H Nazaruddin ‘ Dek Gam’: Ini Buah dari Nawaitu dan Kolektifitas

DENPASAR,ACEHHERALD.com – Presiden Klub Persiraja, H Nazaruddin ‘Dek Gam’ mengungkapkan jika keberhasilan skuad Persiraja atau Defri Rizky dkk meretas sejarah dengan merengkuh altar sepakbola paling bergengsi di negeri ini, Liga 1 PSSI, adalah buah dari kolektifitas dan nawaitu serta tekad kuat semua pihak. “Ini adalah produk dari kolektiftas yang melibatkan pemain, pelatih, jajaran manajemen serta … Read more

Iklan Baris

Lensa Warga

Presiden Klub Persiraja, H Nazaruddin Dek Gam

DENPASAR,ACEHHERALD.com – Presiden Klub Persiraja, H Nazaruddin ‘Dek Gam’ mengungkapkan jika keberhasilan skuad Persiraja atau Defri Rizky dkk meretas sejarah dengan merengkuh altar sepakbola paling bergengsi di negeri ini, Liga 1 PSSI, adalah buah dari kolektifitas dan nawaitu serta tekad kuat semua pihak. “Ini adalah produk dari kolektiftas yang melibatkan pemain, pelatih, jajaran manajemen serta supporting semua pihak selama ini,” kata Dekgam yang ditemui media, sejenak usai laga Persiraja-Sriwijaya FC, Senin (25/11/2019).

Menurut Dekgam yang juga anggota DPR RI dari Fraksi PAN itu, setidaknya butuh 12 tahun bagi Persiraja untuk menapak Liga 1.  Dan itu semuanya benar benar dimulai dari nol. Ya….mirip sebuah pepatah, from zero to hero.  “Kami tak punya pemain berkelas, pelatih kelas premium. Modal kami hanyalah tekad yang membaja, nawaitu kolektif yang melibatkan pemain, pengurus atau manajemen, dan pelatih tentunya. Kolektifitas inilah yang membuahkan prestasi hingga menapak altar Liga 1 PSSI,” tutur Dekgam.

Kendala nonteknis yang dihadapi Persiraja, menurut Dekgam juga bukan sedikit, selain skuat yang terbatas jam terbanngnya, juga fasilitas pendukung yang minim. Hingga untuk masuk ke delapan besar sekalipun beberapa waktu lalu, Persiraja yang tergabung dalam wilayah Barat dianggap sebagai Kuda Hitam. “Terus terang, hampir semua biaya klub nyaris saya keluarkan sendiri. Kecuali hal hal insidentil seperti jersey atau lainnya yang ada bantuan pihak ke tiga. Namun bagi saya itu tak masalah, yang lebih diutamakan adalah bangkitnya kebanggaan dan martabat sepakbola rakyat Aceh,” tutur Dekgam, politisi muda yang tahun ini melesat ke Senayan.

Dekgam punya style tersendiri dalam memotivasi para pemainnya. Tak perlu dengan suara keras atau bentakan, namun mendekati para punggawa Layskar Rencong dengan menyentuh sanubari terdalam. “Saya katakan, perjuangan pantang menyerah hingga berdarah darah ini bukanlah untuk manajemen Persiraja atau saya secara pribadi, tapi semua itu adalah untuk lambang di dada kalian. Dan itu menjadi pelecut semangat yang luar biasa,” karena mereka sadar, masuk ke lapangan untuk sebuah misi mengembalikan martabat sepakbola Aceh sekaligus memenuhi ekspektasi 4 juta rakyat Aceh.

Baca Juga:  Waled Husaini Sambut Kepulangan Kafilah MTQ dari Bener Meriah, Apresiasi Sukses Pertahankan Juara Umum

Ketika ditanya perihal cap sebagai tim jago kandang, Presiden Klub Persiraja itu mengatakan, jika itu hanya klaim sepihak. Karena kini secara sahih dibuktikan oleh Psukan besutan Hendri Susilo, bahwa prestasi yang ditoreh saat ini malah ketika tim berada dan bertanding di luar kandang.

Dimulai pada babak delapan besar, Persiraja, kata Dek Gan, mampu membungkam Mitra Kukar 2-0, lalu imbang 2-2 dengan Persewar Waropen, serta imbang tanpa gol dengan Sriwijaya FC hinga memuncaki grup A babak 8 bekasr. Sementara di babak semifinal, pasukan dari Bumi Iskandar Muda itu hanya kalah keberuntungan dari Persik, melalui drama adu penalty’ “Semua itu kami gapai di luar kandang. Jika memang factor teknis jadi patokan, main di luar kandang tak masalah. Intinya, Persiraja bukanlah jago kandang,” tangkis Dek Gam.

 

Penulis                : Nurdinsyam

Editor                   : NUrdisnyam

 

Berita Terkini

Haba Nanggroe