Menyambung Nasab ke Tanah Leluhur

SEMUA berjalan apa adanya, tanpa basa basi apalagi tendensi. Hangat dan dalam balutan kekeluargaan yang kental. Itulah situasi yang tergambar ketika seorang Mayjen TNI (Purn) TA Hafil Fuddin SH SIP MH, menapaktilasi kampung halamannya di kaki Gunung Bukit Barisan di Aceh Selatan Raya, medio pekan ini. Ada kerinduan seorang Hafil pada kehangatan silaturrahim keluarga besar … Read more

Hafil saat dipeusijuek di oleh keluarga di Gampong Jambo Papeun.

Iklan Baris

Lensa Warga

SEMUA berjalan apa adanya, tanpa basa basi apalagi tendensi. Hangat dan dalam balutan kekeluargaan yang kental.

Itulah situasi yang tergambar ketika seorang Mayjen TNI (Purn) TA Hafil Fuddin SH SIP MH, menapaktilasi kampung halamannya di kaki Gunung Bukit Barisan di Aceh Selatan Raya, medio pekan ini.

Ada kerinduan seorang Hafil pada kehangatan silaturrahim keluarga besar di Gampong Jambo Papeun Kecamatan Meukek, Aceh Selatan, dan Gampong Cot Ba’u di Kecamatan Lembah Sabil, Kabupaten Aceh Baratdaya. Hati kecilnya terus bertanya, kapan ia menuntaskan kerinduan itu.

Kamis, 21 hari bulan September 2023, sekitar pukul 17.00 WIB petang, mantan Pangdam IM itu menapakkan kakinya di Gampong Jambo Papeun. Aroma Bukit Barisan tercium deras, karena hanya berjarak ratusan meter di bibir gampong. “Saya dulu sering diajak almarhum ayah ke gunung naik turun lembah untuk melihat kebun kami, mulai dari pala hingga durian Jambo Papeun yang terkenal manis serta memiliki isi yang tebal. Sebuah masa kecil yang indah,” kata Hafil kepada acehherald.com yang ikut dalam perjalanan memori itu.

Tampak seratusan warga telah menanti sejak satu jam silam. Mereka menunggu saudara nya yang pulang, jadi tak ada penyambutan resmi, dengan busana yang spesial. Semua berjalan layaknya keseharian. Namun satu yang pasti, mereka bangga dengan sosok sang kerabat yang menyandang bintang dua saat menjadi prajurit TNI. Mungkin inilah satu satunya putra Meukek yang sempat menyentuh level Mayor Jendral TNI. Wajar jika para ninik mamak itu begitu rindu degan sosok Hafil.

Saat turun dari Reborn putih itu, tak pelak lagi, peluk cium hangat dan bahkan diiringi bulir air mata keharuan, menyambut kedatangan Hafil.

Baca Juga:  Satgas Yustisi kembali Patroli ke Sejumlah Warung Kopi

Tanpa disangka, ternyata ninik mamak telah menyiapkan sambutan kecil sesuai resam gampong. Tetua Gampong Jambo Papeun, mulai dari teungku imum hingga Keuchik mempeusijuek Hafil. Sebuah tanda penyambutan famili atau kerabat yang tak pulang dalam rentang lama.

Lalu semuanya larut dalam pembicaraan nostalagia, yaa….. tentang masa lalu yang romantis yang serasa baru kemarin dilalui, kala melanglang buana di bentang alam Jamboe Papeun, mulai dari aliran sungai hingga berlari dan bertualang di atas gunung sana. Seakan bentang Bukit Barisan yang masih hijau menjadi saksi bisu dari kepulangan seorang anak mantan Pengawas Sekolah, Alm Kamaruddin.

Ada sinyal sumringah dari para cucu, keponakan, sahabat sebaya, pakcek hingga pakwa kala menatap wajah sang jenderal. “Kami bahagia akhirnya ananda pulang kampung. Ini yang kami nantikan sejak lama, sambil memendam rasa bangga jika saudara kami seorang jenderal bintang dua. Mudah mudahan ananda tetap di Aceh, hingga kampung kita ini bisa ananda lihat lihat,” kata seorang tetua Gampong Jambo Papeun.

Sekitar satu jam acara temu kangen itu berlangsung. Hafil juga makin tahu tentang nasabnya. Ya….ia sedang masuk lorong waktu saat ke Jambo Papeun, tanah di mana sang ayah dilahirkan. “Mereka menanti kehadiran saya sejak menjadi Pangdam, kala saya pulang ke Aceh setelah puluhan tahun di rantau. Karena satu dan lain hal akhirnya saya baru tiba pada hari ini. Saya haru pada penyambutan dengan hati ini. Ponakan dan kerabat malah ada yang berdaster dan bersarung. Ini benar benar bicara dalam koridor keluarga. Saya bangga dengan semua ini, karena saya diterima apa adanya,” tutur Hafil menahan keharuan.

Tepat pukul 18.15 WIB, usai meretas kerinduan sejenak, kami dilepas oleh keluarga besar di Jambo Papeun. Perjalanan berlanjut ke Gampong Cot Ba’u di Kecamatan Lembah Sabil Kabupaten Abdya. Di sana para keluarga inti juga telah menanti. Usai shalat magrib di Masjid AtTaqwa Cot Ba’u serta bersilaturrahmi sejenak, Hafil menuju rumah Pakcek yang tak jauh dari masjid. “Di sini saya belajar mengaji bersama teman teman kecil, sembari berlari dan mencari ikan di areal persawahan sana,” kata Hafil sembari menunjuk ke arah belakang rumah, yang kini sebagian telah menjadi pemukiman padat.

Baca Juga:  Heboh Mobil Esemka Ternyata Buatan China, Harganya Segini

Sama dengan di Jambo Papeun, para kerabat juga menyambut Hafil dengan saling berpelukan. Di sini Hafil lebih banyak bercanda, karena mereka sebagian memang temannya sejak kecil. Hafil sempat menghabiskan sebagian masa bocah di kamping kelahiran ibunya itu.

Sang ponakan selaku pemilik rumah, tak mengizinkan kami pulang sebelum makan malam. Lalu kamipun menikmati sajian makan malam dengan lauk balado dan gulai asam pedas kepala ikan. Kami meninggalkan Cot Ba’u bakda insya. Sebuah pertemuan hangat dan perpisahan yang menyasakkan dada kembali dilalui Hafil. “Pakcek, kami berharap Pakcek tetap di Aceh. Jangan lupakan kami dan kami berharap putra gampong kita bisa berkontribusi untuk Aceh masa depan,” ujar seorang ponakan saat melepas sang pakcek di bibir jalan negara. Lambaian perpisahan menandai kembalinya kami ke Banda Aceh. Sebuah kenangn manis tentang terbangunnya kembali benang merah nasab menyisakan haru dan bahagia di sanubari Sang Jenderal.

Berita Terkini

Haba Nanggroe