Kirana Wardojo: Laut di Aceh tidak Bisa Diprediksi dan Dibaca

Pelayar Putri yang mewakili Aceh di PON XXI Aceh-Sumut ini memulai debut nya di Layar saat berusia 10 tahun. Awalnya dikarenakan sering mengikuti kegiatan papanya yang memiliki klub layar, sehingga tertarik dan mengapa tidak mencobanya.
Pelayar Aceh, Kirana Wardojo asal Banten yang menyumbangkan 1 medali emas di PON XXI Aceh-Sumut. Foto dokumentasi Acehherald.com

Iklan Baris

Lensa Warga

KIRANA WARDOJO demikian nama atlet putri Cabang Olahraga Layar yang mempersembahkan satu medali emas untuk tuan rumah PON ke-21 Tahun 2024, Aceh di Kelas ILCA 6.

“Menyala bosqu,” demikian terdengar suara dari pengunjung warga Kota Banda Aceh yang menyaksikan Upacara Penghargaan Pemenang (UPP) medali emas yang diperoleh Kirana Wardojo, setelah berjuang sengit mengalahkan lawan tangguhnya dari lima atlet lainnya yang ikut berlaga di Kelas ILCA 6 Putri.

Saat host membacakan bahwa Aceh juara pertama dan memperoleh medali emas. Sorak gemuruh beserta aplaus tak henti. Kegembiraan warga daerah ini dan juga bangga terlihat dari wajah-wajah yang menonton pemberian medali tersebut.

Jangankan warga Aceh yang menyaksikan di tugu kilometer nol Kota Banda Aceh di Pantai Gampong Jawa, Kirana Wardojo sang aktor utamanya pun merasa bangga dan senang dengan hasil jerih payahnya berjuang melawan angin dan ombak di tengah laut.

“Cuaca di lokasi lomba ini, tidak bisa diprediksi dan dibaca. Kadang pagi cerah, setelah beberapa jam kemudian sudah badai,” aku Kirana Wardojo.

Gadis kelahiran Provinsi Banten, ini mengaku tiga pekan terakhir menjajal venue layar di Perairan Pantai Gampong Jawa. Diakuinya angin disini terkadang lembut namun saat dilawan akan terasa keras seolah menampar.

Makanya banyak di antara kami para atlet seolah tidak bisa membaca hembusan angin di lokasi. “Apalagi di daratan kita bisa bilang akan begini…begitu. Akan nyalip lawan ini atau dia, tetapi faktanya tidak bisa. Jadinya angin disini harus dibersamai dan dengan sendirinya akan mendukung dan menolak kita terdepan,” ujar gadis yang berusia belasan tahun ini.

Meski tidak bisa membandingkan, namun Laut Aceh agak berbeda dengan laut yang pernah dilintasinya saat bertanding atau pun latihan, seperti di kepulauan seribu, Jakarta, di Riau, dan juga di Papua saat PON XX 2021 lalu.

Baca Juga:  11 Wisatawan Pantai Batu Gong Tenggelam, Satu Meninggal

Pelayar Putri yang mewakili Aceh di PON XXI Aceh-Sumut ini memulai debut nya di Layar saat berusia 10 tahun. Awalnya dikarenakan sering mengikuti kegiatan papanya yang memiliki klub layar, sehingga tertarik dan mengapa tidak mencobanya.

Belajar secara perlahan dan ikut berlaga di Kelas Optimist Putri, hingga naik kelas di nomor Laser Radial putri dengan mendulang emas di PON XX Papua dan saat PON ke 21 ini di Kelas ILCA 6–ia pun mengantongi emas.

Raihan prestasi di puncak tertinggi medali emas, baik di PON Papua dan Aceh, juga laga layar lainnya, belum membuatnya puas. Dan selepas PON Aceh-Sumut, ia punya mimpi untuk bisa berlaga di tingkat internasional, yakni Olimpiade.

Mimpi pelayar Kirana yang kerap latihan di Kepulauan Seribu Jakarta, ini belum terwujud saat Olimpiade Paris kemarin dikarenakan ada hal yang tidak bisa ditinggalkan untuk ikut seleksi agar mendapatkan tiket menuju olimpiade tersebut.

“Makanya Ia bertekad dan latihan lebih keras lagi agar mimpinya bisa terwujud mewakili Indonesia dari Cabor Layar ke Olimpiade <span;>musim panas tahun 2028 di Los Angeles, California, Amerika Serikat,” harapnya.

Harapan Layar Aceh

Diakui Kirana Wardojo bahwa Aceh memiliki potensi yang sangat besar dengan lautnya untuk olahraga layar.

“Lihat saja, Kota Banda Aceh, ini dikelilingi laut. Jadi sangat potensial kalau anak-anak Aceh bisa dan mau menjadi atlet layar,” sebutnya.

Seperti atlet layar putra Aceh, Mulia Ahsan Sani, (11), kata Karina. Ia satu contoh bahwa dengan latihan, ketekunan dan kerja keras serta keberanian, juga menambah jam layarnya, Ahsan Sani bisa menjadi pelayar handal dan mumpuni daerah ini.

Jadi dengan kata lain, masih akan banyak atlet layar Aceh seperti Mulia Ahsan Sani ini, kalau Pengprov Porlasinya mencari bibit-bibit baru karena alam sangat mendukung untuk atlet muda berlatih.

Baca Juga:  Kesbangpol dan Dinas Pertanahan Aceh Gelar Donor Darah

Sekaki lagi, tentunya butuh keuletan, ketekunan, dan keberanian, dikarenakan lomba layarnya di lautan yang penuh tantangan membersamai atau berteman dengan angin dan ombak dan pastinya di bawah teriknya mentari, ujarnya lagi.

Kata Kunci (Tags):
pon xxi aceh-sumut, cabor layar, profil kirana wardojo, sumbang 1 emas, raih emas, ilca 6 putri, porlasi aceh,

Berita Terkini

Haba Nanggroe