
BANDA ACEH | ACEH HERALD – Inna lillahi wainna ilaihi rajiun.
Kabar duka kembali menyelimuti dunia medis Tanah Rencong, dokter Teuku Anjar Asmara, mantan Kepala Dinas Kesehatan Aceh dan mantan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama, Aceh Besar, dilaporkan meninggal dunia di rumahnya di Lambheue Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar, Selasa sekitar pukul 14.15WIB.
AcehHerald.com mendapat kabar duka itu dari mantan Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Drs Anas M Adam MPd, yang memposting lewat Grup WhatShapp, Selasa (23/2/2021) petang.
Menurut Anas M Adam, almarhum Dr T Anjar Asmara, pernah menjabat Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Aceh selama tiga tahun antara 2007-2009.
Di samping tercatat sebagai birokrat, suami Cut Cayarani Bitai ini juga mengabdikan sebagian ilmunya di lingkungan kampus. Dokter yang birokrat ini kemudian dipercayakan untuk memimpin dan menjadi Dekan Fakultas Kedokteran Unaya, Aceh Besar.
Selain dikenal sebagai kepala dinas Kesehatan Aceh dan dekan Fakultas Kedokteran Unaya, bagi sebagian jamaah haji Aceh mungkin mengenal sang dokter ini sebagai pembimbing kesehatan bagi calon haji embarkasi Sultan Iskandar Muda (SIM) Aceh Besar.
Karena lelaki berperawakan tinggi dan tegap ini, sejak lama sudah menjadi pembimbing kesehatan bagi calon jamaah haji yang akan take off ke Jeddah, Arab Saudi.
Setiap malam sebelum berangkat, calon jamaah selalu mendapat pengarahan dari Dr Anjar Asmara. Salah satu yang paling berkesan dari bimbingan kesehatan bagi jamaah haji Aceh adalah memanfaatkan buah sankis yang banyak dibagikan untuk meningkatkan daya tahan tabuh jamaah ketika berada di Madinah, Makkah, Arafah.
Sankis yang rasa asam pekat pun, kata Dr Anjar, ketika memberikan bimbingan kesehatan bagi calon jamaah haji, akan terasa enak, kalau tahu cara memakannya.
Lalu beliau mempraktekkan bagaimana cara membuat sankis yang asam, tak sanggup dimakan sebelumnya menjadi enak?
Dr Anjar dalam praktek membawa sekilo sankis berwarna kuning, ada pisau, dan garam dapur. Pertama-tama, sang pembekalan jamaah haji itu, langsung membelah sebuah sankis, lalu isinya diberikan kepada jamaah. “Tak ada yang sanggup makan. Asam…” sebut jamaah.
Setelah itu, buah yang sama dan beberapa buah sankis lainnya, setelah dibelah dilumuri dengan garam, lalu dibagi lagi kepada jamaah. Jawabannya langsung beda. Wah ini sangat enak, asam tapi enak, ujar jamaah yang mendapat kesempatan untuk merasakan perubahan rasa buah sankis suguhan Dr Anjar Asmara.
Dan benar saja, apa yang diperagakan Dr Anjar Asmara di malam sebelum berangkat di Asrama Haji Banda Aceh, ketika tiba di Madinah dan Makkah, ribuan atau mungkin jutaan buah sankis itu tidak ambil oleh jamaah haji Indonesia, karena mereka tak sanggup makan karena terlalu asam.
Tapi tidak demikian bagi jamaah haji Aceh. Meski tidak berebut, namun semua sankis yang tidak dimanfaatkan jamaah haji Indonesia lainnya, dimanfaatkan oleh jamaah haji Aceh. Inilah sekelumit kesan bagi jamaah haji Aceh di masa lalu bersama Dr Teuku Anjar Asmara. Selamat jalan dokter!
Dr Anjar Asmara meninggal di rumah kediaman alm di Lambheu pada pukul 14.15 dengan keluhan penyakit stroke. Jenazah telah dikebumikan pada pukul 18.30 di perkuburan umum desa lhambheu. Rumah duka di Jl Taqwa Desa Lhambheu Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar.
Penulis M Nasir Yusuf




