Merasakan Detak Keprihatinan Petani Garam Lueng Gayo

PRIA ini nyaris tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bangunan reot tanpa dinding, jauh dari kesan sebuah gubuk sekalipun. Bahan dan peralatan yang dimakan karat serta wajah wajah kuyu para warga. Mereka adalah para petani garam di Gampong Lueng Gayo Kecamatan Teunom, Aceh Jaya. Para warga itu menjadi benteng terakhir dari barisan usaha garam rakyat … Read more

Iklan Baris

Lensa Warga

PRIA ini nyaris tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bangunan reot tanpa dinding, jauh dari kesan sebuah gubuk sekalipun. Bahan dan peralatan yang dimakan karat serta wajah wajah kuyu para warga. Mereka adalah para petani garam di Gampong Lueng Gayo Kecamatan Teunom, Aceh Jaya. Para warga itu menjadi benteng terakhir dari barisan usaha garam rakyat yang telah berada di bawah titik nadir.

Pria yang datang itu adalah Amal Hasan, Ketua Ikatan Keluarga Aceh Jaya Amal Hasan,SE.MSi. Keprihatinan itu terasa wajar, karena seorang Amal yang memang besar di Aceh Jaya sangat mengerti jika para petani garam tradisional di Gampong Lueng Gayo Kecamatan Teunom, Aceh Jaya itu selama ini menggantungkan hidupnya secara turun temurun dari usaha produksigaram rakyat.

Sejak kecil ia menyaksikan itu, sembari menikmati debur ombak Samudera India yang kadang menggulung deras di kala musim Barat. Kondisi usaha masyarakat pesisir di sepanjang garis pantai Desa Lueng Gayo ini seperti terabaikan dan nyaris tanpa sentuhan atau pembinaan dalam bentuk apapun dari pemerintah.

Karena itu pula, tak mengherankan jika roda ekonomi masyarakat Lueung Gayo seperti menapak batu cadas, yangkadang malah mematikan. “Nasib mereka semakin terpuruk dan jejak sejarah budidaya garam di kawasan tersebut sangat mungkin akan punah digilas waktu,” kata Amal Hasan ketika berkunjung dan melakukan silaturrahmi dengan masyarakat dan perangkat Gampong Lueng Gayo Kecamatan Teunom Kabupaten Aceh Jaya, Sabtu 23 September 2023.

Salah satu tokoh muda Aceh Jaya ini mengatakan jejak usaha masyarakat petani garam tradisional di kawasan di Gampong Lueng Gayo Kecamatan Teunom, jangan sampai hilang dan musnah oleh waktu, hanya karena tidak adanya kepedulian pemerintah dan pemangku kepentingan di Aceh Jaya. Terutama untuk membina masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari usaha budidaya garam tersebut. “Kalau kita melihat sumberdaya alam pesisir pantai Desa Lueng Gayo ini bahan baku untuk produksi garam sangat mudah didapat dan dapat dieksploitasi oleh siapapun tanpa membutuhkan tekhnologi, modal serta infrastruktur yang terlalu rumit. Sektor ini punya prospek yang cukup bagus untuk dikembangkan dan bisa menampung tenaga kerja tradisional dalam skala besar dan mampu menstimulus ekonomi kerakyatan,” tadas Amal yang mantan Direktur Dana dan Jasa Bank Aceh itu.

Baca Juga:  Sekda Bener Meriah Buka TC MTQ Provinsi Aceh

Amal Hasan menambahkan dengan letak geografis daerah berada di sepanjang garis pantai sektor bisnis kelautan ini perlu diperkaya melalui pengembangan berbagai segmen usaha yang bisa melibatkan masyarakat dalam skala besar. Potensi ekonomi dari produksi garam rakyat ini masih cukup besar dan sangat menjanjikan.

Berdasarkan data yang dirilis dinas kelautan dan perikanan produksi garam di Aceh mencapai 11.000 ton/tahun dan ini hanya mencukupi untuk kebutuhan konsumsi lokal yang berkisar diangka 10.000 ton/tahun, dan kabupaten Aceh Jaya belum termasuk sebagai salah satu wilayah penghasil garam, padahal hampir sepanjang wilayah garis pantai Aceh Jaya memiliki sumber bahan baku produksi garam yang sangat mudah diakses. Dampak multiplier terhadap ekonomi masyarakat juga sangat signifikan, dengan asumsi harga garam rebus eceran sekitar 5.000/kg saja itu sudah mendongkrak perputaran ekonomi dari produksi garam tradisional mencapai Rp 55 milyar rupiah/tahun. “Konon lagi kalau produksi garam ini dimodernisasi dengan tekhnologi baru maka kita yakin upaya menjadikan Aceh Jaya sebagai salah satu sentra produksi garam bisa segera diwujudkan. Kita harus mampu merubah paradigma berpikir masyarakat dari petani garam menjadi pengusaha garam, dan ketika usaha garam ini mampu diproduksi dalam skala jumlah besar secara kontinyu maka garam produksi Aceh Jaya bisa disupply keluar daerah. Karena secara nasional negara kita juga masih impor garam, dan suatu saat nanti garam kita bisa menjadi komoditas ekspor,” kata Amal Hasan, tokoh muda Aceh Jaya yang kini aktif sebagai pengamat ekonomi dan perbankan ini.

Dari lapak usaha garam yang hanya tinggal perangkat yang sudah karatan serta atap yang telah hancur sebagian itu, Amal punya obsesi untuk membangitkan usaha tani garam Lueng Gayo sebagai penggerak ekonomi kerakyatan Aceh Jaya. Karena bukan hanya material yang melimpah, tapi juga kesederhaan teknolgi nya. “Saya bermimpi suatu saat kembali ke mari menyaksikan wajah wajah ceria karena geiat roda ekonomi yang kencang, bukan seperti saat ini, dalam kondisi miris dan memprihatinkan,” tutur Amal sambil meninggalkan lokasi itu dengan perasaan galau seorang putra daerah, menyaksikan fenomena itu. Tak jauh di sana ombak berkejaran, seakan seperti nasib petani garam yang berkejaran dengan waktu.

Baca Juga:  Aminullah Usman : Soal Direksi Bank Aceh Sebaiknya Dimusyawarahkan Lewat RUPS

Berita Terkini

Haba Nanggroe