Menanti Kepastian Nasib Mursyidah, Jangan Ada Luka Nanah di Sanubari

LHOKSEUMAWE,ACEHHERALD.com – LUPAKAN sejenak insiden Google Maps yang menimpa Kota Banda Aceh, sebagai bentuk perlawanan seseorang atau kelompok yang dipastikan kaum kafir terhadap penegakan Syariat Islam di Aceh atau Banda Aceh khususnya. Karena itu adalah pekerjaan para pecundang dan pengecut yang hanya berani ‘bertarung’ di dunia maya, untuk mematahkan aqidah ummat Islam di Aceh. Mari … Read more

Iklan Baris

Lensa Warga

Mursyidah saat persidangan kasusnya. Foto Ist/dok

LHOKSEUMAWE,ACEHHERALD.com – LUPAKAN sejenak insiden Google Maps yang menimpa Kota Banda Aceh, sebagai bentuk perlawanan seseorang atau kelompok yang dipastikan kaum kafir terhadap penegakan Syariat Islam di Aceh atau Banda Aceh khususnya.

Karena itu adalah pekerjaan para pecundang dan pengecut yang hanya berani ‘bertarung’ di dunia maya, untuk mematahkan aqidah ummat Islam di Aceh. Mari kita alihkan perhatian sekejap, tentang sebuah persidangan di Pengadilan Negeri Lhokseumawe. Yaa.. persidangan pamungkas atau pembacaan vonis yang mendudukkan wanita miskin, Mursyidah, yang masih dalam hitungan hari kehilangan suami karena meninggal dunia.

Sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan, Pengadilan Negeri (PN) Lhokseumawe dipastikan akan menggelar sidang vonis untuk perkara dakwaan perusakan pangkalan elpiji tiga kilogram yang menjadikan Mursyidah duduk di kursi pesakitan itu, pada Selasa (5/11/2019) sekitar pukul 10.00 WIB besok.

 

Sebelumnya Mursyidah, warga Gampong Meunasah Mesjid, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe yang menghuni rumah reyot bersama tiga anaknya itu dituntut 10 bulan penjara atas dugaan perusakan pangkalan ecer elpiji tak jauh dari rumahnya itu.

Ketua PN Lhokseumawe, Teuku Syarafi SH MH, yang dihubungi media, malam ini, rmengakui jika sidang untuk penetapan vonis dengan terdakwa Mursyidah tetap sesuai jadwal, yaitu besok. Dengan majelis hakim diketuai Jamaluddin, dan dua hakim anggota, Mukhtar dan Mukhtari.

Banyak kalangan yang menyatakan empati kepada Mursyidah. Masalahnya, bukan sekadar akan diinapkannya wanita jelata itu di hotel prodeo, namun lebih dari itu, Mursyidah kini menjadi orang tua tunggal untuk tiga anaknya,  Fitriani (12), M Reza (10), dan M Mirza (4).

Seandainya pedang dewi keadilan ditegakkan atas nama law enforcement, lantas siapa yang akan mengasuh para bocah itu. Apakah mungkin dinas sosial akan bolak balik ke rumah Mursyidah untuk sekadar mengantar logistik, atau malah bila mungkin menyiapkan para bocah itu menuju sekolah. Rasanya memang itu tak mungkin!!

Baca Juga:  Firli Sebut di KPK Banyak Taliban, Novel: Kenapa Pak Firli Ngomong Begitu?

Kasus Mursyidah sebenarnya mirip dengan kasus Nek Minah dari Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Banyumas, Jawa Tengah. Wanita itu harus duduk di kursi pesakitan hanya karena mencuri tiga buah coklat milik sebuah perusahaan perkebunan. Hakim sambil menangis memutuskan hukuman 1 bulan 15 hari dengan masa percobaan 3 bulan. Artinya Nek Minah bebas dari dinginnya bui.

Nyaris sama dengan Nek Minah, jaksa penuntut umum Kejari Lhokseumawe menuntut wanita yang baru delapan hari ditinggal suaminya itu, 10 bulan penjara, yaitu JPU, M Doni Siddiq. Kata Doni tuntutan itu sesuai dengan tindakan terdakwa melakukan pengrusakan yang melanggar Pasal 406 ayat (1) KUHP serta Pasal 185 ayat (6) KUHAP dan 188 KUHAP berikut barang buktinya.

Entah menyadari jika kasus itu mendapat banyak sorotan, Doni berharap, masyarakat tidak salah memahami apa yang mereka lakukan, karena itu  sebagai wujud penegakan hukum terhadap perbuatan terdakwa yang telah merusak barang milik orang lain. Tindakan itu hanya sebagai bentuk penegakan hukum.

Memang, jika bicara dengan kaedah penegakan hukum, tak ada yang aneh dengan persidangan Mursyidah. Hanya saja banyak kalangan bertanya, kasus  ‘remeh temeh’ itu kok berujung ke ranah hukum.

Harus kita akui, idealnya tak ada pihak manapun yang mampu mempengaruhi putusan pengadilan. Namun jika tidak berhati hati secara nuraniah, kasus Muryidah berpotensi melukai hati banyak orang. Kini masyarakat menunggu putusan final kasus Mursyidah, sambil berharap tak ada luka nanah di sanubari, sejenak dewi keadilan mengambil posisi.

 

Nurdinsyam

Pemimpin Redaksi

Berita Terkini

Haba Nanggroe