Membangkitkan Kejayaan Nilam, Minyak Atsiri Aceh Kembali Diekspor ke Eropa

  SEJAK zaman kolonial Belanda, Aceh dikenal sebagai salah satu daerah penghasil utama nilam (Pogostemon cablin Benth) di Nusantara. Tidak hanya dari sisi produktivitas, kualitas nilam Aceh pun diakui sebagai salah satu yang terbaik di dunia. Nilam Aceh mendapat karpet merah dalam blantika pasar nilam dunia. Namun, era itu perlahan meredup, walau sempat gebyar lagi … Read more

Kepala Bappeda Aceh T. Ahmad Dadek bersama Rektor USK Marwan, Kadis Perkebunan dan Pertanian Cut Huzaimah melakukan pemotongan Pita saat pelepasan ekspor Minyak Nilam di Gedung ARC- PUIPT USK. Banda Aceh (5/12/22)

Iklan Baris

Lensa Warga

 

SEJAK zaman kolonial Belanda, Aceh dikenal sebagai salah satu daerah penghasil utama nilam (Pogostemon cablin Benth) di Nusantara. Tidak hanya dari sisi produktivitas, kualitas nilam Aceh pun diakui sebagai salah satu yang terbaik di dunia. Nilam Aceh mendapat karpet merah dalam blantika pasar nilam dunia.
Namun, era itu perlahan meredup, walau sempat gebyar lagi pada dekade awal 2000, saat nilai sempat menyentuh harga Rp 1 juta per kilo. Sebuah desa di Kecamatan Aceh Jaya sempat bernama Tuwi Supra, karena warganya ramai-ramai membeli sepeda motor baru, hanya dengan menjingjing 5/10 kilo nilam ke pasar di Teunom, untuk dibelikan sepeda motor baru.
Kini era kejayaan nilam Aceh itu berusaha kembali dibangkitkan. Adalah Kampus Universitas Syiah Kuala (USK) yang menggandeng Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh dan instansi terkait lainnya di jajaran Pemerintah Aceh, menggagas budidaya nilam Aceh untuk kebutuhan ekspor.
Hasilnya, bertempat di gedung ARC-PUIPT Nilam Aceh Universitas Syiah Kuala (USK), Senin (05/12/2022) Kedistanbun Aceh bersama stakeholder terkait beserta jajaran Rektorat Universitas Syiah Kuala, melakukan acara “Penglepasan Ekspor Minyak Nilam Aceh” yang digagas oleh Atsiri Research Center (ARC) Universitas Syiah Kuala. Kegiatan ini turut dihadiri oleh Rektor Universitas Syiah Kuala, Prof. Dr. Ir. Marwan, IPU, dan sekaligus melepas secara resmi produk minyak nilam oleh pusat riset USK ini.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Cut Huzaimah MP saat meninjau tempat pembibitan tanaman nilam di Aceh Jaya. Foto Dok.

Dengan dukungan dan kerjasama dari beberapa pihak seperti Koperasi Inovasi Nilam Aceh (KINA), Nat’ Green, dan PT. U-Green Aromatics Internasional Ekspor ini akan dilakukan ke negara Perancis. Paris adalah salah satu penghasil menyak wangi di dunia.

Ini memang bukan yang pertama ekspor minyak nilam oleh ARC USK, sebab dua tahun silam, pada 2021 lalu, ARC USK juga telah berhasil melakukan ekspor 3 ton minyak nilam ke nagara yang dikenal dengan Menara Eiffel yang terletak di Jantung Kota Paris.

Baca Juga:  Muktamar IDI, Rezeki Pedagang dan Pengelola Wisata

Dalam sambutannya Rektor USK Prof. Marwan menyebutkan, saat ini ARC USK berupaya memenuhi permintaan 30 ton nilam per tahun dari negara Perancis.

“Kita sedang upayakan melakukan pembinaan petani nilam di beberapa Kabupaten, seperti Aceh Jaya, Aceh Selatan, Gayo Lues, Aceh Tamiang, Aceh Utara, Pidie Jaya, Nagan Raya, Aceh Besar, dan Sabang untuk memenuhi target ekspor yang diinginkan oleh Perancis”, tambah Prof Marwan.
Harapannya ke depan nilam Aceh dapat mendominasi bisnis nilam dunia, dengan mengedepankan good agricultural practices di sisi hulu, dan diperkuat dengan industri hilirisasi.

Sejarah mencatat petani nilam di Aceh telah paham bahwa tanaman nilam sudah berkembang sejak sebelum Indonesia merdeka.
Dimuat dalam jurnal berjudul Sejarah dan Perkembangan Budidaya Nilam di Indonesia yang ditulis Azmi Dhalimi, Anggraeni, dan Hobir menuturkan bahwa tanaman nilai dikirim ke Aceh melalui Singapura pada 1895.
Pembudidayaan nilam Singapura di Aceh tersebut terkait pengalihan fokus budidaya perkebunan dari British Malaya ke karet. Hal ini dimanfaatkan Belanda untuk mengintensifkan budidaya nilam di Sumatra dan Aceh.
Belakangan, ternyata tanah di Aceh cocok untuk pengembangan nilam. Bahkan, nilam Aceh lebih bagus daripada nilam Singapura.
Namun budidaya nilam di Aceh mulai menghadapi masalah ketika harga karet melorot pada 1919. Kemudian pengusaha perkebunan di British Malaya memperbarui energi mereka dengan budidaya nilam.
Sesudah itu, ekspor nilam Aceh menurun dan menyebabkan pengusaha perkebunan mengalami kelebihan suplai daun nilam kering. Diputuskanlah untuk menyuling daun nilam di Sumatra.
Sejak saat itu, penyulingan minyak nilam di Aceh dimulai. Para petani membuat penyulingan-penyulingan tradisional di desanya masing-masing. Muncul Aetherische Olien Fabric di Tapaktuan, Aceh Selatan, pabrik minyak atsiri yang cukup besar.
Pemerintah kolonial Belanda juga mendirikan pabrik-pabrik penyulingan di beberapa titik di pesisir barat Aceh seperti di Teunom, Aceh Jaya pada tahun 1933. Hal ini membuat produksi minyak nilam Aceh pun kian luas.
Pada pertengahan abad ke 20, Sumatera menjadi pemasok minyak nilam terbesar di dunia dengan Aceh sebagai pusat pembudidayaannya.
Pada zaman awal kemerdekaan, nilam Aceh masih dapat menjadi sandaran kesejahteraan bagi petani di Aceh bagian barat dan selatan. Bahkan, pada tahun 1960-an, komoditas ini memiliki nilai ekonomis yang tinggi.
Dirinya menuturkan, sekitar 1960-an, minyak nilam memberikan rezeki yang berlimpah bagi keluarganya dan para petani lain di Pasie Raja. Kala itu, 1 kilogram minyak nilam setara dengan 1 ton beras.
Tetapi perlahan nilam Aceh surut. Harga begitu cepat berfluktuasi dan mudah jatuh. Industri nilam mulai didominasi Jawa. Minyak nilam Aceh banyak diolah di Jawa kemudian baru diekspor ke negera tujuan. (Adv)

Baca Juga:  Besok Malam, Deputi Gubernur Senior BI Buka Meuseuraya Festival 2025

Berita Terkini

Haba Nanggroe