kekhususan  penyandng cacat. Misalnya seperti dirinya yang memakai kursi roda, apa yang bisa dilakukan penyandang cacat di kursi roda saat terjadi bencana, dan mereka di dalam rumah atau gedung. Sejauh ini belum didapakan, karena simulasi selama ini tetap saja mereka harus dibantu pihak ke tiga saat terjadi bencana.

Baca Juga:  Aceh Utara akan Terima PI 10 Persen dari Blok B

 

Penulis    : Ibrahim Sihombing (Banda Aceh)

Berita Terkini

Haba Nanggroe