Mari Babat Habis Pecundang Narkoba

SENJATA kembali menyalak. Lagi lagi bandar narkoba ambruk ke bumi. Kali ini hanya dalam tempo sepekan dua orang penjahat narkoba dari Aceh tercerabut nyawanya, setelah polisi melakukan tindakan terukur, saat berusaha menangkap keduanya. Pekan lalu, Jufri Ahmad (38) seorang warga Aceh, ditembak mati polisi dalam sebuah penggerebekan pada rumah kostnya  Tropodo Sidoarjo, Jatim, Senin (23/9) … Read more

Iklan Baris

Lensa Warga

SENJATA kembali menyalak. Lagi lagi bandar narkoba ambruk ke bumi. Kali ini hanya dalam tempo sepekan dua orang penjahat narkoba dari Aceh tercerabut nyawanya, setelah polisi melakukan tindakan terukur, saat berusaha menangkap keduanya. Pekan lalu, Jufri Ahmad (38) seorang warga Aceh, ditembak mati polisi dalam sebuah penggerebekan pada rumah kostnya  Tropodo Sidoarjo, Jatim, Senin (23/9) malam.

Belakangan terungkap, almarhum adalah anggota sindikat narkoba Aceh-Jatim. Dari tangannya polisi dan aparat Badan Narkoba Nasional (BNN) menyita satu kilo narkoba dengan taksiran nilai lebih kurang Rp 1 miliar.

Belum genap satu pekan, satu orang lagi bandar narkoba Aceh kembali tewas diterjang timah panas. Personil Badan Narkotika Provinsi (BNP). Kali ini pentolan bandar narkoba yang diterjang peluru itu adalah Ridwan Ilyas Jamil. Tersangka juga tercatat sebagai DPO Direktorat Interdiksi BNN Republik Indonesia.

Kepala BNNP Aceh Brigjen Pol Drs Faisal Abdul Naser, menyampaikan, Ridwan merupakan penyelundup sabu seberat 35 kg dari Aceh ke Pelabuhan Merak, Banten, pada 24 Mei 2019 dan menjadi DPO BNN Pusat.
Pada Senin (30/9) pihaknya mendapatkan informasi bahwa tersangka berada di wilayah Pondok Baru, Kabupaten Bener Meriah. Operasi penangkapan pun digelar, namun Ridwan memilih untuk tak menyerah, hingga sebutir timah panas mengantarkannya ke alam kubur.

Sebelumnya, nyaris belasan orang bandar dan pegedar narkoba Aceh menemui ajal saat berusaha ditangkap polisi atau pihak BNN. Baik di Aceh maupun di luar Aceh, terutama di Sumatera Utara. Para bandar itu seperti sepakat memilih mati, tinimbang tertangkap hidup hidup lalu dipaksa membongkar habis jaringan kejahatan mereka. Sebuah pola kejahatan ala Mafioso Italia atau Yakuza Jepang.

Sudah bukan rahasia lagi, Aceh menjadi salah satu pintu masuk narkoba dari luar negeri terutama dari Malaysia. Jaringan narkoba Aceh bukan hanya sebagai pemakai, namun juga pengedar hingga bandar skala nasional. Menurut catatan pihak BNN, jumlah korban narkoba di Aceh mencapai 73.000 orang, namun beberapa pihak mengklaim jauh di atas itu, terutama daerah daerah pesisir timur Aceh yang tingkat keparahan peredaran narkobanya sangat sangat masiv.

Baca Juga:  Wakil Walikota Buka Temu Karya Karang Taruna

Karena itu pula ada yang mengklaim jika Aceh menjadi salah satu daerah sentra narkoba di Indoensia, dan menduduki peringkat ke lima peredaran narkoba di Indonesia.

Dari hasil pengungkapan selama ini, jaringan narkoba Aceh bukan hanya di Aceh, namun juga mencapai seluruh wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan dan bahkan Sulawesi. Sudah tak terhitung lagi, jumlah warga Aceh yang ditangkap di beberapa bandara negeri ini, karena berusaha menyelundupkan narkoba. Baik lewat paket pengiriman hingga nekat diselipkan pada sol sepatu atau bahkan di dalam dubur sekalipun.

Kita ingin agar polisi dan apparat terkait bersikap tegas dan terukur untuk memberantas narkoba di Aceh, sekaligus menyelamatkan status Aceh yang telanjur dicap sebagai salah satu gudang Narkoba nasionall. Bila perlu kita meniru tindakan ala Presiden Duterte di Pilipina, yang mengeksekusi mati para pengedar narkoba lewat kebijakan ala petrus.

Bagaimanapun anak anak atau generasi muda Aceh harus diselamatkan, walau kadang dengan kompensasi membabat habis para pecundang narkoba di Aceh. Sebuah pertaruhan dengan sejarah dan waktu memang harus kita lakoni. Save generasi muda Aceh. Save aneuk nanggroe.

 

Nurdinsyam

Pemimpin Redaksi

Berita Terkini

Haba Nanggroe